Pembelajaran Inovatif dengan Pendekatan Konstruktivisme

Pembelajaran Inovatif dengan Pendekatan Konstruktivisme

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, dan budaya, keyakinan seorang pengajar agar berhasil membelajarkan siswanya juga berubah. Pada jaman dulu, agar siswa dapat memahami materi yang diajarkan maka guru melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran inovatif seperti berikut. Guru pembelajaran inovatifakan menginformasikan materi yang diajarkan kepada siswa secara verbal atau tulis, siswa diminta membaca dan mencatat. Seringkali siswa diminta untuk menghafalkan materi yang diperoleh tersebut. Untuk meningkatkan retensi (daya ingat) siswa, guru memberikan latihan-latihan yang berulang (drill) atau tugas yang terkait materi tersebut secara berulang. Siswa diberikan tugas mengerjakan soal-soal dan kemudian diperiksa bersama. Latihan yang berulang-ulang akan dapat memunculkan pembiasaan belajar sehingga siswa menjadi mahir pada materi yang dilatihkan. Siswa yang berhasil dalam latihan-latihan itu akan diberikan hadiah (reward) berupa pujian atau hadiah. Sedangkan siswa yang tidak berhasil akan diberikan hukuman (punishment) seperti mengerjakan tugas yang lebih berat atau bahkan sampai pada hukuman fisik seperti berdiri di depan kelas atau diminta berolah raga.

Metode mengajar yang demikian saat ini sudah ditinggalkan karena tidak mendidik. Siswa akan belajar lebih banyak karena terpaksa seperti takut dihukum atau dimarahi oleh pengajarnya. Paradigma (keyakinan) pengajar pada saat itu disebut dengan behaviorisme. Apakah Anda pernah mengalami proses pembelajaran yang demikian?

Behaviorisme mempunyai ciri-ciri: (1) pengetahuan itu sebagai objek yang bersifat pasti dan tetap, (2) belajar diarahkan sebagai perolehan pengetahuan, (3) mengajar adalah memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar, (4) siswa diharapkan memiliki pengetahuan yang sama dengan guru untuk materi yang dipelajari, (5) tujuan pembelajaran menekankan pada penambahan pengetahuan, dan (6) pembelajaran menekankan pada hasil belajar bukan pada proses belajar.

Baca Juga : SMA Mapel Fisika Untuk LK-1.1 Analisis Kurikulum 2013

Sebagai objek, maka pengetahuan bisa ditransfer atau dipindahkan. Dalam pandangan ini, pengetahuan dapat dipindahkan dari apa yang dimiliki guru kepada siswa atau mahasiswanya. Pengajar meminta siswanya mengingat berulang-ulang apa yang dipelajari sehingga pengetahuan yang dimiliki guru akan sama dengan yang dimiliki siswa. Pandangan ini menganggap bahwa ilmu pengetahuan itu tetap tidak berubah atau terpengaruh oleh kemajuan jaman pembelajaran inovatif. Lingkungan tidak dapat mempengaruhi pengetahuan yang ada. Bila guru berpandangan seperti ini maka materi yang dipelajari siswa tidak mengalami perubahan sepanjang tahun. Ilmu yang dipelajari tidak mengalami perkembangan. Hal ini sangat bertentangan dengan perkembangan ilmu dan teknologi saat ini dimana pengetahuan sangat pesat berkembang. Misalnya saja dalam bidang teknologi informasi, telepon yang memakai kabel telah berubah menjadi telepon nirkabel pada saat ini sehingga ilmu pada bidang itu juga berubah. Ilmu pengetahuan berubah sangat cepat karena adanya hasil-hasil penelitian yang diterapkan pada teknologi dan industri. Siswa sekolah saat ini dapat membaca materi yang dipelajari dari browsing di internet. Materi yang dibaca oleh guru sama dengan materi yang dibaca oleh siswa. Oleh sebab itu, pandangan bahwa pengetahuan itu sebagai objek yang pasti dan tetap telah ditinggalkan. Pembelajaran yang berorientasi behaviorisme lebih mementingkan hasil belajar yang dilakukan dengan berbagai cara dibandingkan dengan proses belajar. Siswa yang di drill dengan latihan soal-soal atau siswa mempelajari soal dan jawabannya secara proses tidak bagus karena siswa tidak akan mempunyai pemahaman yang mendalam tetapi bagi behaviorisme dibenarkan karena ketika ikut tes hasilnya akan baik. Keadaan seperti itu membuat pembelajaran dengan pendekatan ini menyebabkan siswa siswa hafal dengan materi yang dipelajari tetapi tidak bertahan cukup lama. Belajar model ini belum dapat mengembangkan kemampuan berpikir pebelajar untuk membangun konsep atau pemahamannya tetapi mendorong pebelajar mengingat (memorizing) materi yang dipelajari. Keadaan ini akan menyebabkan pemahaman yang dangkal dan akan cepat hilang. Praktik behaviorisme di sekolah dijumpai pada pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran inovatif pembelajaran ceramah atau sering disebutkan dengan metode pembelajaran langsung dan drill. Pembelajaran dengan ceramah murni akan menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar sedangkan siswa hanya menerima materi yang diberikan oleh guru. Pembelajaran dengan metode ini sudah sangat sedikit dilakukan pada praktek pembelajaran di sekolah karena pada umumnya metode ceramah disertai dengan kegiatan

tanya jawab, diskusi, dan verifikasi konsep sehingga menjadi kegiatan belajar yang interaktif. Kegiatan belajar yang hanya menyampaikan informasi kepada siswa tanpa diikuti dengan interaksi menunjukkan kegiatan belajar yang benar-benar berorientasi behaviorisme.

Baca Juga : LK 1 Praktik Menganalisis Proses Pembelajaran Kurikulum 2013

Apakah pembelajaran yang Anda amati atau alami pada saat ini masih dominan menerapkan behaviorisme? Paradigma ini baik diterapkan bila pengajar atau guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Siswa tidak mempunyai sumber belajar selain dari guru. Apakah masih ada keadaan yang seperti itu?. Pada saat ini siswa telah dapat memperoleh sumber belajar dengan mudah. Siswa telah mempunyai pengetahuan awal yang cukup ketika datang ke kelas sehingga pengajar perlu mendorong atau memotivasi siswa untuk menambah pengetahuan itu. Oleh sebab itu, paradigma pembelajaran yang digunakan saat ini bergeser ke arah konstruktivisme.

Paradigma konstruktivisme yang dianut oleh pendidik pada saat ini berupaya mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Dalam membelajarkan siswa, siswa harus berperilaku aktif untuk membangun konsep atau pemahamannya dari tahap-tahapan belajar pembelajaran inovatif. Siswa akan mengamati fakta atau data dari kehidupan sehari-hari, kemudian menggabungkan (meng-asosiasi) pengetahuan yang dimilikinya dengan fakta atau data yang sedang diamati. Dari proses tersebut akan terbangun suatu konsep yang baru yang lebih luas (skemata). Pembelajaran dengan paradigma konstruktivisme mendorong siswa untuk belajar bukan menerima pengetahuan. Untuk membedakan dengan pembelajaran dengan paradigma behaviorism, pelajarilah contoh berikut.

Contoh Pembelajaran Inovatif

Dua guru sekolah dasar akan mengajarkan materi “ciri-ciri tanaman monokotil dan dikotil”. Guru A dan guru B menggunakan pendekatan yang berbeda.

Guru A:

Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran inovatif bahwa hari ini siswa akan belajar tentang ciri-ciri tanaman monokotil dan dikotil. Guru menjelaskan kepada siswa ditinjau dari cara membiakkan tanaman, ada dua kelompok tanaman yaitu monokotil dan dikotil. Monokotil adalah tanaman berbiji satu (mono) seperti kelapa, aren, padi, salak. Ciri-ciri tanaman ini adalah biji buah hanya satu keping, akar serabut, tidak punya kambium, tidak dapat dicangkok. Sebaliknya tanaman dikotil merupakan tanaman yang berbiji dua. Bila biji buahnya dibelah maka akan ada dua keping isi buah.

Contoh tanaman ini adalah mangga, nangka, kopi, dan sebagainya. Ciri-ciri tanaman ini antara lain mempunyai akar tunggang, mempunyai kambium, sebagian bisa dicangkok. Setelah selesai menjelaskan, siswa diminta mencari contoh tanaman monokotil dan dikotil yang ada di lingkungan rumah atau sekolah.

Baca Juga : Pemanfaatan Media Pembelajaran Berbasis Technology

Guru B:

Pembelajaran inovatif dimulai dengan tanya jawab tentang tanaman, apa yang diketahui oleh siswa tentang tanaman. Guru menanyakan apakah ciri-ciri tanaman/tumbuhan yang ada di sekitar sekolah. Siswa diarahkan pada bagian-bagian tanaman seperti daun, batang, akar, bunga, buah, dan sebagainya. Kemudian guru meminta siswa mendiskusikan perbedaan ‘tanaman kelapa dan tanaman mangga’. Siswa diminta bekerja kelompok mengindentifikasi perbedaan kedua tanaman tersebut ditinjau dari ciri-ciri daun, buah, batang, akar, kambium, dan pembiakan. Jawaban siswa disiskusikan dan dibahas bersama di kelas. Guru kemudian meminta siswa mencari contoh-contoh tanaman sejenis dengan ‘tanaman kelapa’ dan ‘tanaman mangga’. Siswa diminta menuliskan tanaman dalam kedua kelompok itu. Setelah didiskusikan, guru meminta siswa memasukkan ke dalam kelompok mana tanaman seperti: padi, jagung, rumput-rumputan, mahoni, jati, matoa, dan sebagainya. Setelah hasilnya didiskusikan guru mengenalkan istilah bahwa tanaman yang ada dalam kelompok ‘tanaman kelapa’ disebut tanaman jenis monokotil sedangkan yang termasuk dalam kelompok ‘tanaman mangga’ disebut tanaman dikotil. Siswa kemudian diminta mendefinisikan apakah yang dimaksud dengan ‘tanaman monokotil’ dan ‘tanaman dikotil.’

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *