Prinsip Orientasi dan Mobilitas Bagi Penyandang Tunanetra

Prinsip Orientasi dan Mobilitas Tunanetra
Prinsip Orientasi dan Mobilitas Tunanetra
Share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone

Prinsip orientasi dan mobilitas tunanetra adalah bahwa pada akhirnya penyandang tunanetra terlatih untuk selalu bertanya pada dirinya sendiri sebelum bergerak untuk berjalan atau melawat, dengan pertanyaan tentang :
Where am I ? ( Dimana saya berada? )
Where is my objective? (Kemana tujuan saya?)
How do I get there? (Bagaimana saya sampai kesana?)
Dari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, penyandang tunanetra dapat membuat suatu rencana perjalanannya. Penyandang tunanetra perlu mengetahui ciri medan dan beberapa petunjuk yang dapat membantunya. Penyandang tunanetra harus sudah mempunyai citra tubuh, mengetahui arah mata angin dengan baik dan juga harus mempunyai kemampuan untuk membaca peta atau denah timbul dengan terampil. Bila tidak maka penyandang tunanetra yang bersangkutan mudah tersesat.

Kemampuan orientasi dan mobilitas bagi tunanetra berhubungan erat dengan kesiapan mental dan fisiknya. Demikian pula kemampuan mental dan fisik dapat berakibat pada proses kognisi dan keterampilan dari individu tunanetra. Kemudian untuk implementasi orientasi dan mobilitas harus terintegrasi sebagai satu kesatuan yang dibutuhkan bagi tunanetra. Oleh karena itu prinsip dasar orientasi dan mobilitas bagi tunanetra yang dipertegas oleh Raharja dalam Sudarti (2015), yaitu kemampuan bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan semua indera yang masih ada untuk menentukan posisi seseorang terhadap benda-benda penting yang di sekitarnya baik secara temporal maupun spasial.

Berdasar prinsip di atas, maka aspek pengetahuan yang diperlukan untuk mempermudah individu tunanetra mengembangkan kemampuan dalam kehidupan sehari-hari yang pengarusutamaannyaterfokus pada orientasi ini dikelompokkan ke dalam 6 komponen (Hosni,2013), yaitu: Landmark (ciri medan), Clues (tanda-tanda), Numbering system (sistem penomoran), Measurement (pengukuran), Compas Direction (arah mata angin), dan Self Familiarization (memfamiliarkan diri)

1) Landmark (ciri medan)

a) PengertianLandmark (ciri medan)

Merupakan semua objek, benda atau rangsangan indera (bau-baunya, suara-suaranya, suhu atau petunjuk-petunjuk taktual tertentu yang bersifat konstan (tetap) dan sudah dikenal, mudah ditemukan (sudah diketahui dan tetap lokasinya) di lingkungan tersebut. lokasi-lokasi yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dibedakan dari lokasi-lokasi lain.

b) Prinsip-Prinsip Landmark (ciri medan)

  • (1) Sifatnya konstan dan permanent, Konstan artinya tetap lokasinya, ini kecenderungan ditujukan pada benda yang tidak bisa diraba, seperti bau-bauan, suara, dan sebagainya. Permanen artinya sesuatu objek yang dijadikan Landmark harus sesuatu objek yang tidak bisa pindah atau dipindahkan.
  • (2) Sesuatu yang dijadikan Landmark mempunyai ciri khas yang dapat membedakan suatu objek dari objek lain atau membedakan dua objek yang mempunyai jenis yang sama.
  • (3) Ciri tertentu yang dijadikan Landmark dapat dikenal melalui indera yang masih berfungsi, seperti taktual, visual, auditoris, penciuman atau kombinasi.
  • (4) Landmark mudah ditemukan, artinya sesuatu yang dijadikan Landmark letaknya tidak tersembunyi atau jauh dari jangkauan tunanetra.

c) Prasyarat menguasai Landmark

Kemampuan dan pengetahuan dasar sebagai salah satu prasyarat menguasai Landmark(ciri medan) bagi tunanetra, antara lain.

  • (1) Ingatan penginderaan yang kuat
  • (2) Memahami konsep tentang posisi yang relatif
  • (3) Kesadaran akan dasar-dasar hubungan ruang
  • (4) Konsep tentang objek yang permanen dan konstan (tidak dapat pindah dan dipindahkan)
  • (5) Kesadaran akan jarak
  • (6) Lokasi suara
  • (7) Penggunaan petunjuk mata angin
  • (8) Mampu menjelaskan dengan pola yang sistematis
  • (9) Kemampuan mengidentifikasi ciri khas suatu objek untuk dapat dijadikan Landmark

 d) Penggunaan dan kegunaan khusus Landmark

  • (1) untuk menetapkan dan memperoleh orientasi arah
  • (2) untuk dijadikan point of reference
  • (3) untuk menetapkan dan memperoleh hubungan arah
  • (4) untuk menemukan/mengetahui letak tujuan tertentu
  • (5) untuk mengorientasi atau reorientasi diri sendiri pada suatu daerah
  • (6) untuk memperoleh informasi tentang kesamaan suatu daerah

Baca : Kisi-kisi Materi PLPG Untuk Guru Mata Pelajaran IPS

2) Clues (tanda-tanda)

 a) Pengertian Clues (tanda-tanda)

Clues merupakan suatu rangsangan auditoris (bunyi/suara), rangsangan taktual, bau, temperatur, kinestetik, rangsangan visual yang mengenai indera dan yang segera dapat diubah menjadi petunjuk untuk menetapkan suatu posisi atau suatu garis arah (prinsip orientasi dan mobilitas tunanetra)

b) Prinsip-prinsipClues (tanda-tanda)

  • (1) Suatu Clues (tanda-tanda) dapat bersifat dinamis atau tetap, objek atau stimulus yang dijadikan Clues (tanda-tanda) dapat sesuatu yang bergerak atau menetap
  • (2) Suatu cluesdapat digunakan secara fungsional apabila sumber dari Clues (tanda-tanda) sudah dikenal. Clues (tanda-tanda) belum berfungsi dalam menetapkan posisi atau garis pengarah
  • (3) Semua perangsang yang diterima oleh indera-indera tidak mempunyai nilai petunjuk sama, ada yang dominan sebagai Clues (tanda-tanda) dan ada yang kurang berfungsi sebagai Clues (tanda-tanda), serta ada yang sama sekali tidak dapat digunakan sebagai Clues (tanda-tanda)

c) Pengetahuan yang dibutuhkan/prasyarat untuk menguasai Clues (tanda-tanda) Untuk dapat memilih, menetapkan dan menggunakan suatu Clues (tandatanda) diperlukan beberapa pengetahuan dan keterampilan sebagai prasyarat, yaitu.

  • (1) Perkembangan penginderaan yang baik
  • (2) Kesadaran sensoris
  • (3) Mengenal suatu perangsang-perangsang yang umum

d) Penggunaan khusus Clues (tanda-tanda)

Kemampuan untuk memahami dan menggunakan Clues (tanda-tanda) ini mempunyai manfaat dalam membantu tunanetra, antara lain.

  • (1) Menemukan arah
  • (2) Menentukan posisi diri dalam lingkungan
  • (3) Memperoleh orientasi arah
  • (4) Menentukan line of direction (garis pengarah)
  • (5) Dapat memproyeksi lingkungan yang akan dimasuki
  • (6) Untuk menemukan tujuan tertentu
  • (7) Untuk reorientasi diri pada suatu lingkungan
  • (8) Untuk mendapatkan informasi sehubungan dengan lingkungan

Baca : Ide Perubahan Pembelajaran untuk Mendorong Perubahan Kelas

3) Sistem penomoran (Numbering system)

 a) Pengertian sistem penomoran (Numbering system)

Merupakan pola pengaturan susunan nomer dan urutan ruang/bangunan dalam gedung maupun dalam satu komplek. Sesuatu yang saling terkait dan mempengaruhi di antara komponennya. Seperti sistem penomeran dikenal 2 macam, yaitu dalam ruang (indoor numbering system), ini apabila tunanetra ada dalam ruang. Sebaliknya apabila sistem penomoran di luar ruang ( outdoor numbering system), tunanetra ada di luar ruang. Dalam pola penomoran yang berlaku seperti di Indonesia nomer ganjil untuk sisi kiri dan genap untuk sisi jalan sebelah kanan (ganjil genap saling berseberangan) (prinsip orientasi dan mobilitas tunanetra)

b) Prinsip-prinsip sistem penomeran

  • (1) Mempunyai titik awal (focal point), ini diawali dari dekat pintu masuk atau daripertemuan antara 2 koridor dalam ruang, dari pintu gerbang suatu kompleks/kampus atau jalan utama
  • (2) nomer ganjil dan genap saling berseberangan
  • (3) nomer biasanya bertambah dari titik awal dengan urutan dua-dua
  • (4) secara mendasar nomor dimulai dari 0-99 pada lantai dasar bawah tanah, seperti di hotel

c) Prasyarat untuk keterampilan sistem penomeran

Beberapa syarat yang perlu dimiliki tunanetra agar dapat mengembangkan sistem penomeran, antara lain.

  • (1) kemampuan untuk menghitung
  • (2) memiliki konsep tentang bilangan ganjil dan genap
  • (3) memiliki keterampilan sosial untuk minta bantuan seefektif mungkin
  • (4) memiliki pengetahuan dasar dan pemahaman susunan gedung pada umumnya
  • (5) terampil berjalan mandiri
  • (6) mempunyai kesadaran jarak artinya dapat menghubungkan antara waktu, langkah dan jarak tempuh
  • (7) mampu berbelok 90 derajat dan berputar 180 derajat dengan tepat
  • (8) mampu menggunakan teknik melindungi diri dengan baik
  • (9) mempunyai konsep ruang dan arah

Baca : Sistem dan Teknologi Informasi Terpadu Untuk Pendidikan

4) Measurement (pengukuran)

a) Pengertian measurement (pengukuran)

Merupakan proses mengukur untuk mengetahui dimensi yang tepat dan benar dari suatu objek dengan menggunakan ukuran tertentu.

b) Prinsip-prinsip measurement (pengukuran) Ini dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

  • (1) Measurement (pengukuran) dengan standar unit, misal meter, jengkal
  • (2) Comparative measurement (pengukuran), seperti lebih pendek, lebih panjang
  • (3) Linear measurement (pengukuran) digunakan untuk menunjukkan 3 dimensi dasar, yaitu tinggi, panjang dan lebar

c) Prasyarat untuk measurement (pengukuran)

  • (1) kemampuan menghitung
  • (2) memahami konsep tentang nilai relatif dari suatu bilangan
  • (3) kemampuan menambah, mengurangi, mengalikan atau membagi
  • (4) memiliki konsep yang jelas tentang dimensi dan kemampuan untuk menerapkan konsep
  • (5) memahami tentang standar satuan ukuran dan hubungan antara satuan satuan tersebut
  • (6) memiliki kesadaran kinestetic dan kesadaran tactual

d) Kegunaan khusus dari measurement (pengukuran)

  • (1) menentukan atau mengira-ngira dimensi dari suatu area yang akan mempengaruhi gerak anak di dalam area tersebut
  • (2) menentukan teknik mobilitas apa yang sesuai untuk suatu area tertentu
  • (3) memperoleh konsep sangat akurat untuk objek-objek tertentu dan hubungan objek-objek tersebut
  • (4) memperoleh konsep yang jelas tentang ukuran suatu objek dihubungkan dengan ukuran badan

Baca : Strategi Pendidikan SMK untuk Mencapai Sasaran Strategis

5) Compas Direction (arah mata angin)

a) Pengertian Compas Direction (arah mata angin) Merupakan arah-arah khusus yang ditentukan oleh gerak magnetik dari bumi. Kemudian 4 Compas Direction (arah mata angin), yaitu utara, barat, selatan dan timur.

b) Prinsip-prinsip Compas Direction (arah mata angin/penggunaan kompas). Compas Direction (arah mata angin/penggunaan kompas) itu tetap sifatnya dan dapat dialihkan dari suatu lingkungan ke lingkungan lain. BerdasarkanCompas Direction (arah mata angin/penggunaan kompas) ada prinsip berlawanan (prinsip orientasi dan mobilitas tunanetra), yaitu.

  • (1) Barat dan timur sebagai dua ujung yang berlawanan
  • (2) utara dan selatan sebagai baris barat dan timur adalah paralel, juga garis utara dan selatan.
  • (3) Garis barat-timur sebagai tegak lurus dari garis utara-selatan.

c) Prasyarat untuk Compas Direction (arah mata angin/ penggunaan kompas)

  • (1) Memahami posisi kiri, kanan, depan dan belakang
  • (2) Memahami konsep garis lurus
  • (3) Memahami dan mampu melakukan putaran 90derajat dan 180 derajat
  • (4) Memahami pengertian paralel, garis tegak lurus dan siku
  • (5) Memahami posisi yang tepat dan posisi yang relatif serta hubungan antara suatu benda terhadap posisi badan
  • (6) Memahami bahwa gerak akan mengubah relasi posisi terhadap objek-objek atau tempat-tempat
  • (7) Memahami konsep berlawanan
  • (8) Memahami konsep mata angin utama
  • (9) Memahami akibat gerakan membalik terhadap hubungannya dengan arah
  • (10) Adanya kesadaran tubuh yang baik

Baca : Contoh Lengkap Penyusunan Renstra Untuk Sekolah Modern

6) Self familiarization(memfamiliarkan diri)

Tunanetra tidak akan mengalami kesulitan untuk bergerak berpindah tempat di dalam suatu lingkungan yang sudah dikenalnya dan tidak asing lagi bagi dirinya. Kemampuan orientasi dengan cepat untuk mempelajari, mengenal dan menyesuaikan diri pada suatu hal yang baru.Komponen orientasi secara komprehensif sebagai dasar dari Self familiarization process. Realisasi kognisi orientasi untuk tunanetra diwujudkan dalam proses berpikir dan mengolah informasi di lingkungannya mengandung tiga unsur pertanyaan yang prinsip, yaitu.

  • Where am I (di mana saya)
  • Where is my objective (di mana tujuan saya)
  • How do I get there (bagaimana saya dapat sampai ke tujuan tersebut)

Pengkondisian tunanetra dari prinsip-prinsip tersebut dapat diartikan seperti (prinsip orientasi dan mobilitas tunanetra)

  1. di mana posisinya dalam ruang,
  2. di mana tujuan yang dikehendaki dalam ruang tersebut,
  3.  susunan langkah atau jalan yang tepat dari posisi sekarang sampai ke tujuan yang dikehendaki.

Baca : Orientasi Dan Mobilitas Bagi Penyandang Tunanetra

Postingan Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*