Metode Pembelajaran Interaktif dan Inovatif

Metode Pembelajaran Interaktif dan Inovatif

Hasil belajar yang bermutu hanya dapat diperoleh dari proses pembelajaran yang berkualitas baik. Sebaliknya bila ada peserta didik yang memperoleh hasil belajar baik tetapi mereka tersebut tidak belajar dengan baik maka hal tersebut dapat memunculkan keraguan. Pembelajaran di kelas dinyatakan sebagai pembelajaran yang berkualitas bila guru yang mengajar dapat menciptakan kondisi belajar atau lingkungan belajar yang kondusif sehingga semua siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran interaktif dan inovatif.

Pada keadaan tersebut, sebagian besar peserta didik termotivasi untuk belajar baik melalui aktivitas yang diperintahkan guru maupun diskusi dan komunikasi antar peserta didik, atau peserta didik dengan pengajar. Bagaimana guru dapat menciptakan kondisi kelas yang seperti itu? dengan pembelajaran interaktif dan inovatif.

Kualitas proses pembelajaran bergantung pada perencanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru, penerapan rencana pembelajaran pembelajaran interaktif dan inovatif di kelas, dan evaluasi yang akan dilakukan guru setelah pembelajaran selesai.

Pembelajaran yang baik harus direncanakan dengan baik. Pada tahap ini, sangat penting bagi guru merencanakan pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang dapat memanfaatkan potensi siswa dan sumber belajar yang ada dalam pembelajaran sehingga siswa mengalami keadaan “engage” belajar atau terlibat dengan senang hati melakukan kegiatan belajar. Bila mengacu peda pengertian inovasi, pembelajaran inovatif bukanlah pembelajaran dengan strategi belajar benarbenar baru namun strategi itu merupakan hal baru bagi peserta didik atau guru.

Kelas yang biasanya dibelajarkan secara konvensional kemudian dibelajarkan dengan strategi eksperimen maka dapat dinyatakan telah terjadi inovasi oleh pengajar pada kelas tersebut. Pada kelas dengan pembelajaran inovatif, peserta didik tidak terpaksa melakukan kegiatan pembelajarannya tetapi mereka melakukannya untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Pada tahap implementasi, pengajar mendorong peserta didik menyamakan pemahamannya tentang materi yang dipelajari bukan semata-mata menerima informasi dari pengajar.

Keadaan ini menggambarkan suatu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pada kondisi itu, peserta didik yang belajar melakukan komunikasi yang interaktif baik antara peserta didik dengan guru maupun peserta didik dengan peserta didik. Bila terjadi komunikasi yang efektif maka pembelajaran akan berlangsung secara interaktif. Sedangkan evaluasi pembelajaran, guru harus dapat mendorong peserta didik belajar mengembangkan kemampuan berpikirnya bukan kemampuan menghafal.

Evaluasi yang demikian akan dapat mendorong peserta didik belajar. Selain evaluasi kemampuan pemahaman (kognitif), evaluasi yang berlangsung secara berkelanjutan terhadap sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotor) akan dapat mendorong peserta didik belajar pembelajaran interaktif dan inovatif.

Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan dapat:

  1. membedakan paradigma behaviorisme dan konstruktivisme;
  2. menjelaskan ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme;
  3. menjelaskan pentingnya pembelajaran berorientasi konstruktivistik;
  4. menjelaskan ciri-ciri pembelajaran berpusat pada peserta didik;
  5. menjelaskan contoh-contoh model/strategi pembelajaran konstruktivistik;
  6. menjelaskan tantangan mengajar pada abad ke-21;
  7. menjelaskan langkah-langkah mengembangkan pembelajaran inovatif.

Pemahaman terhadap materi konstruktivisme dan inovasi pembelajaran sangat penting bagi Anda sebagai calon magister pendidikan (Dasar). Materi tersebut akan memberikan wawasan kepada Anda terhadap hakikat mengembangkan pembelajaran yang mendidik atau pembelajaran yang berpusat pada siswa. Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, pembelajaran yang mendidik harus dapat mendorong peserta didik belajar.

Guru harus dapat menciptakan lingkungan belajar di mana siswa dapat dituntun untuk mengkonstruksi konsep dan terjadi proses berpikir. Pembelajaran yang menekankan pada kekuatan mengingat (memorizing) harus dikurangi dan dialihkan kepada pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir. Pembelajaran yang demikian akan dapat membentuk generasi muda yang kreatif dan produktif pada masa yang akan datang.

Baca Juga : Pengertian Komunikasi Efektif Menurut Para Ahli

Pada Modul 1 ini, Anda akan mempelajari apa hakikat pembelajaran inovatif dan interaktif yang sangat penting Anda pahami untuk dapat merancang pembelajaran yang inovatif dan interaktif. Modul tersebut mencakup 2 (dua) kegiatan belajar, yaitu:

Kegiatan Belajar 1: Konstruktivisme sebagai Landasan pembelajaran Inovatif.

Kegiatan Belajar 2: Prinsip-prinsip Pengembangan pembelajaran inovatif dan Interaktif.

Peda setiap kegiatan pembelajaran disajikan pembahasan disertai latihan, rangkuman, dan tes formatif. Agar Anda berhasil dengan baik dalam mempelajari modul 1 ini, ikutilah petunjuk-petunjuk belajar berikut.

  1. Bacalah bagian pendahuluan modul ini untuk memahami secara keseluruhan isi dari modul ini, tujuan pembelajaran, dan pentingnya memahami materi dalam modul ini.
  2. Temukanlah kata-kata kunci atau konsep-konsep penting pada setiap halamannya dan buatlah catatan kecil untuk mendiskripsikan konsepkonsep yang tercakup serta hubungan antar konsepnya.
  3. Terhadap masing-masing konsep tersebut, buatlah pengertian atau penjelasan serta contohnya (bila mungkin) berdasarkan kata-kata atau kalimat Anda sendiri.
  4. Bila penjelasan dalam modul ini kurang lengkap, kayakanlah pemahaman Anda dengan membaca sumber-sumber belajar lain baik dari referensi yang disarankan pada akhir modul ini atau Anda cari dari internet.
  5. Tingkatkan pemahaman Anda dengan mengerjakan soal-soal latihan dengan mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan.
  6. Pada akhir kegiatan belajar Anda harus mengerjakan tes formatif yang disediakan dengan sungguh-sungguh. Bila Anda telah mampu mencapai skor yang ditetapkan maka Anda dapat meneruskan ke kegiatan belajar berikutnya. Jika belum, ulangilah membaca kegiatan belajar sebelumnya.

Baca Juga : Hakikat Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *