Membangkitkan Sekolah atau Madrasah Untuk Generasi Emas

membangkitkan sekolah madrasah
membangkitkan sekolah madrasah
Share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone

Kebangkitan Nasional ditandai dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Melalui Boedi Oetomo inilah pendidikan Indonesia bangkit. Spirit inilah yang harus terus dibangkitkan dalam setiap kali memperingati hari Kebangkitan Nasional. berikut kiat membangkitkan sekolah madrasah.

Kebangkitan adalah semangat untuk menjadi lebih baik dalam menyongsong masa depan yang lebih baik pula. Dalam sejarah pendidikan Indonesia—Madrasah atau Sekolah, sebagai institusi pendidikan yang tua, setelah pesantren, di bawah naungan Kementerian Agama—baru ‘berasa’ mendapatkan pengakuan dari pemerintah setelah dimasukkan dalam UU Sisdiknas 2003.

Bahkan, setelah itupun, dalam kenyataannya perlakuan tidak samapun masih menimpa Madrasah atau Sekolah. Contoh yang masih hangat di ingatan adalah ‘dibegalnya’ siswa-siswa MI Kalirejo, Kecamatan Ungaran Timur, MI Al Bidayah, Desa Candi, Bandungan, dan MI Wonokasihan, Desa/Kecamatan Jambu (Suara Merdeka, 11/03/15) untuk melaju OSN (Olimpiade Sains Nasional) ke tingkat Provinsi. Alhamdulillah-nya, protes keras atas kasus ini, membuka pikiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan untuk mengumumkan bahwa OSN dibuka untuk semua siswa (Suara Merdeka, 12/3/15)

Masuknya Madrasah atau Sekolah di dalam UU Sisdiknas 2003 memberikan angin segar bagi pengembangan dan bangkitnya Madrasah atau Sekolah. Dari tahun ke tahun, citra Madrasah atau Sekolah mulai membaik. Inilah yang diungkapkan oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin (LHS), ketika berbincang dengan penulis, setelah acara pembukaan Perkemahan Pramuka Madrasah atau Sekolah Nasional (PPMN) I di Lapangan Tembah Akmil Magelang (12/05/15).

LHS mengungkapkan bahwa PPMN I harus menjadi momentum kebangkitan Madrasah atau Sekolah. Menurutnya, indikator-indakator kebangkitan Madrasah atau Sekolah yang nyata adalah pertama, mulai membaiknya citra Madrasah atau Sekolah di publik. Kini, banyak orangtua yang mempercayakan pendidikan anak-anaknya di Madrasah atau Sekolah. Akhirnya, Madrasah atau Sekolah-Madrasah atau Sekolah (baik yang negeri maupun swasta) kini menolak calon peserta didik karena terbatasnya daya tampun ruang kelas.

Kedua, capaian-capaian prestasi akademik maupun non akademik siswa-siswi Madrasah atau Sekolah, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional. Tahun ini tercatat ribuan siswa-siswi Madrasah atau Sekolah Aliyah telah diterima di Perguruan Tinggi Negeri ternama, seperti UI, UGM, UNY, ITB, IPB, ITS dan UNDIP. Sebelum tahun 2000-an, sudah mendapatkan kenyataan yang seperti ini. Untuk non akademik misalnya, Bahana Swara Marching Band Madrasah atau Sekolah Salafiyah menyebet juara untuk beberapa kategori dalam Kejuaraan Nasional Hamengku Buwono Cup 2015 (Suara Merdeka, 19/05/15). Dan masih banyak lagi deretan daftar prestasi akademik dan non akademik siswa-siswi Madrasah atau Sekolah tingkat nasional maupun internasional.

Modal Kebangkitan Madrasah atau Sekolah

Kenyataan-kenyataan tersebut menjadi alasan yang kuat bagi LHS untuk mengajak masyarakat Madrasah atau Sekolah bangkit, bangkit untuk menjadi “Madrasah atau Sekolah lebih baik#lebih baik Madrasah atau Sekolah” sebagaimana motto yang sering didengungkan selama ini. Madrasah atau Sekolah sudah memiliki modal yang kuat untuk bangkit. Modal sejarah, bahwa Madrasah atau Sekolah adalah akar pendidikan Indonesia yang sudah banyak berkontribusi pembangunan karakter bangsa dan negara. Modal sejarah itulah yang kemudian membangkitkan modal semangat untuk berprestasi dan belajar.

Penulis pernah berkunjung ke MI Wonokasihan, Desa/Kecamatan Jambu yang salah satu siswanya bernama M. Bahrul Alam, yang terganjal ikut OSN tingkat Provinsi, namun Juara I OSN bidang IPA Tingkat Kabupaten Semarang. Di sana kondisi Madrasah atau Sekolahnya jauh dari standar nasional—untuk mengatakan masih memprihatinkan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi yang terbatas, semangat belajar dan berprestasi siswa-siswi Madrasah atau Sekolah tidak bisa dibendung lagi.

Program Kebangkitan Madrasah atau Sekolah

Modal untuk bangkit sudah dikantongi Madrasah atau Sekolah. Pertanyaan berikutnya adalah melalui program apa kebangkitan tersebut adakan diwujudkan? Sejauh diskusi yang pernah penulis lakukan di berbagai pertemuan dengan berbagi stakeholder Madrasah atau Sekolah ada dua program penting yang mendesak harus segera dilakukan untuk kebangkitan Madrasah atau Sekolah.

Pertama, kebangkitan kualitas guru. Memang diakui bahwa banyak diskusi tentang mutu pendidikan selalu berpusat pada input sistem, seperti infrastruktur, rasio murid-guru, dan sebagai. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perhatian telah bergeser kepada proses pendidikan. Nah, proses pendidikan yang baik akan menghasilkan anak didik yang baik. Untuk menjadi proses pendidikan yang baik, harus dicetak guru-guru yang baik pula.

Mckindsay (2007) mengatakan bahwa The quality of an education system cannot exceed the quality of its teachers (kualitas sistem pendidikan tidak akan melampaui kualitas guru-gurunya). Ini artinya, untuk membangkitkan kualitas Madrasah atau Sekolah, maka membangkitkan kualitas guru adalah sebuah keniscayaan. Guru yang baik akan memberikan impact yang luas bagi outcomes siswa-siswi.

Kedua, selama ini persoalan penting yang dihadapi Madrasah atau Sekolah adalah keterbatasan dana. Dana pemerintah yang disalurkan melalui Kementerian Agama untuk lebih dari 75 ribu Madrasah atau Sekolah di Indonesia masih jauh panggang dari api—untuk mengatakan tidak cukup. Oleh sebab itu, diperlukan aksi-aksi untuk menyakinkan kepada DPR, BAPPENAS dan Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan agar anggaran pendidikan untuk Madrasah atau Sekolah disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Sebab harus diakui, Madrasah atau Sekolah telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi pencerdasan bangsa. Bagaimana mungkin hal ini tidak didukung dengan memberikan anggaran dana pendidikan yang layak?
Kiranya dua hal tersebut menjadi langkah awal yang penting bagi kebangkitan Madrasah atau Sekolah, sebagaimana yang diungkapkan LHS. Semoga.

Penulis : HAMAM FAIZIN, Kognitariat pada Direktorat Pendidikan Madrasah atau Sekolah Kementerian Agama

 

Postingan Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*