Pengertian Autis dan Derajat Autisme Dalam Pembelajaran

Pengertian Autis Dan Konsep Pembelajarannya

Kata autisme berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. American Psychiatric Association disingkat APA (2013) menyebut pengertian autis / autisme pada DSM-5 sebagai Autism Spectrum Disorder (ASD), yaitu suatu gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang ditandai dengan hambatan komunikasi sosial dan interaksi sosial pada berbagai situasi (termasuk hambatan dalam timbal balik sosial, perilaku komunikatif non-verbal yang digunakan untuk interaksi sosial, dan keterampilan dalam mengembangkan, mempertahankan dan memahami hubungan) dan juga adanya pola perilaku, ketertarikan yang terbatas maupun aktivitas yang berulang.

Autisme merupakan suatu spectrum disorders, yaitu suatu gangguan yang mempunyai rentangan lebar dan bergradasi mulai dari yang ringan sampai berat. Artinya, walaupun memiliki gejala yang sama, tetapi setiap orang dengan autisme dipengaruhi oleh gangguannya tersebut dengan cara yang berbeda dan dapat berakibat berbeda pula pada perilakunya. Gejala dapat terjadi dengan kombinasi yang berbeda-beda dan dapat bergradasi dari sangat ringan ke sangat berat.Demikian pula dengan potensi kemampuan kognitifnya bervariasi dari diatas rata-rata sampai retardasi mental berat.

Senada dengan DSM-5, the Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) USA (dalam Hallahan & Kaufman, 2011) mendefinisikan autisme sebagai gangguan perkembangan yang mempengaruhi interaksi sosial dan komunikasi verbal dan nonverbal secara signifikan, biasanya muncul sebelum usia tiga tahun, yang mempunyai efek terhadap kemampuan pendidikan anak. Lebih lanjut disebutkan bahwa karakteristik lain yang sering dikaitkan dengan anak autis adalah terpaku pada aktivitas yang berulang dan gerakan stereotip, resisten terhadap perubahan lingkungan atau perubahan rutinitas sehari-hari, dan memiliki respon yang tidak seperti anak lainnya terhadap pengalaman sensoris. Penggunan kata autisme pertama kali diperkenalkan pada tahun 1943 oleh Leo Kanner.Beliau menulis makalah dan menjabarkan gejala-gejala “aneh” yang beliau temukan pada 11 anak yang menjadi pasiennya. Beliau melihat banyak sekali persamaan gejala pada anak-anak tersebut, namun yang sangat menonjol adalah anak ini sangat asyik dengan dirinya sendiri, seolah-olah ia hidup dalam dunianya sendiri. Maka beliau memakai istilah autisme.

Baca Juga : Implementasi Permainan Pada Proses Pembelajaran

Beberapa tokoh mengemukakan bermacam rumusan definisi pengertian autis mengenai gambaran yang menunjukkan autisme tersebut. Sutadi (2002) menjelaskan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan neorobiologis berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi (berhubungan) dengan orang lain. Penyandang autisme tidak dapat berhubungan dengan orang lain secara berarti, serta kemampuannya untuk membangun hubungan dengan orang lain terganggu karena ketidakmampuannya untuk berkomunikasi dan menegerti perasaan orang lain. Lebih lanjut dijelaskannya bahwa penyandang autisme memiliki gangguan pada interaksi sosial, komunikasi (baik verbal maupun non verbal), imajinasi, pola perilaku repetitif dan resistensi terhadap perubahan pada rutinitas.

Definisi yang dirumuskan Sutadi tersebut senada dengan definisi yang ditulis oleh Gerlach (2000), “Autism is a complex develop-mental disability that typical appears during the first three years of life. The result of a neurobiological disorder that affects the functioning of the brain,…”

Baca Juga : Pelaksanaan Pembelajaran

Sutadi dan Gerlach mengemukakan batasan yang sangat mirip.Hanya saja Sutadi langsung menjelaskan ciri-ciri penyandang autisme secara rinci dalam definisinya, sedangkan Gerlach tidak demikian.Ia menjelaskan hal tersebut pada bagian tersendiri. Kemudian Sunartini (2000) menjelaskan pula pengertian autis bahwa autisme diartikan sebagai gangguan perkembangan perpasif yang ditandai oleh adanya abnormalitas dan kelainan yang muncul sebelum anak berusia 3 tahun, dengan ciri-ciri fungsi yang abnormal dalam tiga bidang: (1) interaksi sosial, (2) komunikasi dan, (3) perilaku yang terbatas dan berulang, sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan perasaan maupun keinginan, sehingga perilaku dan hubungan dengan orang lain menjadi terganggu. Keadaan ini terjadi tiga sampai empat kali lebih banyak pada laki-laki dari pada anak perempuan.Autisme dapat terjadi pada setiap anak tidak memandang lapisan sosial ekonomi, tingkat pendidikan orangtua, ras, etnik maupun agama.

Bila diamati beberapa definisi autisme di atas, maka nyata sekali pada hakekatnya memberikan batasan yang sama. Sama-sama menyatakan pengertian autis bahwa autisme merupakan gangguan proses perkembangan yang mulai muncul dalam tiga tahun pertama kehidupan, yang menyebabkan hambatan komunikasi dan interaksi sosial, serta memiliki minat terbatas dan perilaku berulang. Hambatan tersebut bisa menyebabkan gangguan pada bidang komunikasi, bahasa, kognitif, sosial dan fungsi adaptif, sehingga menyebabkan anak-anak tersebut seolah-olah berada dalam dunianya sendiri.

Baca Juga : Informasi Ujian Nasional

Derajat Autisme

Derajat berat ringannya autisitas anak berdasarkan DSM -5 dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu :

Derajat autistik berdasarkan fungsi kecerdasan dapat dikategorikan ke dalam 3 tingkatan, yaitu :

1) Fungsi kecerdasan rendah. Anak autis yang temasuk ke dalam kategori kecerdasan rendahmaka dikemudian hari kecil kemungkinan untuk dapat diharapkan untuk hidup mandiri secara penuh, ia tetap akan memerlukan bantuan orang lain.

2) Fungsi kecerdasan menengah.

Apabila penyandang autis masuk ke dalam kategori kecerdasan menengah maka memungkinkan untuk dilatih bermasyarakat dan mempunyai kesempatan yang cukup baik bila diberikan pendidikan khusus yang dirancang secara khusus untuk penyandang autis.

3) Fungsi kecerdasan tinggi.

Apabila penyandang autis masuk ke dalam kategori kecerdasan tinggi maka dengan pendidikan yang tepat, diharapkan dapat hidup secara mandiri bahkan dimungkinkan dapat berprestasi, dapat juga hidup berkeluarga.

Baca Juga : Karakteristik Peserta Didik Autis

Postingan Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *