Sekolah Terapkan Penguatan Pendidikan Karakter

Sekolah Terapkan Penguatan Pendidikan Karakter

Bagaimana penerapan konsep program Penguatan Pendidikan Karakter?

Model PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) tidak mengharuskan siswa untuk terus menerus belajar di kelas. Namun mendorong agar siswa dapat menumbuh kembangkan karakter positifnya melalui berbagai kegiatan ko-kurikuler, ekstrakurikuler dalam pembinaan guru. Perlu dipahami, bahwa pendidikan karakter sudah dilaksanakan di seluruh persekolahan. Namun, perlu dilakukan upaya terobosan agar pendidikan karakter ini bisa dilaksanakan secara konsisten oleh sekolah dan memberikan dampak yang nyata.

Seberapa penting pendidikan karakter dan kepribadian bagi anak?
Pendidikan karakter merupakan kunci yang sangat penting di dalam membentuk kepribadian anak. Selain di rumah, pendidikan karakter juga perlu diterapkan di sekolah dan lingkungan sosial. Pada hakekatnya, pendidikan memiliki tujuan untuk membantu manusia menjadi cerdas dan tumbuh menjadi insan yang baik. Dalam rangka mempersiapkan Generasi Emas 2045, pemerintah menguatkan karakter generasi muda agar memiliki keunggulan dalam persaingan global abad 21. Selain lima nilai utama karakter, melalui PPK, pemerintah mendorong peningkatan literasi dasar, kompetensi berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaborasi generasi muda

Adakah sekolah percontohan penerapan program PPK?
Di tahun 2016 sebanyak 542 sekolah (SD dan SMP) telah tergabung menjadi sekolah percontohan penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter. Sekolah-sekolah tersebut merupakan sekolah yang telah menerapkan berbagai praktik baik pendidikan karakter sehingga diharapkan mampu menjadi contoh/teladan dan menularkan “virus kebaikan” dalam penerapan PPK di sekitarnya. Sekolah-sekolah yang dipilih juga ditentukan berdasarkan keterwakilan provinsi, kondisi geografis, maupun status sekolah negeri dan swasta.

Apakah program PPK wajib diterapkan oleh seluruh sekolah?
Penguatan Pendidikan Karakter akan dilaksanakan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing sekolah. Program PPK diharapkan dapat mendorong kualitas pendidikan yang merata di seluruh Indonesia. Setiap sekolah, baik negeri maupun swasta, memiliki hak yang sama untuk menerapkan program yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental di bidang pendidikan ini.

Bagaimana tugas dan peran guru serta kepala sekolah dalam implementasi PPK?
Guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran di kelas dan mampu mengelola manajemen kelas. Kepala Sekolah dapat mendesain budaya sekolah yang menjadi ciri khas dan keunggulan sekolah tersebut. Lalu, Sekolah mampu mendesain pelibatan publik guna meningkatkan peran orang tua dan masyarakat.

Bagaimana proses implementasi program PPK?
Implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter akan dilaksanakan secara bertahap. Di tahun 2017, Kemendikbud menargetkan sebanyak 1.626 sekolah akan menjadi target rintisan PPK, yang akan memberikan dampak pada sekitar 9.830 sekolah di sekitarnya. Hingga tahun 2020, target implementasi penuh PPK diharapkan dapat terwujud. Tentu, implementasi PPK menyesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan sekolah. Diharapkan, keberhasilan satuan pendidikan yang menjalankan PPK dapat menjadi teladan/inspirasi bagi seluruh satuan pendidikan lainnya.

PENGEMBANGAN NILAI-NILAI KARAKTER

Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hajar Dewantara

  • Olah Hati (etika)
  • Olah Raga (Kinestetika)
  • Olah Pikir (Literasi)
  • Olah Karsa (Estetika)

Nilai-nilai Karakter

  • Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab (dan lain-lain)

Nilai Utama

  • Religius
  • Nasionalis
  • Intefritas
  • Mandiri
  • Gotong-royong

*Nilai-nilai utama disesuaikan dengan GNRM, kearifan lokal dan kreativitas sekolah

MANFAAT DAN ASPEK PENGUATAN

MANFAAT

  1. Penguatan karakter siswa dalam mempersiapkan daya saing siswa dengan kompetensi abad 21, yaitu: berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi
  2. Pembelajaran dilakukan terintegrasi di sekolah dan di luar sekolah dengan pengawasan guru
  3. Revitalisasi peran Kepala Sekolah sebagai manager dan kewajiban jam mengajar Guru sebagai inspirator PPK
  4. Revitalisasi Komite Sekolah sebagai badan gotong royong sekolah dan partisipasi masyarakat
  5. Penguatan peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama dalam penumbuhan dan pembiasaan karakter anak
  6. Kolaborasi antar K/L, Pemda, lembaga masyarakat, penggiat pendidikan dan sumber-sumber belajar lainnya
  7. Mengembalikan evaluasi pembelajaran siswa menjadi hak dan wewenang guru baik secara pribadi maupun kolektif

ASPEK PENGUATAN

  1. Revitalisasi manajemen berbasis sekolah dan partisipasi masyarakat
  2. Sinkronisasi intra kurikuler, ko kurikuler, ekstra kurikuler, dan non kurikuler, serta sekolah terintegrasi dengan kegiatan komunitas seni budaya, bahasa dan sastra, olahraga, sains, serta keagamaan
  3. Deregulasi penguatan kapasitas dan kewajiban Kepala Sekolah/Guru dan pelatihan secara berkelanjutan
  4. Dukungan Permendikbud No. 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah dalam penyiapan prasarana/sarana belajar (misal: pengadaan buku, peralatan kesenian, alat peraga, dll) melalui pembentukan jejaring kolaborasi pelibatan public
  5. Kebijakan pembelajaran 5 (lima) hari secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi infrastruktur dan keberagaman kultural daerah/wilayah
  6. Pengorganisasian dan sistem rentang kendali pelibatan publik yang transparan dan akuntabel
  7. Kajian Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dan Pengembangan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)

KONKLUSI

  1. Gerakan PPK sebagai Poros Pendidikan Terwujudnya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai fondasi utama dari pembangunan karakter bangsa dan merupakan transformasi dari penanaman nilai-nilai Pancasila secara berkelanjutan, utamanya melalui aspek keteladanan Kepala Sekolah, Guru, Orang Tua, dan seluruh figur penyelenggara pendidikan serta tokoh-tokoh masyarakat.
  2. Pembangunan Karakter merupakan Kewajiban Bersama Terselenggaranya pembangunan karakter bangsa sebagai kewajiban seluruh Kementerian/ Lembaga, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Pelaku Bisnis dan masyarakat/ komunitas, agar segenap sumberdaya yang dimiliki dapat dimanfaatkan seluas-luasnya untuk kepentingan pendidikan karakter.
  3. Dukungan Komitmen dan Regulasi Gerakan PPK Terwujudnya komitmen dan dukungan regulasi terkait dengan: a) Revitalisasi peran Kepala Sekolah sebagai Manager; b) Revitalisasi kewajiban 8 jam guru di sekolah; c) Implementasi Permendikbud No. 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah sebagai badan gotong royong dan partisipasi masyarakat; d) Kegiatan pembelajaran 5 hari; e) Penguatan dan perluasan kegiatan di sekolah dan luar sekolah (seni budaya, keagamaan, ekstra dan kokurikuler, literasi).
  4. Memperhatikan Keberagaman dan Tingkat Kesenjangan Tercapainya tahapan pelaksanaan PPK sesuai dengan keberagaman dan tingkat kesenjangan setiap satuan pendidikan yaitu di perkotaan, sub-perkotaan, sampai daerah 3T dengan mempertimbangkan keterbatasan prasarana dan sarana sekolah, serta aksesibilitas ke sekolah (jalur lembah, hutan, sungai, dan laut).

Guru yang baik bagaikan petani. Mereka menyiapkan bahan dan lahan belajar di kelas, memelihara bibit penerus bangsa, menyirami mereka dengan ilmu, dan memupuk jiwa mereka dengan karakter yang luhur. Guru yang ikhlas adalah petani yang mencetak peradaban. Oleh Ahmad Fuadi, Sastrawan

Sumber bacaan
Portal PPK kemdikbud

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *