Teori Belajar Behaviorisme

teori belajar behaviorisme
ilustrasi teori belajar behaviorisme
Share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone

Pengantar Teori Belajar Behaviorisme

Teori belajar behaviorisme para ahli berpendapat bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus (S) dengan respon (R). Belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan rangsangan yang berupa serangkaian kegiatan yang bertujuan mendapatkan respon belajar dari obyek penelitian (Suyono dan Harianto, 2014). Dalam Siregar dan Nara (2014), teori belajar behavioristik diartikan sebagai perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya stimulus dan respons. Berdasarkan kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa menurut teori ini, seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Sebagai contoh, peserta didik belajar tentang konsep kebutuhan dan keinginan dalam salah satu kajian IPS pada ilmu ekonomi. Dalam pembelajaran tersebut guru telah merancang aktivitas pembelajaran sedemikian rupa sehingga peserta didik mampu membedakan antara konsep kebutuhan dan keinginan. Namun, jika peserta didik tersebut masih berlaku boros membelanjakan uang sakunya untuk membeli barang-barang yang hanya didasarkan pada keinginan bukan kebutuhan, maka dapat dikatakan peserta didik tersebut belum menunjukkan perilaku sebagai hasil dari belajar. teori belajar behaviorisme Terdapat beberapa ahli yang mengembangkan teori ini antara lain Thorndike, Ivan Pavlov, B.F Skinner, J.B Watson, Clark Hull dan Edwin Guthrie yang apabila digambarkan dalam sebuah bagan sederhana oleh Deviesta dan Thompson (1979) adalah sebagai berikut :

Hasil Pemikiran para ahli Teori Belajar Behaviorisme

a) Connectionism oleh Thorndike Teori belajar behaviorisme Koneksionisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun behaviorisme. Thorndike berpendapat belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi (connections) antar stimulus dan respons, salah satu pemikirannya adalah tentang ”trial and error learning” (Soemanto, 1988). Karakteristik belajar mencoba-coba : 1). Adanya motif pada diri seseorang yang mendorong untuk melakukan sesuatu, 2). Seseorang berusaha melakukan berbagai macam respons dalam rangka memenuhi motif-motifnya, 3). Pengalaman, Praktik, latihan (learning experiences) Perilaku/pribadi setelah belajar Respons-respons yang dirasakan tidak bersesuaian dengan motifnya dihilangkan dan 4) Akhirnya seseorang mendapatkan jenis respons yang paling tepat. (Hariyanto dan Suyono, 2015) Thorndike juga mengemukakan beberapa hukum tentang belajar : 1) Hukum Kesiapan (Law of Readiness) , jika seseorang siap melakukan sesuatu, ketika ia melakukannya ia puas. Sebaliknya, bila ia tidak jadi melakukannya, maka ia tidak puas. Contohnya : seorang peserta didik telah mempersiapkan presentasinya tentang Potensi Indonesia menjadi Negara maju melalui studi literatur dan mencari artikel melalui internet, namun peserta didik tersebut gagal presentasi karena teman sekelompoknya yang maju menggantikannya. 2) Hukum Latihan (Law of exercise), jika respons terhadap stimulus diulang-ulang, maka akan memperkuat hubungan antara respons dengan stimulus. Sebaliknya jika respons tidak digunakan, hubungan dengan stimulus semakin lemah. Contohnya : guru yang selalu melakukan refleksi tentang materi belajar pertemuan sebelumnya di awal pembelajaran akan membuat peserta didik senantiasa mengingat dan dapat menghubungkan dengan materi pembelajaran yang diperoleh pada saat ini. 3) Hukum Akibat (Law of Effect), bila hubungan antara respons dan stimulus menimbulkan kepuasan, maka tingkatan penguatannya semakin besar. Sebaliknya, bila hubungan respons dan stimulus menimbulkan ketidakpuasan, maka tingkatan penguatan semakin lemah. Contoh : peserta didik yang mendapat nilai tinggi akan semakin menyukai pelajaran, namun jika perolehannya rendah, maka peserta didik akan semakin malas belajar atau malah menghindari pelajaran tersebut. b) Clasiccal Conditioning oleh Ivan Pavlov Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil daripada conditioning, yaitu hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya dalam kehidupannya. Proses belajar yang digambarkan seperti itu menurut Pavlov terdiri atas pembentukan asosiasi antara stimulus dan respons refleksif (https://oktavianipratama.wordpress.com/makalah-makalah/teori-belajar-ivan petrovich-pavlov). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan-latihan yang continue (terus-menerus). Yang diutamakan dalm teori ini adalah hal belajar yeng terjadi secara otomatis.Belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan perilaku atau respons terhadap sesuatu, kebiasaan makan, mandi maupun kegiatan belajar pada jam tertentu terbentuk karena pengkondisian. Metode Pavlov ini sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian. teori belajar behaviorisme Penerapan teori belajar Pavlov yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. c) Operant Conditioning oleh Skinner Teori ini didasari oleh adanya penguatan (reinforcement), perbedaan dengan teori Pavlov adalah, jika teori Pavlov yang diberi kondisi adalah stimulusnya maka pada teori ini yang diberi kondisi adalah responsnya. Misalnya, karena seorang anak belajar dengan giat maka dia mampu menjawab banyak atau semua pertanyaan dalam ulangan atau ujian. Guru kemudian memberikan penghargaan (sebagai penguatan terhadap respon) kepada anak tersebut dengan nilai tinggi, pujian atau hadiah. Berkat pemberian penghargaan ini, anak akan menjadi lebih rajin. Ahli behavioristik ini tidak sependapat dengan konsep hukuman sebagai alat pembelajaran karena 1) pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara, 2) dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi menjadi bagian dari jiwa si terhukum, 3) hukuman bahkan mendorong si terhukum untuk mencari cara lain, dengan kata lain hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang lebih buruk daripada kesalahan yang telah diperbuat. Dalam Skinner diketahui adanya penguatan negative dan penguatan positif dibandingkan dengan memberikan hukuman, dalam Nuryadi (2009) dijelaskan sebagai berikut : teori belajar behaviorisme Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb). Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll). teori belajar behaviorisme Pengertian Teori Belajar, Macam-macam Teori Belajar Teori Belajar Behaviorisme Teori Belajar Kognitivisme Teori Belajar Konstruktivisme Daftar pustaka Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Djamarah. 2006. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta E. Mulyasa. (2009). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan.Bandung: Remaja Rosdakarya Blog Tips Info Tentang Pendidikan, Belajar Pembelajaran dan Ilmu Pengetahuan! Label:asolihin28@yahoo.com Pendidikan Oemar Hamalik. (1993). Strategi Belajar Mengajar.Bandung: Mandar Maju. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendikbud No.103 Tahun 2014 tentang pedoman pelaksanaan Sanjaya. 2010.Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta :Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Suryabrata, Sumadi. 2001. Psikologi Pendidikan.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Suryosubroto. (2009). Proses Belajar Mengajar di Sekolah.Jakarta : PT Rineka Cipta. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Syaiful Sagala. 2005 . Konsep dan Makna Pembelajaran . Bandung: Penerbit Alfabeta

Postingan Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*