Ciri-ciri Pembelajaran Berorientasi Konstruktivisme

Ciri-ciri Pembelajaran Berorientasi Konstruktivisme

Bila Anda menjadi guru di sekolah tersebut, pendekatan pembelajaran manakah yang Anda pilih? Guru A dapat membelajarkan siswa dengan cepat dimana siswa diberikan pengetahuan secara langsung tentang konsep monokotil dan dikotil. Guru menginformasikan ciri-ciri kedua tanaman tersebut. Siswa memantapkan pengetahuannya dengan mencari contoh contoh dari kedua kelompok tanaman itu. Bagaimana menurut Anda? Apakah pembelajaran yang dilakukan guru A efektif? Sedangkan guru B, siswa mempelajari atau mengamati dua contoh dulu. Mendiskusikan perbedaan tanaman kelapa dan mangga. Terjadi diskusi hasil pengamatan. Setelah itu siswa bekerja lagi mencari contoh-contoh tanaman sejenis. Untuk meyakinkan pemahaman siswa, guru meminta siswa mengelompokkan tanaman tertentu yang disebutkannya pada pembelajaran berorientasi konstruktivisme. Pada akhir diskusi guru baru mengenalkan istilah monokotil dan dikotil dan siswa diminta mendefinisikan dengan kata-kata atau kalimatnya sendiri.

Pembelajaran yang dilakukan guru A menyajikan konsep secara langsung sehingga terjadi transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Siswa akan dapat mengerti dengan cepat tetapi belum tentu dapat memahami dengan baik konsep yang dipelajari. Pendekatan ini dapat membelajarkan siswa dengan cepat dan materi yang dipelajari cukup banyak. Sebaliknya guru B berupaya memahamkan siswa dari contoh yang paling dikenal siswa, menganalis konsep-konsep dengan mengidentifikasi perbedaannya. Mencari contoh-contoh yang lebih luas dan baru kemudian menyimpulkan pengertian masing-masing konsep dengan kalimatnya sendiri. Guru hanya mengarahkan dan memfasilitasi siswa belajar memahami konsep-konsep tersebut. Waktu yang diperlukan guru B dalam proses pembelajaran tersebut lebih lama dibandingkan dengan guru A. Menurut Anda, siswa yang dibelajarkan oleh guru yang mana memperoleh pemahaman lebih baik?

Ilustrasi pembelajaran pada kedua guru tersebut menunjukkan perbedaan pendekatan behaviorisme dan konstruktivisme. Guru A menggunakan pendekatan behaviorism sebagaimana yang telah Anda pelajari pada paparan sebelumnya. Guru B berupaya membangun konsep dari pengetahuan yang telah dimiliki siswa, berdasarkan pengamatan, dan membangun konsep atau pemahaman sehingga siswa dapat mengerti dengan materi yang dipelajarinya. Pembelajaran seperti guru B akan dapat memahamkan siswa dalam waktu yang lama karena terjadi proses kognitif pada diri siswa. Proses kognitif yang dimaksud adalah tahapan-tahapan pemahaman pada diri siswa sehingga siswa menemukan konsep yang baru. Konsep baru tersebut bukan dihafal tetapi dia bangun dari data dan penjelasan yang didapatnya dengan pembelajaran berorientasi konstruktivisme. Pembelajaran berorientasi konstruktivismeyang demikian akan lebih bermakna bagi siswa. Untuk memahami paradigma konstruktivisme lebih dalam pelajari uraian berikut ini.

Baca Juga : Pembelajaran Inovatif dengan Pendekatan Konstruktivisme

Ciri-ciri pembelajaran yang berorientasi konstruktivisme merupakan kebalikan dari paradigma behaviorisme sebagai berikut:

(1) mengaktifkan pengetahuan awal,

(2) belajar diarahkan pada pengkontruksian/pembangunan pengetahuan,

(3) mengajar adalah membelajarkan orang yang belajar,

(4) siswa diharapkan dapat memahami pengetahuan untuk materi yang dipelajari,

(5) tujuan pembelajaran menekankan pada penggunaan pengetahuan, dan

(6) pembelajaran ditekankan pada proses belajar.

Pengetahuan awal adalah pengetahuan yang telah dimiliki siswa terhadap materi-materi yang dipelajari sebelum materi yang akan dibahas. Misalnya ada materi X dan materi Y. Materi Y akan dipelajari pada pertemuan saat ini maka ketika pembelajaran dimulai guru akan mulai mendiskusikan konsep-konsep penting tentang materi X terutama yang terkait dengan konsep-konsep yang terdapat pada materi Y.

Hal ini penting untuk mengaktifkan skemata-skemata pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa sehingga ketika belajar tentang materi Y siswa tidak awam sama sekali tetapi dapat memperluas pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian, pada siswa proses yang terjadi adalah memperluas pengetahuannya atau membangun pengetahuan pembelajaran berorientasi konstruktivisme dari yang sudah dimiliki bukan menambah skemata yang baru. Cobalah Anda cari contoh-contoh materi pelajaran di SD yang terkait satu dengan yang lain. Misalnya untuk mempelajari sistem pernafasan siswa harus memahami nama-nama organ tubuh.

Nama-nama organ merupakan pengetahuan awal dari materi sistem pernafasan. Pada praktik pembelajaran yang berorientasi konstruktivisme, siswa akan diajak berpikir membangun pengetahuannya bukan menghafalkan materi yang sudah ada di buku dalam pembelajaran berorientasi konstruktivisme. Perhatikan contoh berikut tentang konstruksi konsep membedakan tanaman monokotil dan dikotil pada pembelajaran IPA di SD. Analisislah langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan guru B pada contoh 1. Pada contoh itu, guru membangun konsep dari mempelajari fakta (nyata) yaitu ‘tanaman kelapa’ dan ‘tanaman mangga’. Guru dapat mengajak siswa mengamati kedua tanaman tersebut atau menunjukkan gambar serta videonya. Pembelajaran dimulai dengan mengamati. Berdasarkan fakta tersebut siswa menganalisis konsep-konsep yang ada di dalamnya seperti akar serabut, akar tunggang, kambium, buah berkeping satu, buah berkeping dua, pembiakan, ciri-ciri daun, dan sebagainya. Pada proses diskusi itu terjadi proses berpikir pada siswa dimana pengetahuan awal atau konsep awal yang dimiliki siswa akan diperluas.

Baca Juga : Metode Pembelajaran Interaktif dan Inovatif

Pada proses ini terjadi tahap berpikir yang membangun konsep baru pada diri siswa. Pada pembelajaran berorientasi konstruktivistik proses pembelajaran sangat penting disamping hasil belajar. Proses menemukan konsep akan memberikan pengalaman yang mendalam kepada siswa sehingga apa yang dipelajari akan dapat diingat dalam waktu yang lama. Rangsangan guru pembelajaran berorientasi konstruktivisme berupa pertanyaan-pertanyaan atau masalah baru yang terkait dengan kehidupan sehari-hari akan dapat mendorong siswa berpikir dan mengembangkan pengetahuannya. Proses pembelajaran seperti berdiskusi, tanya jawab, mencari dan membaca referensi, mengamati langsung, melakukan percobaan, dan sebagainya merupakan pengalaman yang sangat baik untuk membentuk kepribadian dan cara berpikir siswa. Dari proses diskusi siswa dapat belajar menghargai pendapat temannya, bekerja bersama (kolaborasi), kerja disiplin, dan sebagainya.

Proses itu akan dapat membentuk kepribadian siswa yang baik yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Pada proses konstruksi konsep, siswa memperoleh keterampilan menggunakan logika, menganalisis, dan menyimpulkan sehingga dapat mengembangkan kemampuan berpikir rasionalnya. Peran guru dalam pembelajaran berorientasi konstruktivistik bukan sebagai sumber belajar tetapi sebagai fasilitator. Guru harus dapat mengarahkan siswa dengan pertanyaan-pertanyaannya dan petunjuk-petunjuk bantuan agar siswa dapat sampai pada konsep yang dipelajari.

Baca Juga : Pembelajaran Inovatif dengan Pendekatan Konstruktivisme

Guru dapat saja menunjukkan suatu analogi agar siswa sebagai bantuan kepada siswa memahami konsep yang sulit. Dalam konteks ini guru membantu mengarahkan siswa membangun konsep-konsepnya bukan memberikan secara langsung pengertian atau deskripsi konsep dari materi yang dipelajari. John Dewey mengemukakan bahwa pembelajaran dengan paradigma ini sangat baik dilakukan dengan belajar melalui percobaan (teaching as experiment) dimana siswa mulai dengan kegiatan mengumpulkan data, dilanjutkan dengan analisis data, dan membuat kesimpulan. Secara umum, penerapan paradigma konstruktivisme dalam pembelajaran pembelajaran berorientasi konstruktivisme tampak pada upaya pemberian peran yang lebih besar kepada peserta didik dalam proses.

Pemberian peran ini bukan berarti peserta didik dibiarkan belajar sendiri (guru hanya memberi tugas) tetapi guru memfasilitasi agar peserta didik belajar membangun pengetahuannya. Fasilitasi yang dimaksud adalah memberikan arah kegiatan, bantuan dalam kegiatan, menyediakan lingkungan yang memungkinkan terjadi proses belajar, memberikan pertanyaan-pertanyaan pengarah agar sampai pada konsep yang dipelajari, mengorganisasikan interaksi antar pebelajar dengan pembelajaran berorientasi konstruktivisme. Dengan peran yang diberikan tersebut, peserta didik memperoleh pengalaman membangun konsep atau pemahamannya.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *