Prinsip Pembelajaran Interaktif Dan Inovatif

Prinsip Pembelajaran Interaktif Dan Inovatif
Prinsip Pembelajaran Interaktif Dan Inovatif
Share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone

Pembelajaran yang tidak variatif, membosankan, partisipasi peserta didik yang pasif, terjadi proses transfer pengetahuan merupakan beberapa ciri dari prinsip pembelajaran yang tidak inovatif. Pembelajaran inovatif tidak selalu berarti penerapan metode pembelajaran yang benar-benar baru namun lebih dari perubahan yang terjadi pada pembelajaran konvensional ke prinsip pembelajaran aktif dan interaktif. Pembelajaran aktif yang dimaksudkan adalah pembelajaran yang dapat melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga terjadi interaksi yang interaktif antar peserta didik, antar peserta didik dengan pengajar. Perubahan pembelajaran langsung atau pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru kepada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik merupakan indikator utama terjadinya inovasi pembelajaran. Perhatikan ilustrasi berikut dan identifikasi hal-hal inovatif apa yang telah dilakukan oleh pengajar.

Ada tiga istilah penting yang perlu diketahui oelh pengajar yaitu discovery, invention, dan inovation. Discovery terkait dengan penemuan sesuatu yang baru tetapi sesungguhnya sesuatu yang ditemukan itu sudah ada. Misalnya penemuan obat kanker pada benalu teh. Zat anti kanker tersebut sudah ada di tanaman benalu teh tetapi belum diisolasi oleh orang. Orang yang mengisolasi pertama itu kemudian dinyatakan sebagai penemunya. Invention adalah penemuan karya cipta manusia yang benar-benar baru. Penemuan pesawat telefon merupakan salah satu invensi pada jamannya karena sebelum itu benda itu belum ada. Bagaimana dengan inovation? Inovation atau inovasi merupakan suatu (bisa gagasan, benda, atau kegiatan) yang dinyatakan oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai sesuatu yang baru walaupun di tempat lain bukan sesuatu yang baru. Misalnya pemotong daerah yang biasanya hanya memotong rumput dengan sabit. Begitu pula dengan model pembelajaran kooperatif, bagi sekolah yang sudah biasa menerapkan model itu bukanlah sebagai pembelajaran yang inovatif tetapi bagi sekolah yang biasanya melaksanakan pembelajaran konvensional maka penerapan pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang inovatif.

Dalam pengembangan prinsip pembelajaran inovatif model-model yang digunakan bukanlah hal yang baru tetapi baru dicobakan pada sekolah-sekolah yang sebelumnya belum pernah membelajarkan materi dengan model pembelajaran berorientasi konstruktivistik. Perubahan paradigma pembelajaran behavioristik menjadi pembelajaran konstruktivistik menunjukkan adanya inovasi. Perubahan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran berpusat pada guru kepada pendekatan pembelajaran berpusat pada peserta didik menunjukkan adanya inovasi dalam pembelajaran.

Sedangkan pembelajaran interaktif mengacu pada interaksi antara peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan pengajar, atau juga peserta didik dengan media/sumber belajar. Interaksi yang pertama terjadi bila pengajar memberikan kondisi dimana peserta didik memungkinkan melakukan kegiatan bertanya, menanggapi, mendiskusikan, atau mempresentasikan materi. Pembelajaran dengan pendekatan berpusat pada peserta didik mendorong peserta didik dapat melakukan interaksi ke segala arah (antar teman, pengajar, dan media). Interaksi pengajar dengan peserta didik dapat berjalan dengan baik bila pengajar tidak mendominasi kegiatan belajar dengan cara menyajikan banyak informasi. Pengajar diharapkan dapat mengarahkan peserta didik membangun konsep menggunakan olah pikirnya. Sedangkan interaksi peserta didik dengan media atau sumber belajar dapat terjadi bila pada pembelajaran digunakan alat bantu media atau alat seperti komputer. Dengan media atau alat peserta didik dapat mengumpulkan data untuk membangun konsep. Demikian pula dengan sumber belajar baik elektronik maupun cetak interaksi terjadi bila pengajar menciptakan kondisi belajar dimana peserta didik diberikan kesempatan membaca, mencari referensi melalui internet, atau menelusuri buku-buku di perpustakaan. Penugasan secara terstruktur dapat mendorong terjadinya interaksi peserta didik dengan media/sumber belajar.

Pengembangan prinsip pembelajaran inovatif dan interaktif dapat dilakukan dengan merancang penyajian materi yang akan dibelajarkan mengikuti langkah-langkah yang dinyatakan oleh Johnstone (1993). Anda sudah mengenal pendekatan pembelajaran kontekstual dimana peserta didik disajikan fakta terlebih dahulu. Pada segitiga Johnstone juga dilakukan hal serupa yaitu penyajian fakta. Bila dikaji dari psikologi belajar, fakta atau data yang dikenal oleh pebelajar sehari-hari dapat memudahkan mereka membangun konsep karena konsepkonsep dalam fakta tersebut sudah mereka ketahui. Dalam pembelajaran akan terjadi proses pendalaman dan perluasan dari konsep yang telah dimiliki dengan konsep-konsep yang akan dipelajari. Selain itu, pembelajaran yang dimulai dengan penyajian fakta maka akan dapat menarik perhatian pebelajar atau membangkitkan rasa ingintahunya. Adanya rasa ingin tahu dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa sehingga mereka dapat terlibat secara mendalam atau terjadi engage learning. Bila keadaan seperti itu terjadi dalam pembelajaran maka pengajar telah melakukan inovasi karena terjadi perubahan proses dari kelas yang pasif dengan partisipasi peserta didik rendah ke keadaan interaktif dan produktif.

Baca Juga : LK 4.1 Dinamika Kehidupan Global Guru Pembelajar

Postingan Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*