Metode Pendidikan dalam Perspektif Islam

Metode Pendidikan dalam Perspektif Islam

Jejen Musfah dalam jurnalnya mengemukakan metode pendidikan perspeksif islam sebagai berikut:

1) Metode Amstal (Perumpamaan)

Metode perumpamaan adalah metode pendidikan yang digunakan pendidik kepada anak didik dengan cara memajukan berbagai perumpamaan agar materinya mudah dipahami. Dalam QS Al-Zumar: 27 disebutkan sungguh kami telah membuat bagi manusia di dalam Al-Quran ini setiap perumpamaan, supaya mereka mendapat pelajaran.”

Al-Thabari menafsirkan ayat ini bahwa Allah Swt. telah memberikan perumpamaan bagi mereka orang-orang musyrik Quraisy dengan berbagai contoh dari umat-umat terdahulu agar mereka takut dan sebagai peringatan supaya merekamendapat pelajaran, (1978: 136). Ayat ini merupakan dalil naqli bahwa Islam menggunakan perumpamaan sebagai metode dalam menyeru manusia pada kebenaran sehingga ia beriman dan beramal saleh.

Al-Ajami menulis (2006: 139) beberapa manfaat metode perumpamaan:

  • Mengandung unsur-unsur yang menarik dan menyenangkan;
  • Memperjelas makna dengan mengaitkan sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang konkrit;
  • Mendorong sikap positif;
  • Meninggalkan sikap negatif.

Menurut peneliti, manfaat metode ini juga mempermudah pemahaman materi yang sulit. Pengaruh metode ini dalam pendidikan Islam adalah anak didik mengambil pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalam perumpamaan (lihat QS Al- Ankabut: 43; QS Al-Isra: 89). Di antara beberapa perumpamaan yang dimajukan Al- Quran adalah sebagai berikut: Pertama, QS Al-Hasyr: 21, “Kalau sekiranya Kami turunkanAl-Quran ini di atas gunung, niscaya engkau lihat ia tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu dibuat-Nya untuk manusia supaya mereka berfikir.”

Seorang guru harus rajin membaca, berfikir, dan kreatif, agar bisa menemukanperumpamaan-perumpamaan saat akan mengajar, atau saat ia secara tiba-tiba harus menyampaikannya. Guru juga harus membiasakan diri menyampaikan perumpamaan dalam mengajar, agar mahir dan terbiasa. Guru menjelaskan perumpamaan tersebut, agar siswa yang belum paham dapat mengerti maknanya. Guru bisa memperoleh perumpamaan dari Al-Quran, Hadis, dan sumber lainnya. Kadang guru meminta siswa menjelaskan perumpamaan yang serupa dengan perumpamaan yang telah dimajukan guru untuk memancing kreatifitas dan daya fikir siswa.

2) Metode kisah

Metode kisah adalah mendidik dengan cara menyampaikan kisah agar pendengar dan pembaca meniru yang baik dan meninggalkan yang buruk, serta agar pembaca beriman dan beramal saleh.

Al-Quran menegaskan pentingnya metode kisah ini dalam Surat Yusuf, ayat 111, “Sesungguhnya pada kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang berakal”. Al-Thabari menafsirkan ayat ini yang berkenaan dengan kisah Nabi Yusuf, bahwa terdapat pelajaran („ibrah), dalam kisah Nabi Yusuf dan saudara-saudaranyabagi orang-orang yang mempunyai akal sekaligus sebagai nasihat bagi mereka, (Jilid 6: 59). Sedangkan menurut Al-Zamakhsyari, bahwa dhamir yang ada pada kataqashashihim adalah bagi para rasul (jamak) tidak hanya pada kisah Nabi Yusuf saja. Tegasnya, bahwa pada diri para rasul itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal, (Jilid 2: 511).

Kisah memengaruhi rasa dan membekas dalam jiwa. Pengungkapan kisah memberikan gambaran nyata tokoh-tokoh yang ada di dalamnya sehingga tampak nyata dan mudah diambil pelajaran. Kisah juga menarik anak-anak dan orang dewasa. Semua usia tertarik dengan kisah.

Materi kisah mudah didapat oleh guru dari banyak sumber. Masalahnya, penyampaian kisah memerlukan keterampilan khusus, agar menarik siswa. Maka guru perlu belajar keterampilan bercerita. Ia bisa belajar mandiri atau belajar kepada rekan sejawat yang lebih berpengalaman dalam metode kisah. Para guru juga bisa mengajukan program pelatihan pada sekolah terkait kiat-kiat bercerita, dengan mendatangkan pembicara yang ahli dari luar sekolah.

Guru harus bisa memetik hikmah dan pelajaran dari sebuah cerita, untuk disampaikan kepada siswa. Pelajaran tersebut harus relefan dengan kondisi dan zaman para siswa. Guru bisa melibatkan siswa untuk menemukan pelajaran- pelajaran yang terkandung dalam kisah melalui tanya-jawab.

3) Metode Targhib-Tarhib

Kata targhîb diambil dari bahasa Al-Quran, berasal dari kata kerja ragghaba yang artinya: menyenangi, menyukai. Targhîb berbentuk isim mashdar mengandung arti suatu harapan untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan.

Metode targhib adalah pendidikan dengan menyampaikan berita gembira/ harapan kepada pelajar melalui lisan maupun tulisan, agar pelajar menjadi manusia yang bertakwa. Sedangkan metode tarhib adalah pendidikan dengan menyampaikan berita buruk/ ancaman kepada pelajar melalui lisan maupun tulisan, agar pelajar menjadi manusia yang bertakwa.

Penggunaan metode targhîb-tarhîb didasari pada asumsi bahwa tingkat kesadaran manusia sebagai makhluk Tuhan itu berbeda-beda. Ada yang sadar setelah diberikan kepadanya berbagai nasihat dengan lisan, dan ada pula yang harus diberikan ancaman terlebih dahulu baru ia akan sadar. Ayat yang berupa targhîbdapat dilihat pada QS Al-Anfal: 29, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapus kesalahan-kesalahanmu serta mengampuni dosamu, dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Dalam Al-Quran terdapat berita gembira bagi orang yang taat, dan ancaman siksa, kerugian, dan kesengsaraan bagi orang yang kufur. Seorang guru harus bisa menginspirasi siswanya menjadi pribadi yang beriman melalui ayat-ayat targhib dan tarhib. Maka, seorang guru muslim harus mengenal Al-Quran dengan baik. Kecuali itu, ia harus bisa mengaitkan ayat-ayat itu dengan realitas keseharian siswanya, sehingga makna ayat-ayat itu benar-benar ditujukan buat mereka.

Metode ini sesuai dengan kejiwaan manusia, bahwa manusia menyukai kesenangan dan kebahagiaan, dan ia membenci kesengsaraan dan kekurangan. Guru harus bisa meyakinkan siswa agar mereka selalu cenderung pada iman dan kebaikan, dan menghindari kekufuran.

4) Metode Dialog (Hiwar)

Hiwar adalah dialog antara satu orang dengan yang lainnya. Hiwar dalam Al- Quran adalah segala bentuk dialog yang disajikan dalam Al-Quran, baik dialog Allah dengan para malaikat, dengan para rasul, dengan makhluk lainnya, maupun dialog antara manusia dengan sesamanya.

Menurut Al-Nahlawi (2001: 206), dialog adalah percakapan dua orang atau lebih, melalui tanya jawab, mengenai satu tema atau tujuan. Mereka berdiskusi tentang permasalahan tertentu, kadang diperoleh hasil, kadang satu sama lain tidak puas. Namun pendengar tetap mendapatkan pelajaran.

Secara terminologis, hiwar dalam Al-Quran dapat diartikan sebagai dialog, yakni suatu percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih yang dilakukan melalui tanya jawab. Di dalamnya terdapat kesatuan topik pembicaraan dan tujuan yang hendak dicapai dalam pembicaraan itu. Metode hiwar merupakan cara penyampaian nilai-nilai pendidikan yang digunakan di dalam Al-Quran.

Metode ini memiliki kelebihan dibanding dari metode lainnya. Kelebihannya adalah pesan disampaikan secara langsung. Bagaimana respon yang bersangkutan dapat diketahui. Karena itu, si pemberi pesan dapat menanyakan dan atau memberi penjelasan yang lebih masuk akal dan lebih sesuai dengan hati lawan bicaranya. (Perlu diketahui bahwa metode ini sering digunakan oleh Rasulullah Saw. dalam menyampaikan ajaran Islam)

Metode ini melibatkan murid dalam pengajaran. Guru yang menjalankan metode ini bisa mengaktifkan akal, menguatkan mereka dalam persiapan menerima pengetahuan baru, dan menumbuhkan kecintaan pada kebenaran (Al-Ajami, 2006: 143). Metode ini juga meningkatkan hubungan antara orang tua dan anak, guru dan murid, melatih siswa mengungkapkan pikirannya, bahasa percakapan menunjukkan hubungan manusia dengan yang lainnya, dan menjauhkan para pelajar dari taklid buta dan pembangkangan.

Guru dapat meyiapkan pertanyaan-pertanyaan sebelum pembelajaran dimulai, dari yang mudah hingga yang sulit. Guru tidak boleh menyalahkan jawaban siswa, namun menghargainya dengan ucapan yang baik: “Pendapat yang bagus, tapi ada jawaban yang lebih tepat dari ini.” Guru juga tidak boleh emosi saat para murid bertanya atau berbeda pendapat dengannya. Guru harus bisa tetap tenang, dan menjawab sesuai pengetahuannya; ia harus jujur jika belum mengetahui jawabannya. Ini akan berdampak lebih positif bagi siswa, karena ia menunjukkan bahwa guru bukan orang tahu segalanya. Guru professional bukan berarti bahwa guru bisa menjawab setiap pertanyaan para siswa. Bisa jadi siswa saat ini lebih banyak menerima informasi dibanding gurunya.

5) Metode Teladan

Ada manusia yang terpengaruh oleh metode teladan, ada yang cocok dengan percakapan, ada yang lebih bermanfaat baginya metode kisah, dan seterusnya. Menurut Al-Ajami (2006: 131) beberapa aspek penting pendidikan dalam teladan adalah:

  • Manusia saling memengaruhi satu sama lain melalui ucapan, perbuatan, pemikiran, dan keyakinan;
  • Perbuatan lebih besar pengaruhnya dibanding ucapan;
  • Metode teladan tidak membutuhkan penjelasan.

Umar bin Utbah berkata kepada guru anaknya: “Hal pertama yang harus Anda lakukan dalam mendidik anakku adalah memperbaiki dirimu sendiri, karena matanya melihatmu. Kebaikan baginya adalah apa yang kau lakukan, dan keburukan adalah apa yang kau tinggalkan.” (Al-Ajami, 2006: 132)

Kepribadian guru akan memengaruhi respon siswa saat pembelajaran. Kompetensi profesional dan pedagogis tidak akan efektif jika kepribadian guru tidak matang. Siswa akan apatis, meskipun yang disampaikannya benar. Maka, selain harus selalu belajar, guru juga harus melatih jiwanya agar kepribadiannya matang. Membaca Al-Quran, zikir, dan tadabur alam, merupakan metode pendidikan hati agar hati bersih, sehingga yang bersangkutan berkepribadian mantap.

6) Metode Latihan dan Praktik (Tajribah)

Metode ini lebih mudah dipahami dan dipelajari karena menampilkan ucapan pada perbuatan, teori pada praktik dan latihan. Manfaat metode ini adalah mewujudkan hubungan antara ilmu dan hasilnya, menghasilkan kemahiran dan kecermatan yang tinggi, merangsang muslim untuk melakukan kewajibannya, memunculkan kebahagiaan individu karena ia melihat hasil kesungguhannya, dan terakhir mengurangi kesalahan dan menambah kesungguhan.

Latihan merupakan penerjemahan teori-teori ilmu dan petunjuk-petunjuk Al- Quran dan Sunnah dalam bentuk perbuatan nyata. Seorang pendidik muslim harus memerhatikan perkembangan sikap dan memahami bahwa kemajuan belajar siswanya berkaitan erat dengan latihan-latihan dan pengalaman langsung yang mereka hadapi. Kecuali itu, ia juga harus menunjukkan pebuatan dan praktik yang dipelajari murid dalam kehidupan nyata mereka, sehingga jelas bagi mereka antara teori dan praktik.

Membaca teori kadang lebih sukar dan terasa lebih berat dibanding melakukan praktik secara langsung. Karena itu, guru harus menyediakan kesempatan sebanyak mungkin bagi siswa untuk melakukan latihan dan praktik, dengan fasilitas yang tersedia.

Latihan harus dilakukan terus-menerus hingga siswa menguasai keterampilan tertentu. Maka tugas guru adalah memotivasi siswa agar tidak bosan, bersemangat, pantang menyerah, dan tekun. Kecuali itu, guru harus menjelaskan manfaat hasil pelatihan tersebut bagi siswa, sehingga siswa termotivasi.

Kadang fasilitas yang minim menyurutkan semangat guru untuk melakukan metode praktik. Namun guru tidak boleh menyerah pada keadaan. Ia harus kreatif memanfaatkan fasilitas yang ada dan terjangkau demi terwujudnya pelatihan bagi siswa.

Biasanya, pengalaman praktik mengajarkan siswa sulit tidaknya sesuatu, sehingga ia tahu kelebihan dan kekurangannya. Maka peran guru adalah memberikan pelatihan/ praktik lanjutan terkait dengan bagian yang dianggap sulit oleh siswa.

7) Metode Nasihat

Isyarat metode ini terlihat dalam tiga ayat Al-Quran berikut ini:

  • QS Al-Dzariat: 55, Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
  • QS Ali Imran: 138 (Al-Quran) Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
  • QS Al-Nahl: 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Menurut Al-Thabari (1978: 131), maksud kata al-hikmah adalah wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Fungsi wahyu tersebut untuk menyerukan manusia ke jalan Tuhannya, yakni kepada syariat Islam. Al- Zamakhsyari dalam Al-Kassyâf (h. 644) menafsirkan al-hikmah dengan ucapan yang bijak dan benar, disertai dalil yang jelas dan dapat menghilangkan keraguan.Mau‟idzah hasanah adalah memberikan pengertian yang bermanfaat bagi mereka. Sedangkan mujâdalah, berdebat atau berdiskusi dengan cara yang lemah lembut tanpa berkata keji dan melakukan kekerasan.

Beberapa contoh metode nasihat dalam Al-Quran adalah QS Lukman: 13,

Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: „Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar‟”; Nasihat para nabi pada umatnya dan nasihat para nabi pada anak-anakmereka, seperti nabi Nuh, dan Ya‟kub pada anak-anaknya.

Menurut Al-Ajami (2006: 139-142), ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pendidik, orang tua, dan para dai dalam memberikan nasihat:

  1. Memberi nasihat dengan perasaan cinta dan kelembutan. Nasihat orang- orang yang penuh kelembutan dan kasih sayang mudah diterima dan mampu merubah kehidupan manusia.
  2. Menggunakan gaya bahasa yang halus dan baik. QS Ali Imran: 159, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
  3. Meninggalkan gaya bahasa yang kasar dan tidak baik, karena akan mengakibatkan penolakan dan menyakiti perasaan. Metode para nabi dalam dakwah adalah kasih sayang dan kelembutan. QS Al-A‟raf: 59, “Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah,sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”
  4. Pemberi nasihat harus menyesuaikan diri dengan aspek tempat, waktu, dan materi.
  5. Menyampaikan hal-hal yang utama, pokok, dan penting. QS Lukman: 17-18, “Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Hal pertama yang disampaikan Lukman adalah akidah (pokok agama), lalu ibadah, lalu akhlak, dan akhirnya soal kemasyrakatan. Demikian pula yang dilakukan Nabi Muhammad di Makkah dan Madinah.

Terkait dengan poin keempat di atas, seorang pendidik harus menyiapkan bahan pelajaran sebelum pembelajaran, sehingga penjelasannya fokus—tidakmelebar dan mengulang-ulang materi sebelumnya—dan siswa memperoleh sesuatu yang baru. Pendidik juga harus datang dan mengakhiri pelajaran tepat waktu.

Kedisiplinan guru merupakan bagian proses pendidikan yang besar peranannya bagi perkembangan siswa. Guru yang sering terlambat masuk kelas atau mengakhiri pelajaran sebelum waktunya, tidak akan efektif dalam mengajar, karena siswa terlanjur memberikan stigma negatif baginya.

Untuk menutup pembahasan mengenai metode pendidikan ini, saya kutipkan uraian Abdullah Nashih Ulwan (2014: 533), “Betapa indahnya seorang ayah dan ibu berkumpul bersama anak-anaknya di sore hari. Pertemuan mereka diisi dengan hikmah dan pengajaran. Kadang dengan menyampaikan kisah, kadang nasihat, lain waktu dengan pembacaan syair, lain kali dengan mendengarkan bacaan, kadang dengan perlombaan. Demikianlah, mereka memakai metode yang beragam, sehingga anak terbentuk jiwa dan akhlaknya.”

Baca : Pendekatan Pendidikan Holistik Berbasis Parenting di TK

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *