Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan (Jepang vs Indonesia)

Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan

Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan

Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan, Sampah memang bagian yang tak lagi bermanfaat bagi manusia, namun hal ini bukanlah alasan untuk diabaikan. Kebersihan menyumbangkan nilai besar dalam estetika. Suatu desain tata ruang yang apik pun tak lagi menarik ketika sampah tampak berserakan di mana-mana.

Di sisi lain, sampah yang tak terkelola dengan baik akan memperburuk sanitasi yang berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat. Sampah yang berasal dari makhluk hidup (organik) sangat cepat mengalami pembusukan, selain menimbulkan aroma tak sedap dari sampah juga menjadi tempat berkumpulnya mikroorganisme yang merugikan manusia, dapat memicu munculnya penyakit dan menimbulkan masalah kesehatan. Istilah TPA atau Tempat Pembuangan Akhir pasti meninggalkan kesan ‘kumuh’ di pikiran kita, sehingga lokasi-lokasi di mana TPA berada umumnya menjadi tempat yang negatif dalam pikiran semua orang. Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan

Masalah klasik ini apabila dikelola dengan bijak tentu akan bisa menjaga kelestarian dunia, dengan pemanfaatan kembali sampah yang dapat di daur ulang. Terkait pengelolaan sampah, Indonesia dapat belajar banyak dari negara-negara maju yang berhasil mengatasi masalah sampah, salah satunya adalah Jepang.

Pemilahan Sampah Berdasarkan Jenisnya di Jepang

Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan, Tradisi mengolah sampah dengan memilah berdasarkan jenisnya mulai diperkenalkan di Jepang pada tahun 1970-an dan saat ini telah menjadi budaya karena kesadaran masyarakatnya yang tinggi untuk menerapkan prinsip Reduce, Reuse dan Recycle (mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang). Prinsip ini mendasari cara membuang sampah dengan memilah-milah berdasarkan jenisnya sehingga proses pengolahan akan lebih mudah. Budaya ini selanjutnya mendapatkan dukungan dari Parlemen Jepang dengan disahkannya Undang-undang mengenai pengolahan sampah yang berlandaskan Daur Ulang.

Pemilahan sampah di negara Jepang dilakukan berdasarkan jenis sampah tersebut, apakah berasal dari bahan organik atau yang dapat di daur ulang lagi. Tempat sampah yang disediakan pun telah dipisahkan sehingga sampah sejak awal telah dipisahkan oleh si pembuang sampah. Selanjutnya petugas khusus pengelola sampah langsung dapat memproses sampah-sampah tersebut sesuai dengan jenisnya.

Ada 3 hal yang menyebabkan kebiasaan memilah sampah di Jepang ini menjadi mengakar sangat kuat, yaitu karena (1) kesadaran masyarakat yang cukup tinggi terhadap pentingnya pengelolaan sampah, (2) keberhasilan dalam membangun rasa malu di tengah masyarakat dan menanamkan jauh ke alam bawah sadar untuk membuang sampah pada tempatnya, dan (3) edukasi yang dilakukan secara massif dan agresif sejak dini melalui pengajaran dan pelatihan cara memilah sampah sesuai jenisnya.
Banyaknya jumlah tempat sampah yang tersedia di tempat umum tidak selalu berkorelasi positif dengan tingkat kebersihan suatu tempat. Artinya, walaupun ada banyak tempat sampah yang tersedia tidak selalu berarti tempat tersebut bisa disebut bersih. Hal ini terjadi di Jepang di mana sangat sulit ditemukan tempat sampah, dan kalaupun ada (seperti di stasiun, bandara dan sekolah-sekolah) jumlahnya tidak banyak. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah Jepang untuk membentuk kebiasaan masyarakatnya untuk tidak meninggalkan sampah di sembarang tempat. Biasanya mereka menyimpan sampah dalam tas masing-masing dan membuang sampahnya ketika menemukan tempat sampah atau membawanya pulang. Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan

Penerapan pemilahan sampah ini juga dilakukan dari tingkat rumah tangga. Pemilahan ini dipisahkan berdasarkan sampah non degradable (tidak dapat diuraikan) dan jenis sampah yang degradable (dapat diuraikan). Sampah-sampah ini kemudian dikumpulkan di tempat pengumpulan sampah pada hari – hari yang sudah ditetapkan waktu pengambilannya.

Pengolahan sampah di Osaka

Di Jepang, terdapat beberapa tempat pengolahan sampah akhir. Salah satunya terdapat di Osaka, bernama Maishima Incineration Plant atau Pabrik Pembakaran Sampah Maishima. Bentuk gedungnya unik tak memperlihatkan sama sekali bahwa itu adalah tempat pengolahan sampah. Benar-benar kalau dari luar tampak seperti istana bermain.

Pabrik ini dibangun pada 1997 dan selesai tahun 2001. Di dalamnya ada mesin pembakaran sampah raksasa dengan kemampuan membakar 450 ton sampah setiap pembakarannya. Dalam sehari, mesin ini membakar sampah dua kali.

pengelolaan-sampah-yang-ramah-lingkungan2Pada proses pengolahannya, sampah dari seluruh kota Osaka masuk ke pabrik ini menggunakan truk sampah khusus. Sejak di pintu gerbang, sampah telah dipisahkan mana yang bisa dibakar dan mana yang tidak bisa dibakar. Truk kemudian masuk ke lokasi penampungan sampah. Sampah ditampung dalam penampungan raksasa. Sebuah capit raksasa siap memindahkan sampah tersebut ke mesin sampah untuk dibakar dengan suhu mencapai 950 derajat celcius. Pembakaran itu menghasilkan panas. Panas tersebut digunakan untuk berbagai kepentingan di antaranya untuk pemanas ruangan, pemanas air, dan pembangkit listrik bagi pabrik itu sendiri. Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan

Selain itu, pabrik ini mampu menjual listrik hasil pengolahan sampah tersebut ke perusahaan listrik di kota itu. Tahun 2010, Kansai Electric Power—perusahaan listrik di Osaka—menerima 50 juta kilowatt listrik dari pabrik pembakaran sampah Maishima.

Tak mengherankan jika masalah sampah di sana sudah teratasi. Mesin pengolah sampah itu semuanya berteknologi tinggi sehingga biayanya pun sangat besar. Namun dibandingkan dengan hasilnya, tentu sepadan.

Penerapan Pemilahan Sampah di Indonesia

Sistem pengolahan sampah berdasarkan pemisahan jenisnya sudah mulai diterapkan di Indonesia 10 tahun terakhir ini. Pelaksanaannya dimulai dengan menyediakan dua macam tempat sampah, yaitu sampah organik dan sampah non organik. Aplikasi sampai tahap ini sudah banyak diterapkan di berbagai daerah maupun instansi pemerintahan di Indonesia, namun pelaksanaan dari sistem ini sepertinya hanya gebrakan ide di awal saja, belum terlihat keberlanjutan dan manfaat nyata yang dirasakan. Walaupun tempat sampah yang telah disediakan terpisah, tapi pada akhirnya menjadi tumpukan sampah yang bercampur sehingga menjadi sia-sia saja.

Sebagai salah satu gerakan nyata, Fakultas Pertanian IPB telah menginisiasi gerakan Faperta Hijau dengan memperkenalkan pengelolaan sampah berdasarkan pemilahan jenisnya dan secara berkala akan ada satgas kebersihan khusus yang akan mengambil dan mengolah sampah berdasarkan jenisnya. Kegiatan ini juga disertai dengan penyuluhan dan edukasi agar masyarakat lebih menyadari pentingnya pengelolaan sampah dengan baik. Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan

Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan
pengelolaan sampah yang-ramah-lingkungan

Namun pelaksanaan dari sistem ini seperti hanya gebrakan ide di awal saja, belum ada keberlanjutan dan manfaat nyata yang dirasakan. Tempat sampah yang telah disediakan terpisah pada akhirnya menjadi tumpukan sampah yang bercampur antara sampah organik dan sampah plastik, atau bila sampahnya sudah terpilah dengan baik oleh si pembuang sampah, pengelola sampahnya masih mencampuradukkan antara sampah organik dan sampah non-organik sehingga pemilahan semula hanya berakhir sia-sia.

Permasalahannya adalah kurangnya kesiapan masyarakat menerima hal baru yang dianggap rumit, ditambah kurangnya sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah. Di samping kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan, pemerintah juga belum meletakan hal tersebut sebagai prioritas yang harus diutamakan. Masalah ini masih bisa diatasi tentunya dengan kemauan yang kuat dari berbagai pihak.

SUMBER DAN ILUSTRASI GAMBAR (RESOURCES) :

Ditulis oleh  Arinal Haq Izzawati N (Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Agronomi dan Hortikultura IPB / 2013)

Gambar diambil oleh *) Agus Budi Setiawan, Mahasiswa Pascasarjana UGM jurusan Pemuliaan Tanaman 2013 dan **) Renaya Sani, Mahasiswa Program Sarjana IPB Departemen Agronomi dan Hortikultura angkatan 48 saat mengikuti program pertukaran pelajar di Chiba University bersama penulis.

 

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *