Pengertian Teori Belajar, Macam-macam Teori Belajar

teori belajar
ilustrasi teori belajar
Share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone

Pengertian Teori Belajar

Teori Belajar  proses pembelajaran merupakan hal yang kompleks, di dalamnya terlibat banyak unsur yang saling terkait, yaitu guru, peserta didik, sarana, metode, strategi, media dan lain-lain. Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 pasal 20 menjelaskan bahwa dalam tugas keprofesionalan guru, guru berkewajiban salah satunya merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Pembelajaran yang sukses senantiasa menuntut kreativitas guru melalui penciptaan lingkungan belajar yang kondusif dan menantang rasa ingin tahu peserta didik sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung efektif. Berdasarkan Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang pembelajaran, kegiatan pembelajaran menggunakan prinsip sebagai berikut: 1) peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu; 2) peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar; 3). proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah; 4). pembelajaran berbasis kompetensi; pembelajaran terpadu; 6). pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi; 7). pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif; 8). peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills; 9). pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat; 10). pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); 11). pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; 12). pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; 13). pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budayapeserta didik; dan 14). suasana belajar menyenangkan dan menantang. llmu Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang materi kajiannya berasal dari struktur keilmuan sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah. Menurut Permendikbud No. 103 Tahun 2014, Pembelajaran IPS diintegrasikan melalui konsep ruang, koneksi antar ruang, dan waktu. Ruang adalah tempat di mana manusia beraktivitas, koneksi antar ruang menggambarkan mobilitas manusia antara satu tempat ke tempat lain, dan waktu menggambarkan masa di mana kehidupan manusia itu terjadi. Cakupan materi yang demikian luas ini harus dikemas melalui kegiatan pembelajaran yang konkret dan menyenangkan sehingga mampu menarik perhatian siswa . Menurut Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang pembelajaran, pada hakikatnya IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran dalam bentuk integrated social studies. Mata pelajaran IPS merupakan program pendidikan yang berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial. Dalam membelajaran IPS menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatan berbasis proses keilmuan. Pendekatan saintifik terdiri atas 5 (lima) tahapan yaitu Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi, Menalar dan Mengkomunikasikan dimana semua tahapan di atas berorientasi kepada aktivitas siswa bukan guru. Peserta didik secara aktif mengkonstruk konsep, hukum ataupun prinsip melalui kelima tahapan di atas dan peran guru adalah sebagai fasilitator bukan satu-satunya seorang yang berkewajiban mentransfer ilmu. Berdasarkan landasan Permendikbud di atas, maka dalam pembelajaran di kelas, guru dapat mengadopsi berbagai macam teori belajar dibawah ini sepanjang aktivitas pembelajarannya mampu mencakup ranah spiritual, sosial, kognitif dan ketrampilan peserta didik dan pembelajaran yang mengaktfkan peserta didik (student active oriented).

Macam-macam Teori Belajar

Sebelum membahas tentang teori belajar, terdapat perbedaan antara Teori Pembelajaran dan Teori Belajar. Menurut Bruner dalam Degeng (1989) terdapat perbedaan antara teori pembelajaran dan teori belajar. Teori pembelajaran adalah preskriptif, karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan dikatakan deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar. Menurut Nara dan Siregar (2014), teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses-proses psikologis dalam diri siswa, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses-proses psikologi dalam diri siswa atau mengungkapkan hubungan antara fenomena yang ada dalam diri siswa. Tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar yang mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses-proses psikologi dalam diri siswa atau mengungkapkan hubungan antara fenomena yang ada dalam diri siswa. Implementasi teori belajar dalam pembelajaran IPS sejalan dengan Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran. Implikasi dari hal tersebut, maka aktivitas pembelajaran diarahkan pada kegiatan yang menggali potensi dari peserta didik meliputi kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial untuk mewujudkan pendidikan yang mencakup 4 (empat) ranah yaitu spiritual, sosial, pengetahuan dan ketrampilan. Dalam prakteknya dengan berlandaskan pada Permendikbud No. 103 Tahun 2014, guru dapat mengadopsi beberapa teori belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, kondisi peserta didik dan karakteristik mata pelajaran yang diajarkan.Terdapat tiga macam teori belajar, yaitu behaviorisme, kognitivisme dan konstruktivisme. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti dan tidak berubah. Pengetahuan adalah terstruktur dan rapi, sehingga belajar hanya sebatas memperoleh pengetahuan, dan mengajar adalah memindahkan pengetahuan kepada peserta didik. Hal ini menyebabkan aktivitas belajar sangat bergantung pada buku teks/wajib dimana peserta didik diminta untuk mengungkapkan kembali isi buku teks wajib tersebut. Penilaian yang dilakukan ditekankan pada hasil belajar bukan pada proses dan dipandang secara terpisah dari kegiatan pembelajaran melalui pengukuran dan pengamatan. Perkembangan dari teori ini, muncullah teori belajar kognitivismeyang berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses interaksi yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktivitas yang melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks. Proses belajar terjadi antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Pada teori konstruktivisme, belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengabstraksi pengalaman sebagai hasil interaksi antara peserta didik dengan realitas baik realitas pribadi, alam, maupun realitas sosial. Proses konstruksi pengetahuan berlangsung secara pribadi maupun sosial. Proses ini adalah proses yang aktif dan dinamis. Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan awal, kemampuan kognitif dan lingkungan sangat berpengaruh dalam proses konstruksi makna. Teori belajar ini dilandasi bahwa manusia sebagai homo creator yang mampu mengkonstruksi realitasnya sendiri. baca lebih lengkap tentang : Teori Belajar Behaviorisme Teori Belajar Kognitivisme Teori Belajar Konstruktivisme   Daftar pustaka Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Djamarah. 2006. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta E. Mulyasa. (2009). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan.Bandung: Remaja Rosdakarya Blog Tips Info Tentang Pendidikan, Belajar Pembelajaran dan Ilmu Pengetahuan! Label:asolihin28@yahoo.com Pendidikan Oemar Hamalik. (1993). Strategi Belajar Mengajar.Bandung: Mandar Maju. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendikbud No.103 Tahun 2014 tentang pedoman pelaksanaan Sanjaya. 2010.Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta :Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Suryabrata, Sumadi. 2001. Psikologi Pendidikan.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Suryosubroto. (2009). Proses Belajar Mengajar di Sekolah.Jakarta : PT Rineka Cipta. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Syaiful Sagala. 2005 . Konsep dan Makna Pembelajaran . Bandung: Penerbit Alfabeta

Postingan Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*