Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini

Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini

Pendidikan karakter adalah sesuatu yang penting dalam membangun kembali peradaban bangsa. Banyak bangsa yang maju di dunia yang berawal dari karakter unggul yang dimiliki warganya. Bangsa yang ingin maju, berdaulat, dan sejahtera membutuhkan karakter yang kuat. Kesejahteraan sebuah bangsa bermula dari karakter kuat warganya(Marcus Tutillus 106-43 SM). Ungkapan ini disampaikan dalam rangka mengingatkan seluruh warga kekaisaran Roma tentang perlunya praktik kebajikan. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber alam, kompetensi, dan kecanggihan teknologi tetapi yang utama dan terutama adalah karena dorongan semangat dan karakter bangsanya. Billy Graham menyatakan : “Bila harta hilang, sesungguhnya tak ada yang hilang, bila kesehatan hilang, ada sesuatu yang hilang tapi bila karakter hilang maka sesungguhnya, segalanya telah hilang.”

Bangsa Indonesia adalah bangsa kaya akan sumber daya alam (pendapat pakar), bangsa yang religious, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran agama yang di anutnya, memiliki sejarah sebagai bangsa yang terkenal dengan “keramahanya”, dan “gotong royongnya”. Bangsa yang memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela kedaulatan bangsa dari tangan penjajah. Saat ini kemana semua karakter (watak) yang dimiliki orang tua, para pejuang dan pendiri bangsa ini. Kita harus menemukan kembali karakter dan jati diri bangsa yang telah luntur bahkan sudah mulai menghilang, dengan membangun kembali semangat juang, keramahan, gotong royong dan religiusitas bangsa ini. Hanya satu kata dalam menemukan kembali jati diri dan karakter bangsa, yaitu pendidikan yang berbasis karakter. Dengan menanamkan nilai-nilai karakter universal dan semangat juang para pendiri Negara ini, maka kita dapat mengejar ketertinggalan dari Negara maju pada abad 21.

Pentingnya pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia adalah sebagai modal dasar untuk melaksanakan pembangunan di segala bidang dalam rangka menuju persaingan di era abad 21. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan pentingnya karakter bangsa yang unggul dalam mencapai tujuan negara maju pada abad ke-21, sebagaimana disampaikan SBY dalam sambutannya pada Puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional 2011, sebagi berikut:

Lima karakter manusia unggul yang ingin dicapai oleh Indonesia. “Pertama, manusia-manusia Indonesia yang sungguh bermoral, berakhlak dan berperilaku baik. Oleh karena itulah, masyarakat kita harus menjadi masyarakat yang religius,” ucap SBY. Kedua adalah mencapai masyarakat yang cerdas dan rasional. Ketiga, manusia-manusia Indonesia yang makin ke depan menjadi manusia yang inovatif dan terus mengejar kemajuan.Keempat, Presiden SBY mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memperkuat semangat Harus Bisa, yang terus mencari solusi dalam setiap kesulitan. “Yang terakhir, kita semua, manusia Indonesia haruslah menjadi patriot sejati yang mencintai bangsa dan negaranya, mencintai tanah airnya.

Pembentukan karakter harus dimulai dari membangun potensi nilai-nilai spritual, mengasah dan membangkitkan kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual yang sudah diberikan Tuhan sebagai fitrah manusia sejak lahir melalui pendidikan yang utuh dan menyeluruh (holistik). Dalam prosesnya sendiri fitrah yang alamiah ini berupa potensi pemberian Tuhan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat. Maka sangat penting adanya sinergitas dan keutuhan dari tri pusat pendidikan dalam membentuk anak Indonesia yang cerdas, handal berdaya saing dan berkarakter unggul. Jadi Pendidikan karakter bukan hanya tugas guru di sekolah, akan tetapi harus merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa.

Pembentukan karakter bangsa meru­pakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Sisdiknas 2003 dikatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Makna ungkapan tersebut begitu dalam dan sangat mulia, karena dalam tujuan pendidikan tersebut terkandung prinsip keseimbangan. Pendidikan kita tidak hanya untuk membentuk anak-anak yang hanya pinter dan cerdas saja, tetapi juga berkepribadian dan berkarakter/berakhlak mulia, sehingga melalui pendidikan ini diharapkan akan muncul generasi yang cerdas dari sisi intelektual, emosional dan spritual. Dengan kata lain insan Indonesia yang cerdas, handal, berdaya saingdan berakhlak mulia.

Pendidikan karakter harus dilaksanakan sejak usia dini, karena usia dini merupakan periode perkembangan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pada masa ini, seluruh instrumen besar manusia terbentuk, bukan kecerdasan saja tetapi seluruh kecakapan psikis. Para ahli menamakan periode ini sebagai usia emas perkembangan.Pendidikan anak usia dini sangat penting karena akan menentukan kualitas SDM di masa depan. Hal ini disebabkan karena masa pembentukan otak manusia terjadi paling cepat pada usia saat anak berada pada usia dini. Oleh karena itu, pemerintah sudah semestinya memperhatikan sektor ini sebagaimana sektor-sektor lainya.

Kelompok anak usia dini merupakan kelompok yang sangat strategis dan efektif dalam pembinaan karakter, hal ini harus menjadi kesadaran kolektif dari seluruh elemen bangsa ini. Karena masalah pendidikan anak usia dini sampai saat ini masih banyak menyisakan persoalan. Pertama, masih banyaknya kelompok anak usia dini yang belum dapat mengakses pendidikan (lihat data APK AUD). Kedua, kurangnya pemahaman para guru akan hakikat tujuan pendidikan nasional untuk membangun peserta didik menjadi manusia holistik yang berkarakter. Sehingga dalam proses pembelajaran terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif. Padahal amanat Undang-Undang sudah demikian jelas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk (peserta didik) menjadi manusia holistik yang berkarakter. Maka dalam prosesnya pendidikan dan pembelajaranya harus mampu mengembangkan seluruh dimensi dan potensi serta aspek-aspek peserta didik secara utuh dan menyeluruh (holistik). Akibat dari kekurangpahaman ini    banyak praktek-praktek pembelajaran di PAUD/TK yang cenderung lebih mementingkan kemampuan akademik (calistung) daripada pengembangan aspek emosi dan sosial anak. Hal ini tidak terlepas dari tuntutan orang tua, termasuk Sekolah Dasar yang mensyaratkan penerimaan siswa dengan melakukan test kemampuan calistung. Memaksakan anak usia dibawah 6 atau 7 tahun untuk belajar calistung akan beresiko timbulnya stress jangka pendek dan rusaknya perkembangan jiwa anak dalam jangka panjang (Elkind, 2000:12). Praktek seperti ini jelas akan menghambat proses pembentukan karakter anak.

Ketiga, kurangnya wawasan guru tentang pendekatan dan metode   pendidikan karakter yang tepat dalam pembentukan karakter anak usia dini. Padahal wawasan guru dalam berbagai pendekatan dan metode tersebut sangat penting dalam implementasi pendidikan karakter. Akibat kurangnya wawasan guru dalam hal model, pendekatan dan metode pembelajaran pendidikan karakter di TK, maka proses pembelajaran akan menjadi pasif dan tidak memberikan pengalaman kongkrit pada anak (Megawangi, 2011:61).

Keempat, kurang sinergisnya antar sekolah, keluarga dan masyarakat. Ketiga unsur tersebut harus saling mendukung untuk peningkatan pembentukan karakter peserta didik. Akibat ketidaksinergisan ini, pembentukan karakter peserta didik menjadi parsial, dan tidak holistik, akibatnya muncul gejala anak yang bersikap baik di sekolah tetapi di luar sekolah berperilaku kurang baik. Atau sebaliknya di rumah dalam lingkungan keluarga menunjukan sikap yang baik tetapi di luar rumah terlibat geng motor, narkoba dan senang tawuran. Sikap inkonsistensi para peserta didik ini salah satunya diakibatkan kurang sinerginya antara pendidikan sekolah dan keluarga serta masyarakat.

Pendidikan karakter pada anak usia dini sudah sepatutnya menjadi prioritas para orang tua dalam lingkungan keluarga, karena pendidikan karakter harus dimulai dari dalam lingkungan keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertum­buhan karakter anak. Dukungan para orang tua ini sangat penting dalam keberhasilan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.Lingkungan keluarga dan masyarakat yang merupakan tempat dimana anak bergaul dan bersosialisasi memiliki tanggung jawab dalam pembentukan karakter anak. Dan begitu juga dukungan komitmen pemerintah sangat penting dalam upaya pembangunan karakter bangsa melalui kebijakan yang berpihak pada pembinaan karakter, khususnya pendidikan karakter anak usia dini.Jika saat ini semua elemen bangsa menyingsingkan lengan baju dan semuanya dengan serius berpartisifasi dalam pembentukan karakter semua anak Indonesia yang berada dalam rentang usia dini (0-6 tahun) maka saat negara ini memasuki usia emas 2045 (seratus tahun Indonesia merdeka), kita akan memiliki generasi emas yang cerdas tangguh dan berkarakter serta berakhlak mulia.

Baca Juga : Pengelolaan Pembelajaran PAUD Sesuai Kurikulum PAUD

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *