Pembinaan Karir Guru dan Pengembangan Profesi

Pembinaan Karir Guru dan Pengembangan Profesi

Pengembangan Profesi dan Pembinaan Karir Guru Kejuruan

Telah lama berkembang kesadaran publik bahwa tidak ada guru, tidak ada pendidikan formal. Telah muncul pula kesadaran bahwa tidak ada pendidikan yang bermutu, tanpa kehadiran guru yang profesional dengan jumlah yang mencukupi. Selama  menjalankan  tugas-tugas  profesional,  guru  dituntut  melakukan  profesionalisasi  atau proses  penumbuhan  dan  pengembangan  profesinya.  Diperlukan  upaya  yang  terus-menerus  agar guru  tetap  memiliki  pengetahuan  dan  keterampilan  yang  sesuai  dengan  tuntutan  kurikulum  serta kemajuan IPTEK. Di sinilah esensi pembinaan dan pengembangan profesional guru. Kegiatan ini dapatdilakukan  atas  prakarsa  institusi,  seperti  pendidikan  dan  pelatihan,  workshop,  magang,  studi banding,  dan  lain-lain.

Pengembangan dan peningkatan kompetensi bagi guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik dilakukan  dalam  rangka  menjaga  agar  kompetensi  keprofesiannya  tetap  sesuai  dengan perkembangan  ilmu  pengetahuan,  teknologi,  seni,  dan  budaya  dan/atau  olah  raga.  Pengembangan dan  peningkatan  kompetensi  dimaksud  dilakukan  melalui  sistem  pembinaan  dan  pengembangan keprofesian guru berkelanjutan yang dikaitkan dengan perolehan angka kredit jabatan fungsional. Pembinaan dan pengembangan keprofesian guru meliputi pembinaan kompetensi-kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Sementara itu, pembinaan dan pengembangan karier meliputi  penugasan,  kenaikan  pangkat,  dan  promosi.  Upaya  pembinaan  dan  pengembangan  karir guru  ini  harus  sejalan  dengan  jenjang  jabatan  fungsional  mereka. Pengembangan profesi dan karir diarahkan untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru dalam  rangka  pelaksanaan  proses  pendidikan  dan  pembelajaran  di  kelas  dan  di  luar  kelas.  Inisiatif meningkatkan  kompetensi  dan  profesionalitas  ini  harus  sejalan  dengan  upaya  untuk  memberikan penghargaan, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan terhadap guru. Menurut PP  No.  74  Tahun  2005  tentang  Guru  mengamanatkan  bahwa  terdapat  dua  alur  pembinaan  dan  pengembangan  profesi  guru,  yaitu:  pembinaan  dan pengembangan  profesi,  dan  pembinaan  dan  pengembangan  karir.  Pembinaan  dan  pengembangan profesi  guru  meliputi  pembinaan  kompetensi  pedagogik,  kepribadian,  sosial,  dan  profesional. Pembinaan  dan  pengembangan  profesi  guru  sebagaimana  dimaksud  dilakukan  melalui  jabatanfungsional.

Kebutuhan  guru akan  program  pembinaan  dan  pengembangan  profesi  dikelompokkan  ke  dalam  lima  kategori,  yaitu  pemahaman  tengtang  konteks  pembelajaran, penguatan  penguasaan  materi,  pengembangan  metode  mengajar,  inovasi  pembelajaran,  dan pengalaman tentang teori-teori terkini. Kegiatan  pembinaan  dan  pengembangan  profesi  dapat  dilakukan  oleh  institusi  pemerintah, lembaga  pelatihan  (training  provider)  nonpemerintah,  penyelenggara,  atau  satuan  pendidikan.  Ditingkat  satuan    pendidikan,  program  ini  dapat  dilakukan  oleh  guru  pembina,  guru  inti, coordinator guru kelas, dan sejenisnya yang ditunjuk dari guru terbaik dan ditugasi oleh kepala sekolah. Pembinan  dan  pengembangan  karir  guru  terdiri  dari  tiga  ranah,  yaitu  penugasan,  kenaikan pangkat,  dan  promosi.  Sebagai  bagian  dari  pengembangan  karir,  kenaikan  pangkat  merupakan  hak guru. Kenaikan  pengkat  ini  dilakukan  melalui  dua  jalur.  Pertama,  kenaikan  pangkat dengan  sistem  pengumpulan  angka  kredit.  Kedua,  kenaikan  pangkat  karena  prestasi  kerja  atau dedikasi yang luar biasa.

  1. Pembinaan dan  pengembangan profesi  guru  kejuruan

Pembinaan dan pengembangan profesi guru kejuruan dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Pembinaan Guru Kejuruan Melalui supervisi

Menurut Bafadal  (1992:  2) dalam Arif Rahman (2009) supervisi pengajaran  adalah serangkaian  kegiatan  membantu  guru mengembangkan  kemampuannya  mengelola  proses  belajar  mengajar demi pencapaian tujuan pengajaran.

Hariwung  (1989:  133-134) dalam Arif Rahman (2009) mengetengahkan konsep supervisi yang dibedakan atas supervisi I dan supervisi  II.  Supervisi  I  memiliki  asumsi-asumsi  dasar  bahwa  dunia persekolahan adalah terstruktur dan dihubungkan secara ketat. Supervisi  II,  sebaliknya  didasarkan  pada  pandangan  tentang pengajaran  dan  persekolahan  yang  benar-benar  berbeda.  Melalui  supervisi  pengajaran  diharapkan  mutu  pengajaran  yang dilakukan  oleh  guru  semakin  meningkat.  Mengembangkan kemampuan  dalam  konteks  ini  tidak  hanya  ditekankan  pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar guru, melainkan juga pada peningkatan komitmen, kemauan dan motivasi guru.

  1. Pembinaan Guru Kejuruan Melalui Pelatihan

Fungsi  pelatihan  dalam  organisasi  adalah  sebagai  segala kegiatan  yang  dirancang  untuk  memperbaiki  kinerja  personil  dalam suatu  pekerjaan  di  mana  personil  itu  sedang  atau  akan  diangkat menjabat  pekerjaan  tertentu. Pendidikan  dan  pelatihan  bagi  pengembangan  SDM  termasuk pengembangan  profesi  dan  kinerja  tenaga  kependidikan  sangat penting  dikelola  dengan  baik.  Mangkuprawira  (2002:  139-140) dalam Arif Rahman (2009) memberikan tiga tahapan besar dalam pengelolaan program pelatihan yaitu tahap asesmen, tahap pelatihan dan tahap evaluasi. Dalam tahap asesmen  dilakukan  analisis  kebutuhan  pelatihan  dari  organisasi, pekerjaan,  dan  kebutuhan  individu.  Dalam  tahap  pelatihan  dilakukan kegiatan  merancang  dan  menyeleksi  prosedur  pelatihan,  serta pelaksanaan  pelatihan.  Tahap  terakhir  adalah  tahap  evaluasi,  pada tahap  ini  dilakukan  pengukuran  hasil  pelatihan  dan  membandingkan hasilnya  dengan  kriteria.

  1. Pembinaan Guru Kejuruan Melalui Pendidikan Lanjutan

Pembinaan  kemampuan  profesional  guru  melalui  pendidikan lanjut  adalah  bentuk  pembinaan  dengan  memberikan  kesempatan kepada  guru  untuk  melanjutkan  pendidikan  pada  jenjang  yang  lebih inggi.  Pendidikan  lanjutan  ini  dapat  dilakukan  atas  insiatif  sendiri dengan  ijin  dari  atasan  atau  dapat  juga  melalui  tugas  belajar  dariatasan.  Adapun  tujuan  pendidikan  lanjutan  menurut  Bafadal  (2003: 56-57) dalam Arif Rahman (2009) adalah untuk:

  1. Meningkatkan kualifikasi  formal  guru  sehingga  sesuai  dengan peraturan kepegawaian yang diberlakukan secara nasional maupun yayasan yang menaunginya.
  2. Meningkatkan kemampuan  akademik  sehingga  ada  peningkatan profesionalnya  dalam  rangka  meningkatkan  kualitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
  3. Menumbuh kembangkan  motivasi  para  pegawai  khususnya  guru dalam rangka meningkatkan kinerjanya.

Dalam kaitannnya dengan guru SMK pendidikan lanjutan dikhususkan untuk sekolah vokasi sehingga dapat memperdalam ketrampilan dan mengupdate pengetahuan terhadap perkembangan pengetahuan dan teknologi.

Model  pembinaan    kemampuan  profesional  guru  sekolah menengah  kejuruan  sebagai  upaya  meningkatkan  mutu  pembelajaran  berbasis  kompetensi  yang diorientasikan  sesuai  dengan  tuntutan  kompetensi  guru  SMK profesional yang mampu mendidik melatih siswa sebagai calon tenaga  kerja yang dapat bersaing di pasar kerja, yaitu pembinaan profesional guru  SMK  yang  memenuhi  kriteria  standar  kompetensi  guru  SMK. Pembinaan  dilakukan    secara  berkelanjutan  dan  secara  terus  menerus program-program  pembinaannya  diperbaharui  seiring  dengan perkembangan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  di  dunia usaha/industri maupun di dunia pendidikan.

Modal  dasar untuk  dapat memberikan  pembinaan  kemampuan  profesional  kepada  guru-guru sekolah menengah kejuruan khususnya bidang produktif antara lain:

  1. Manajemen berbasis  sekolah  yang  telah diterapkan  di  SMK,
  2. telah terbentuknya  wadah-wadah  K3S  SMK  dan MGMD  untuk  masing-masing  bidang  diklat,
  3. perangkat pembina dan  program  pembinaan  untuk  SMK  di  Dinas  Pendidikan  Kota/ Kabupaten,
  4. keterlibatan LPTK  dalam  program  pembinaan  guru  SMK  di  Kota/ Kabupaten,
  5. terjalinnya kerja  sama  dengan  dunia  usaha  dan dunia industri serta organisasi profesi.
  6. Pembinaan dan  Pengembangan Karir Guru  Kejuruan

Pembinan  dan  pengembangan  karir  guru  terdiri  dari  tiga  ranah,  yaitu  penugasan,  kenaikan pangkat,  dan  promosi.

  1. Penugasan

Guru  terdiri  dari  tiga  jenis,  yaitu  guru  kelas,  guru  mata  pelajaran,  dan  guru  bimbingan  dan konseling atau konselor. Dalam rangka melaksanakan tugasnya, guru melakukan  kegiatan pokok yang  mencakup:    merencanakan  pembelajaran,  melaksanakan  pembelajaran,    menilai  hasil pembelajaran,    membimbing  dan  melatih  peserta  didik,  dan    melaksanakan  tugas  tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru

  1. Promosi

Kegiatan pengembangan dan pembinaan karir yang kedua adalah promosi. Promosi dimaksud dapat berupa penugasan sebagai guru pembina, guru inti, instruktur, wakil kepala sekolah, kepala sekolah, pengawas  sekolah,  dan  sebagainya.  Kegiatan  promosi  ini  harus  didasari  atas  pertimbangan  prestasi dan dedikasi tertentu yang dimiliki oleh guru.

Peraturan  Pemerintah  No.  74  tentang  Guru  mengamanatkan  bahwa  dalam  melaksanakan tugas  keprofesian,  guru  berhak  mendapatkan  promosi  sesuai  dengan  tugas  dan  prestasi  kerja. Promosi dimaksud meliputi kenaikan pangkat dan/atau kenaikan jenjang jabatan fungsional.

  1. Kenaikan Pangkat

Kenaikan pangkat dan jabatan fungsional guru dalam rangka pengembangan karir merupakan gabungan  dari  angka  kredit  unsur  utama  dan  penunjang  ditetapkan sesuai  dengan  Permenneg  PAN dan  BR  Nomor  16  Tahun  2009.  Tugas-tugas  guru  yang  dapat  dinilai  dengan  angka  kredit  untuk keperluan  kenaikan  pangkat  dan/atau  jabatan  fungsional  guru  mencakup  unsur  utama dan  unsur penunjang.  Unsur  utama  kegiatan  yang  dapat  dinilai  sebagai  angka  kredit  dalam  kenaikan  pangkat guru  terdiri  atas:

  1. Pendidikan,
  2. pembelajaran/pembimbingan dan  tugas  tambahan  dan atau tugas  lain  yang  relevan  dengan  fungsi  sekolah/madrasah,
  3. pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB).

PENGEMBANGAN KARIER GURU

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai butir-butir tujuan pendidikan tersebut perlu didahului oleh proses pendidikan yang memadai. Agar proses pendidikan dapat  berjalan dengan baik, maka semua aspek yang dapat mempengaruhi belajar siswa hendaknya dapat berpengaruh positif bagi diri siswa, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

Diundangkannya Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka semakin kuatlah alasan pemerintah dalam melibatkan masyarakat dalam pengelolaan lembaga pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Keterlibatan masyarakat tersebut mencakup beberapa aspek dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan (UU No. 20 Th. 2003, pasal 8), termasuk berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.

Pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan serta wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggarakannya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.

Profesionalisme Guru

Guru sebagai komponen penting dalam sistem pendidikan diharapkan mampu menjadi fasilitator, motivator dan dinamisator dalam proses belajar siswa. Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat mempunyai kompetensi dalam dunia pendidikan. Dalam rangka pelaksanaan kurikulum, perlu adanya metode pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampu oleh masing-masing guru. Dengan demikian proses belajar mengajar akan berjalan seiring dengan pengembangan aspek-aspek belajar siswa yang meliputi aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor.

Untuk mewujudkan niat baik yang tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tersebut perlu adanya komitmen dari berbagai pihak, terutama pemerintah dalam mengakomodasikan keinginan para guru dalam pengembangan karier sesuai dengan Pasal 40 ayat (1).c. pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara  Nomor 26 tahun 1989, tentang penetapan jabatan guru sebagai jabatan fungsional membuka peluang bagi semua guru dalam meniti kariernya melalui jenjang kepangkatan yang didasarkan atas angka kredit yang telah diperoleh dan dikumpulkannya. Sehingga memungkinkan guru untuk menduduki pangkat tertinggi dalam lingkungan pegawai negeri sipil (PNS).Oleh karena itu , kemampuan dan kreativitas guru merupakan unsur atau aspek yang sangat diperlukan. Itu berarti faktor internal guru perlu ditumbuhkembangkan. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah kecakapan, kemampuan, motivasi , sikap, persepsi inovatif, kemampuan mengadopsi peraturan yang berlaku, termasuk usia dan masa kerja. Sedangkan faktor eksternal  yang perlu diperhatikan para guru adalah bobot dan banyaknya beban mengajar guru untuk sekolah tertentu.

Sebelum tahun 1960-an jabatan guru demikian terpandang. Untuk menarik minat para pemuda, pemerintah memberikan ikatan dinas bagi mereka yang berkeinginan menjadi guru, sehingga banyak yang tertarik untuk memasuki LPTK. Namun demikian hal itu bukanlah daya tarik yang menggiurkan, karena kebijakan pemerintah itu tidak didukung kebijakan pemerintah  memberikan insentif dan fasilitas bagi guru. Padahal peluang kerja lain yang lebih menjanjikan sangat terbuka lebar. Dampaknya banyak guru yang penguasaan terhadap mata pelajaran yang diampunya rendah karena mereka yang memasuki lembaga pendidikan guru pada umumnya bukan mereka yang memilih jabatan guru sebagai pilihan yang pertama, tetapi banyak dari mereka yang memasuki pendidikan guru dikarenakan takut tidak diterima di perguruan tinggi lainnya.

Menurut UNESCO, bahwa guru sebagai agen pembawa perubahan yang mampu mendorong pemahaman dan toleransi diharapkan tidak hanya mampu mencerdaskan peserta didik tetapi juga harus mampu mengembangkan kepribadian yang utuh, berakhlak dan berkarakter. Untuk itu dibutuhkan  suatu proses pendidikan guru yang secara professional dapat dipertanggungjawabkan. Guru merupakan pekerjaan profesi. Dalam pelaksanaan tugasnya membutuhkan kemampuan teknis yang diperoleh melalui pendidikan dan atau latihan, berupa perbuatan yang rasional dan memiliki spesifikasi tertentu dalam pelaksanaan tugasnya. Untuk menjadi guru yang baik maka dituntut adanya sejumlah kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu :

1.      Menguasai landasan-landasan kependidikan

2.      Penguasaan bahan/materi pelajaran

3.      Kemampuan mengolah program kegiatan belajar mengajar

4.      Kemampuan mengelola kelas

5.      Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar

6.      Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar

7.      Kemampuan menilai hasil belajar/prestasi siswa

8.      Kemampuan mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan

9.      Kemampuan memahami prinsip dan menafsirkan hasil penelitian untuk keperluan pengajaran

10.  Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah

Sosok guru yang mampu mengemban tugas yang disebutkan di atas sebenarnya sudah diberikan moto oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Untuk dapat melaksanakan fungsi pertama, berarti guru haruslah berkepribadian yang utuh dengan kemampuan akademik dan profesional yang andal. Untuk dapat melaksanakan fungsi kedua dibutuhkan guru yang memahami dan menyayangi peserta didik. Sedangkan untuk dapat melaksanakan fungsi yang ketiga, guru harus terus memantau terus proses belajar peserta didik dan mendorong semangat belajar peserta didiknya. Akan tetapi sejauh ini moto tersebut seakan tidak bermakna karena tidak adanya pelaksanaan di lapangan.

Jadi untuk menyiapkan tenaga pendidik tidak hanya diperlukan suatu proses pendidikan  akademik yang handal akan tetapi juga diperlukan suatu proses pendidikan yang mampu mengembangkan kepribadian dan karakter seorang pendidik. Oleh karena itu infrastruktur lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) haruslah dilengkapi dengan asrama mahasiswa dan laboratorium kependidikan (sekolah model) dan lain-lain. Sangat disayangkan bahwa UNY (dh. IKIP Yogyakarta) yang sebelum tahun 1980-an mempunyai sekolah laboratorium dari sekolah dasar hingga lanjutan atas malah justru pengelolaannya diserahkan ke kementerian pusat (dh. Depdikbud).

Proses penempatan guru yang tidak terarah, tidak adil dan tidak proporsional akan berpengaruh negatif terhadap guru dalam mengembangkan kemampuan dan pengabdiaan profesional kependidikannya. Selain itu juga menyurutkan niat generasi muda untuk memasuki profesi keguruan. Kenyataan yang dihadapi banyak guru yang berada di daerah terpencil tidak memiliki masa depan, baik bagi pengembangan karirnya maupun kesehatan rohani dan jasmaninya. Dihapuskannya program rotasi semakin menjadikan ciut semangat guru untuk meningkatkan profesionalismenya, karena dalam benaknya sudah merasa bahwa sampai pensiun dia tetap berada di sekolah tersebut.

Rasio jumlah guru terhadap jumlah peserta didik semakin tidak seimbang. Adanya sekolah yang kelebihan guru, namun di sisi lain masih banyak sekolah-sekolah yang kekurangan guru. Sekolah-sekolah yang kekurangan guru ini terpaksa mengangkat guru honorer/guru tidak tetap (GTT) yang gajinya jauh di bawah upah minimum. Lebih celakanya jenis guru yang satu ini tidak mempunyai ikatan perjanjian hukum yang jelas sehingga sewaktu-waktu dapat diberhentikan karena ada droping guru negeri baru.

Di sisi lain kepala sekolah yang seharusnya merupakan atasan langsung dari si guru sibuk dengan proyek-proyek pembangunan fisik sekolah. Pembinaan yang dilakukan kepala sekolah kadang-kadang hanya dilakukan secara massal, misalnya pada saat rapat dinas. Padahal sudah sewajarnyalah jika ada guru yang bermasalah langsung dibina saat itu juga, sehingga permasalahannya tidak berlarut-larut dan mengimbas pada guru yang lain.

Dalam pelaksanaan manajemen pendidikan yang moderen, praktek guru mencari penghasilan tambahan dilarang, dan bagi pelanggarnya harus memilih untuk tetap bekerja sebagai guru atau meninggalkannya. Di negara yang mendudukkan pendidikan sebagai priortas utama, penghasilan guru demikian bersaing dengan profesi lain, sehingga larangan rangkap profesi dapat diterapkan. Oleh karena itu upaya apapun yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan tidak akan dapat dicapai selama masalah jaminan kesejahteraan minimal seorang tenaga pengajar tidak dipenuhi.

Aspek utama yang bersentuhan langsung dengan nasib para guru adalah Teacher Management (Manajemen Guru). Menurut Worldbank (1998: 20) disebutkan bahwa guru juga mempunyai kesempatan promosi (peningkatan). Struktur karier bagi guru pada pendidikan dasar berbentuk piramida. Promosi guru selalu berarti bahwa kerja guru beralih ke bidang administrasi dan meninggalkan tugasnya sebagai pengajar di kelas. Pola semacam itu mempunyai efek negatif terhadap moral guru dan menurunkan kualitas hasil pengajaran karena guru yang senior memperoleh promosi bukan sebagai guru, melainkan sebagai tenaga administrasi. Beberapa negara seperti Australia dan Irlandia mengembangkan sejumlah jabatan guru, sebagai contoh jabatan bertingkat yang lebih difokuskan dalam hal tanggung jawab khusus. Jabatan-jabatan itu menambah promosi jabatan konvensional yang sudah ada, yaitu kepala dan deputi kepala. Tugas-tugas yang berkaitan dengan jabatan khusus tersebut dipusatkan pada pengajaran sekolah dan kebutuhan-kebutuhan pengembangan staf, tepatnya lebih dari pada sekedar tugas administrasi rutin.

Pengembangan Karier

Secara harafiah pengertian pengembangan karier (career development) menuntut seseorang untuk membuat keputusan dan mengikatkan dirinya untuk mencapai tujuan-tujuan karier. Pusat gagasan dalam pengembangan karier ialah waktu, yang dipengaruhi cost and benefit. Cost and benefit ini selalu dipertimbangkan dalam memilih pekerjaan, apa kerjanya, apa organisasinya, dan apa untung ruginya (Sigit : 2003). Sedangkan pengertian pengembangan karier secara awam adalah peningkatan jabatan yang didasarkan pada prestasi, masa kerja, dan kesempatan. Dengan mengacu pada pengertian awam tersebut maka pengembangan karier bagi guru perlu diupayakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun sejauh ini ternyata pengembangan karier bagi guru belum memperoleh porsi yang sesuai, karena dengan dicanangkannya otonomi daerah ternyata menimbulkan kebimbangan para birokrat daerah untuk memberikan kewenangan pengelolaan aspek-aspek pendidikan terhadap kaum guru. Hal ini dapat dimaklumi sebab dengan memberikan jabatan-jabatan tersebut menutup peluang bagi mereka (birokrat) untuk ‘berkuasa’.

Menurut Worldbank, terjadi kerancuan tentang pengembangan karier bagi guru. Selama ini pengembangan karier bagi guru diartikan sebagai pengalihan tugas-tugas guru yang tadinya sebagai pengajar berubah menjadi administrator (tenaga adminstrasi). Tentu saja hal tersebut berseberangan dengan tujuan semula. Oleh karena itu menurut tulisan tersebut pengembangan karier bagi guru diartikan dengan tambahan kewenangan bagi guru selain tugas pokoknya sebagai pengajar (pendidik). Jadi walaupun seorang guru mempunyai/naik jabatan menduduki jabatan struktural tertentu akan tetapi tugas pokoknya sebagai pengajar/pendidik tetap menjadi tanggung jawabnya. Dengan kata lain seorang guru tidak serta merta menjadi birokrat dan meninggalkan profesi mengajar ketika ia naik jabatan.

DAFTAR PUSTAKA

Gaynor, Cathy, (1998), Decentralization of Education : Teacher Management, Washington DC, Worldbank.

Hasibuan, Malayu S.P, (2001), Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta, Bumi Aksara.

Sigit, Suhardi (2003), Perilaku Organisasional, Yogyakarta, BPFE-UST.

Syarief, Ikhwanuddin, dkk. (2002), Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru, Jakarta, PT Grasindo.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

Peraturan  Menteri  Pemberdayaan  Aparatur  Negara  dan  Reformasi  Birokrasi  Nomor  16  Tahun  2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Arif, Rahman. 2009. Pembinaan Profesional Guru SMK (Kajian Kualitatif Pada SMK di Bandung). Jurnal Tabularasa: 6, 1.

Maritje, Terok. Peningkatan Mutu Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Melalui Profesionalisme Guru dan Dosen. Seminar Internasional, ISSN 1907-2066.

Dian,  Mahsunah;  Dian, Wahyuni;  Arif, Antono; Santi, Ambarukmi. 2012. Kebijakan Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Badan PSDMPK-PMP

Baca Juga : Penggunaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik PAUD Permendikbud No. 4 Tahun 2017

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *