Analisis Puisi Unsur Instrinsik Puisi dan Apresiasi Puisi

Analisis Puisi Unsur Instrinsik Puisi dan Apresiasi Puisi
Analisis Puisi Unsur Instrinsik Puisi dan Apresiasi Puisi
Share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone

Bunyi

Bunyi merupakan salah satu unsur yang menonjol untuk membedakan antara bahasa puisi dan prosa. Bahasa puisi cenderung menggunakan unsur perulangan bunyi. Bunyi memiliki peran antara lain adalah agar puisi terdengar merdu jika dibaca dan didengarkan, sebab pada hakikatnya puisi merupakan salah satu karya seni yang diciptakan untuk didengarkan (Sayuti, 2002).

Sebenarnya puisi hadir untuk disuarakan daripada dibacakan tanpa suara. Dengan cara ini, keindahan puisi dapat dirasakan lebih intensif. Dalam puisi bunyi digunakan sebagai orkestrasi untuk menimbulkan efek bunyi, seperti dalam musik. Kombinasi bunyi-bunyi vokal (asonansi): a,e,i,o,u; bunyi konsonan bersuara (voiced): b, d, g, j; bunyi likuida: r, l, dan bunyi sengau: m, n, ng, ny menimbulkan bunyi merdu dan berirama (efoni). Bunyibunyi yang merdu itu dapat mendukung suasana kasih sayang, gembira, dan bahagia.

Hal ini tampak dalam puisi “Liburan Telah Tiba” perpaduan bunyi dalam puisi tersebut untuk memperkuat efek kegembiraan, kebahagiaan anak-anak sekolah menyambut libur sekolah yang akan segera tiba. Kegembiraan, kebahagiaan, dan antusiasme anak-anak sekolah menyambut liburan setelah mencurahkan segala perhatian, kemampuan, dan lelah untuk menuntut ilmu sangat terasa. Dapat dikatakan seluruh bunyi dalam sajak ini merupakan kombinasi bunyi yang merdu. Dalam bait pertama, kombinasi antara bunyibunyi konsonan /h/ dengan asonansi vokal menimbulkan bunyi yang merdu dan menimbulkan efek kegembiraan, khas anak-anak sekolah. Kehadiran likuida r, l menambah kemerduan bunyi dalam puisi tersebut. Demikian juga pada bait kedua dan tiga rangkaian konsonan dan vokal yang ada mampu menimbulkan orkestrasi bunyi yang merdu efoni. Puncak kegembiraan anak-anak tersebut dihadirkan oleh penyair dalam bait terakhirnya.

Diksi

Unsur diksi adalah pilihan kata atau frase dalam karya sastra (Abrams, 1981). Setiap penyair akan memilih kata-kata yang tepat, sesuai dengan maksud yang ingin diungkapkan dan efek puitis yang ingin dicapai. Diksi juga sering menjadi ciri khas seorang penyair atau zaman tertentu. Diksi merupakan pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan (KBBI, 2005: 264). Diksi yang dipilih penyair bertujuan menghadirkan efek kepuitisan, namun juga untuk mendapatkan nilai estetik. Diksi yang dihadirkan penyair dalam puisi “Liburan Telah Tiba” mudah karena sesuai dengan target pembacanya yaitu anak-anak. Pilihan kata yang digunakan mengandung makna denotasi dan konotasi. Sebagai contoh kata “pagi”, “sekolah”, “lonceng”. Kumpulan asosiasi perasaan yang dilukiskan dalam puisi disampaikan melalui kata yang mengandung makna konotasi, seperti kata “gemuruh” hangat” “memupuk”. Pilihan kata yang bermakna konotasi tersebut dimanfaatkan oleh penyair untuk menunjukkan sikap penyair. Sebagai contoh kata “gemuruh” menimbulkan efek kegembiraan ke sekolah.

Baca Juga : Modul Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Halaman 3

Bahasa Kias

Bahasa kias atau figurative language merupakan penyimpangan dari pemakaian bahasa yang biasa, yang makna kata atau rangkaian katanya digunakan untuk mencapai efek tertentu (Abrams, 1981). Bahasa kias memiliki beberapa jenis yaitu: personifikasi, metafora, perumpamaan, simile, metonimia, sinekdoki, dan alegori (Pradopo, 1978). Bahasa kias yang hadir dalam puisi anak lebih sederhana dibandingkan dengan puisi pada umumnya. Beberapa bahasa kias yang ada dalam puisi anak diantaranya:

Perbandingan/ perumpamaan/simile; yaitu menyamakan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata perbandingan seperti: bagai, bak, seperti, seumpama, laksana, sepantun, dan afiks se- lainnya yang menunjukkan perbandingan. Seperti yang terdapat dalam petikan puisi Annisa Sekar Salsabila di bawah ini.

Sahabat Sejatiku
Sahabat,
Kau bagai malaikat bagiku
Kau bagaikan bidadari untukku
Semua kebajikan ada padamu

Metafora yaitu bahasa kias seperti perbandingan, tetapi tidak menggunakan kata pembanding. Metafora ini melihat sesuatu dengan perantara benda yang lain (Becker, 1978:317). Seperti puisi di bawah ini yang memetaforkan kasih sayang ibu sebagai jasa yang akan terbalas, hutang yang tidak akan terbayar.

IBU
Agus Salim
Ibu …
kasih dan sayangmu padaku
adalah jasa yang tak akan terbalas
adalah hutang yang tak akan terbayar
sungguh banyak yang telah aku terima
Darimu …. wahai ibu

Epos Simile, yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih lanjut dalam kalimat/frase yang berturut-turut. Perhatikan puisi Rustam Effendi berikut ini.

Di Tengah Sunyi
Di tengah sunyi menderu rinduku,
Seperti topan. Meranggutkan dahan
Mencabut akar, meranggutkan kembang kalbuku.

Allegori yaitu kiasan atau lukisan kiasan. Allegori ini biasanya terdapat dalam sajak sajak Pujangga Baru. Sebagai contoh sajak “Teratai” karya Sanusi Pane.

Personifikasi, kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia, benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir, dan sebagainya seperti manusia. Personifikasi ini dipergunakan para penyair dari dahulu hingga sekarang. Personifikasi ini membuat hidup lukisan, di samping itu memberi kejelasan dan memberikan bayangan angan yang konkret. Seperti yang terdapat dalam penggalan puisi karya Rustam Effendi berikut ini.

Anak Molek V
Malas dan malu nyala pelita
Seperti meratap mencuri mata
Seisi kamar berduka cita
Seperti takut, gentar berkata.

Metonimia adalah bahasa kiasan yang jarang dijumpai pemakaiannya dalam puisi, apalagi puisi anak. Dalam bahasa Indonesia metonimia seringkali disebut kiasan pengganti nama. Bahasa kias ini berupa penggunaan sebuah atribut, objek, atau penggunaan sesuatu yang dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut. Contoh penggunaan metonimia dapat dilihat dalam petikan puisi Toto Sudarto Bachtiar berikut ini.

Ibu Kota Senja
Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
……
Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan
Di bawah bayangan samar istana kajang
O, kota kekasih setelah senja

Klakson dan lonceng dapat menggantikan orang atau partai politik yang sedang bersaing adu keras suaranya. Sungai kesayangan mengganti Sungai Ciliwung. Istana mengganti kaum kaya yang memiliki rumah-rumah seperti istana. Kota kekasih adalah Jakarta.

Sinekdoke adalah bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian penting, suatu benda untuk benda atau hal itu sendiri. Sinekdoke dibagi menjadi dua yaitu:
1. Pars pro toto: sebagian untuk keseluruhan
2. Totem pro parte; keselurahan untuk sebagian.
Sebagai contoh pars pro toto dapat dilihat dalam puisi Toto Sudarto Bactiar berikut ini.

Ibu Kota Senja
Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja ….

Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Sebagai contoh penggunaan totem pro parte dapat dilihat dalam petikan puisi Sitor
Situmorang berikut ini.
Kujelajah bumi dan alis kekasih.
Bumi totem pro parte, sedangkan alis kekasih pars pro toto.

Baca Juga : Modul Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Halaman 4

Citraan/Imaji

Citraan merupakan suatu bentuk penggunaan bahasa yang mampu membangkitkan kesan yang konkret terhadap suatu objek, pemandangan, aksi, tindakan, atau pernyataan yang dapat membedakannya dengan pernyataan atau ekspositori yang abstrak dan biasanya ada kaitannya dengan simbolisme (Baldic, via Nurgiyantoro, 2014:276). Unsur citraan merupakan gambaran-gambaran angan dalam puisi yang ditimbulkan melalui kata-kata (Pradopo, 1978). Ada berbagai macam jenis citraan diantarannya:

a. citraan penglihatan (visual imagery)
Citraan visual adalah citraan yang terkait dengan pengonkretan objek yang dapat dilihat oleh mata. Citraan ini merupakan citraan yang paling sering digunakan penyair dibanding citraan lainnya. Citraan penglihatan memberi rangsangan kepada indera penglihatan hingga sering hal-hal yang tak terlihat menjadi seolah-olah terlihat. Contoh penggunaan imaji penglihatan seperti dalam puisi W.S. Rendra di bawah ini.

Ruang diributi jerit dada (imaji pendengaran)
Sambal tomat pada mata
Meleleh air racun dosa

b. citraan pendengaran (auditory imagery)
Citraan pendengaran (auditif) adalah pengonkretan objek bunyi yang didengar oleh telinga. (Nurgiyantoro, 2014:281). Contoh pengunaan imaji pendengaran seperti puisi Amir Hamzah di bawah ini.

Sebab Dikau
Aku boneka engkau boneka
Penghibur dalang mengatur tembang
DI layar kembang bertukar pandang
Hanya selagu, sepanjang dendang
c. citraan gerak (movement/kinestetik imagery)
Citraan gerak (kinestetik) adalah citraan yang terkait dengan pengonkretan objek gerak yang dapat dilihat oleh mata. (Nurgiyantoro, 2014:282). Sebagai contoh dapat dilihat dari petikan puisi karya Ratrya Khansa Amira di bawah ini.

Pahlawan

Kau genggam bambu runcing di tangan kirimu
Keringatmu mencucur deras di tubuhmu
Di tengah teriknya sang mentari kau berperang

d. citraan perabaan (tecticle/thermal imagery)
Citraan rabaan (taktil termal) menunjuk pada pelukisan rabaan secara konkret walau hanya terjadi di imajinasi pembaca. (Nurgiyantoro, 2014:283). Contoh penggunaan citraan rabaan dapat dilihat dalam petikan puisi di bawah ini.

Ada Telgram Tiba Senja
Kapuk randu, Kapuk randu
Selembut tudung cendawan
Kuncup-kuncup di hatiku
Pada mengembang bermekaran

e. Dua citraan lain yang sangat jarang digunakan penyair adalah citraan pengecapan (tactile imagery) dan citraan penciuman (olfactory imagery). Kedua jenis citraan tersebut dapat dilihat dalam petikan puisi karya Subagio Sastrowardoyo di bawah ini.

Citraan pengecapan
Pembicaraan
Hari mekar dan bercahaya
Yang ada hanya sorga. Neraka
Adalah rasa pahit di mulut
Waktu bangun pagi
Citraan penciuman:
Nyayian Suto untuk Fatima
W.S. Rendra
Dua puluh tiga matahari
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah

Sarana Retorika Puisi

Sarana retorika (rhetorical devices) merupakan “muslihat” intelektual, yang dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu: hiperbola, ironi, ambiguitas, paradoks, litotes, dan ellipsis (Altenbernd & Lewis, 1969).

Hiperbola adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlebih-lebihan. Gaya bahasa ini biasanya dipakai jika seseorang bermaksud melebihkan sesuatu yang dimaksudkan dibandingkan keadaan yang sebenarnya dengan maksud untuk menekankan penuturannya. (Nurgiyantoro, 2014:261).

Contoh hiperbola:
Kau genggam bambu runcing di tangan kirimu
Keringatmu mencucur deras di tubuhmu
Di tengah teriknya sang mentari kau berperang

Tautologi, ialah sarana retorika yang menyatakan hal atau keadaan dua kali. Hal ini dimaksudkan supaya arti kata atau keadaan itu lebih mendalam bagi pembaca atau pendengar. Seringkali kata yang dipergunakan untuk mengulang itu tidak sama, tetapi artinya sama atau hampir sama. Misalnya:

Silih berganti tiada henti; tiada kuasa tiada berdaya.

Pleonasme (keterangan berulang) ialah sarana retorika yang sepintas lalu seperti tautologi, tetapi kata yang kedua sebenarnya telah tersimpul dalam kata yang pertama. Dengan cara demikian, sifat atau hal yang dimaksudkan itu lebih terang bagi pembaca atau pendengar. Perhatikan puisi karya St. Takdir Alisjahbana berikut ini.

Dalam Gelombang
Alun bergulung naik meninggi
Turun melembah jauh ke bawah
Lidah ombak menyerak buih
Surut kembali di air gemuruh
Kami mengalun di samud’ra-Mu,
Bersorak gembira tinggi membukit,
Sedih mengaduh jatuh ke bawah,
Silih berganti tiada henti

Enumerasi adalah sarana retorika yang berupa pemecahan suatu hal atau keadaan menjadi beberapa bagian dengan tujuan agar hal atau keadaan itu lebih jelas dan nyata bagi pembaca atau pendengar (Slametmuljana, tt: 25).

Dengan demikian, juga
menguatkan suatu pernyataan atau keadaan, memberi intensitas.
Di dalam suka di dalam duka,
Waktu bahagian waktu merana,
Masa tertawa masa kecewa
Kami berbuai dalam nafasmu

Di situ keadaan itu: Dalam keadaan apapun kami berbuai dalam nafasmu.

Pararelisme (persejajaran) ialah mengulang sisi kalimat yang maksud tujuannya serupa. Kalimat yang berikut hanya dalam satu atau dua kata berlainan dari kalimat yang mendahului (Slametmuljana, tt: 29).

Segala kulihat segala membayang
Segala kupegang segala mengenang

Retorik retisense sarana ini mempergunakan titik-titik banyak untuk mengganti perasaan yang tak terungkapkan. Penyair romantik banyak menggunakan sarana retorika ini.

Semangat
Kidung Kinanti
Sudah berkali-kali berusaha
Sudah berkali-kali mencoba
Sudah berkali-kali berjanji….
Akan membanggakan orangtua

Paradoks merupakan pernyataan yang memiliki makna yang bertentangan dengan apa yang dinyatakan. Perhatikan contoh paradoks berikut. Tidak setiap derita/ jadi luka/ tidak setiap sepi/jadi duri. Ironi adalah pernyataan yang mengandung makna bertentangan dengan apa yang dinyatakannya. Gaya ini juga menampilkan stile yang bermakna kontras. Penggunaan gaya ini dimaksudkan untuk menyindir, mengritik, mengecam, atau sejenisnya. Gaya ironi biasanya tingkat intensitas sindirannya rendah, sedangkan sindiran yang tajam biasanya memakai gaya sarkasme. (Nurgiyantoro, 2014:270).

Contoh ironi:
Sebenarnya aku benci rumah yang memberiku kerinduan untuk pulang.

Makna merupakan wilayah isi sebuah puisi. Setiap puisi pasti memiliki makna. Makna dapat disampaikan secara langsung maupun secara tidak langsung. Makna puisi pada umumnya berkaitan dengan pengalaman dan permasalahan yang dialami dalam kehidupan manusia. Pada umumnya makna puisi baru dapat dipahami setelah seorang pembaca, membaca, memahami arti tiap kata dan kias yang dipakai dalam puisi, serta memperhatikan unsur-unsur puisi lain yang mendukung makna.

Baca Juga : Arsitektur Sistem Guru Pembelajar Moda Daring

Postingan Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*