Teori Belajar Kognitivisme

teori belajar kognitivisme

Pengantar Teori Belajar Kognitivisme

Teori Belajar Kognitivisme, Perkembangan teori belajar selanjutnya tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks (Budiningsih, 2015). Teori ini menekankan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Dengan kata lain, menurut pendekatan kognitif dalam kaitannya dengan teori pemrosesan informasi, unsur terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dimiliki oleh setiap indivisdu sesuai dengan situasi belajarnya. Apa yang diketahui siswa akan menentukan apa yang akan diperhatikannya, dipersepsi olehnya, dipelajari, diingat atau bahkan dilupakan (Hariyanto, Suyono, 2014).

Sebagai contoh, pada Tema Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia maka peserta didik diminta untuk mengamati pada keadaan alam seperti apa mereka tinggal lalu peserta didik dminta untuk menyebutkan mata pencaharian penduduk sekitarnya atau bahkan kedua orang tuanya. Dengan memberikan pemahaman berangkat dari pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik guru memberikan penguatan tentang tema yang sedang dibahas.

Saekhan Muchith (2008) dalam Munir Fatinah (2012), menyatakan bahwa teori belajar kognitivisme secara umum proses pembelajarannya harus didasarkan pada asumsi sebagai berikut:
1) Proses pembelajaran adalah suatu realitas sistem. Artinya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh satu faktor, tetapi ditentukan oleh berbagai faktor yang ada.
2) Proses pembelajaran adalah realitas kultur dan natural. Artinya, dalam proses pembelajaran tidak diperlukan berbagai paksaan.
3) Pengembangan materi harus benar-benar dilakukan secara kontekstual dan relevan dengan realitas kehidupan peserta didik.
4) Metode pembelajaran tidak dilakukan secara monoton. Metode yang bervariasi merupakan tuntutan mutlak dalam proses pembelajaran.
5) Keterlibatan murid secara aktif dalam belajar amat dipentingkan. Hal ini dikarenakan asimiliasi dan akomodasi pengalaman murid akan lebih baik jika murid aktif dalam belajar.
6) Belajar memahami akan lebih bermakna daripada belajar menghapal. Agar lebih bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui murid.
7) Pembelajaran harus memperhatikan perbedaan individual murid.

 Hasil Pemikiran Para Ahli Teori Belajar Kognitivisme Dalam Praktek Pembelajaran

Teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan-rumusan oleh beberapa pakar antara lain: teori tahap-tahap perkembangan (Piaget) dan pemahaman konsep (Burner). Teori Belajar Kognitivisme
a) Piaget Piaget adalah ahli psikolog developmental karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif. Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap: a) Tahap sensory – motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana. b) Tahap pre – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya simbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak. c) Tahap concrete – operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif. d) Tahap formal – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola pikir kemungkinan. Piaget juga mengemukakan teori mengenai proses kognitif, terkait adaptasi seseorang dengan lingkungannya yang berlangsung simultan yang dikenal dengan proses kognitif.

Menurut Piaget, proses kognitif ketika anak mengkontruksi pengetahuannya melibatkan skema, asimilasi dan akomodasi, organisasi dan ekuilibrium. Teori Belajar Kognitivisme
a) Skema adalah kegiatan atau representasi mental dalam menyusun pengetahuan; skema atau skemata dalam bentuk jamak adalah struktur pengetahuan yang disimpan dalam ingatan. b) Asimilasi adalah proses kognitif yang mencocokkan informasi yang diterima dengan informasi yang telah ada dalam struktur pengetahuan (skema). c) Akomodasi adalah proses yang terjadi dalam menggunakan informasi yang telah ada untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Jika pada suatu hal apabila informasi yang ada tidak dapat digunakan untuk memecahkan masalah, lalu individu akan mencari cara lain untuk memecahkan masalah. d) Ekuilibrium adalah sebuah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.Teori Piaget juga menjelaskan mengenai pengorganisasian, yaitu mengelompokkan perilaku dan berpikir melalui tingkat berpikir yang lebih tinggi. Pengorganisasian secara kognitif ini diperlukan seseorang untuk bisa memahami dunia sekitar.

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
(a) Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh sebab itu guru dalam mengajar harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak. (b) Anak-anak akan belajar lebih baik apabila menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak mengakomodasikan agar anak dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. (c) Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan sebagai bahan baru tetapi tidak asing. (d) Berikan peluang agar anak belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. (e) Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temannya. b) Teori Belajar Penemuan oleh Bruner Bruner menegaskan teori pembelajaran secara penemuan yaitu mengolah apa yang diketahui pelajar itu kepada satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme). Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan lama, dan mempunyai efek transfer yang lebih baik. Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan kemampuan berfikir secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah.

Dalam teori belajarnya Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan, antara lain: (a) Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat. (b) Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik. (c) Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Teori Belajar Kognitivisme

Sedangkan kegiatan pembelajarannya kognitif mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut: a) Siswa bukan sebagai orang dewasa muda dalam proses berfikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu. b) Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda kongkrit. c) Keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran amat dipentingkan karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik d) Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimimiki oleh siswa e) Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks f) Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Tugas guru adalah menunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa

Contoh Teori Penemuan oleh Bruner adalah Pembelajaran IPS dengan menggunakan Model Discovery Learning dimana lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui oleh peserta didik. Pada Tema Potensi dan upaya Indonesia menjadi Negara Maju, sub Tema Potensi budaya Indonesia dan Pemanfaatannya peserta didik diminta untuk menyebutkan benda ataupun aktivitas penduduk di sekelilingnya maupun bahasa daerah di mana peserta didik tinggal. Peserta didik akan menganalisis bermacam aktivitas misalnya membatik, menenun, pengrajin tanah liat, dan sebagainya sebagai unsur dari budaya. Setelah peserta didik menganalisis unsur budaya tersebut maka guru melakukan penguatan tentang konsep budaya.

Postingan Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *