Forum Sesi 4 KKF Konflik Layanan Transportasi Berbasis Aplikasi

Forum Sesi 4 KKF Konflik Layanan Transportasi Berbasis Aplikasi
Forum Sesi 4 KKF Konflik Layanan Transportasi Berbasis Aplikasi
Share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone

Konflik Layanan Transportasi Berbasis Aplikasi

Solusi mengatasi polemik taksi online versus taksi konvensional bukan dengan cara melarang atau menutup layanan taksi online. Seharusnya, hadirnya taksi online seperti Uber, Grab Car, atau Ojek Online harus dilihat secara substansif. Mengapa keberadaan moda angkutan itu disukai kehadirannya oleh masyarakat? menjadi konflik layanan transportasi

Penyelesaian yang dilakukan pemerintah menginginkan pendekatan yang sangat formalistik dan normatif dengan merujuk berbagai regulasi yang ada. Menteri Perhubungan pada saat itu, mengirim surat kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang berisi permintaan pemblokiran aplikasi Uber dan Grab di Indonesia.

Sangat disayangkan jika keputusan pemerintah menutup transportasi online. Apalagi faktanya masyarakat senang dengan Uber dan Grab karena lebih banyak pilihan dan relatif lebih murah.

Ini juga membantu pemerintah menyediakan angkutan publik lebih banyak. Banyak masyarakat beralih dari mobil pribadi ke Uber dan Grab. Mengapa? karena akses mendapatkan taksinya lebih mudah dan murah.

Dengan perkembangan demikian, seharusnya pemerintah mengkaji aturan yang ada sehingga sesuai dengan perkembangan teknologi dan zaman. Jangan selalu regulatif, juklak, juknis, tetapi juga berpikir out of the box. Kalau aturan justru merugikan dan ternyata memberatkan masyarakat, aturannya perlu diubah.

Saya yakin mematikan Uber dan Grab akan melahirkan protes dan gerakan dari masyarakat yang akan membuat petisi dan sebagainya. Di beberapa negara sudah melegalisasi adanya taxi online, walaupun juga ada yang melarangnya.

Situasi sekarang bisa saja taksi terlalu mahal atau terbatas pada jam-jam sibuk sehingga perlu ada tambahan moda angkutan umum tersebut, Uber serta Grab merupakan salah satu pilihan, jadi jangan dimatikan.

Latar Belakang Permasalahan Transportasi Online

Arus globalisasi yang begitu deras membuat perkembangan teknologi menjadi begitu cepat dan tak terelakkan. Apalagi di era internet saat ini penyebaran informasi menjadi lebih mudah dan lebih efisien. Hal ini tak disia-siakan oleh para pelaku usaha. Mereka melihat ada peluang yang terbuka lebar di sana. Negara Amerika menjadi pelopor pemanfaatan teknologi ini dalam bidang transportasi. Mereka membuat sebuah aplikasi online yang bisa digunakan untuk memesan alat transportasi-dalam hal ini taksi- dengan mudah dan cepat akan tetapi menjadi konflik layanan transportasi. Aplikasi ini bernama Uber yang ada sejak tahun 2009.

Indonesia sebagai negara berkembang tentunya tak bisa menghindar dari arus globalisasi ini. Sekumpulan anak muda Indonesia dengan mengikuti sistem Uber dari Amerika ini berhasil membuat aplikasi serupa tetapi bukan untuk taksi, melainkan ojek, yang lebih dikenal dengan Gojek. Sejak adanya Gojek, masyarakat dimudahkan untuk berpergian terutama untuk melewati hadangan macet ibukota yang begitu pelik. Seiring berjalannya waktu, mulai ada konflik antara pengemudi Gojek dengan pengemudi ojek non-aplikasi atau konvensional. Sering terjadi pencekalan antar pengemudi, sampai kekerasan fisik. Hal ini membuat kami tertarik untuk menelaah lebih lanjut tentang pengaruh masuknya transportasi berbasis aplikasi ini ke Indonesia terhadap segala aspek kehidupan masyarakat.

Apa dampak dari hadirnya layanan transportasi berbasis aplikasi ke Indonesia?

Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan Internet, merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas ekonomi dan budaya.

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

Uber, sebuah perusahaan internet asal Amerika yang menghubungkan pengemudi dengan pengendara, merupakan startup dengan pendanaan terbesar di dunia dan memiliki nilai valuasi USD 40 miliar (Rp 492 triliun). Uber secara total telah mendapatkan pendanaan sebesar USD 2,7 miliar (Rp 33 triliun) selama lima tahun beroperasi.

Arsitek dibalik kelahiran Uber adalah Garret Camp dan Travis Kalanick. Keduanya merupakan entrepreneur kawakan yang masing-masing sudah pernah menjual perusahaan teknologi mereka menjadi konflik layanan transportasi. Garret menjual StumbleUpon, mesin penjelajah internet kepada eBay pada tahun 2007 seharga USD 75 juta (Rp 923 miliar). Sedangkan Travis Kalanick telah menjual Red Swoosh, perusahaan berbagi file kepada Akamai senilai USD 19 juta (Rp 234 miliar).Garret dan Travis lalu bertemu pada tahun 2008 di sebuah konferensi teknologi di Paris, dimana Garret menceritakan idenya untuk menjalankan layanan mobil mewah yang nyaman dan terjangkau. Setahun kemudian, Uber (saat itu bernama UberCab) diluncurkan.

Garret memiliki ide ingin memecahkan masalah besar di San Fransisco – sulitnya mendapatkan taksi. Awalnya, Garret dan Travis setuju untuk membagi biaya pengemudi, mobil Mercedes S Class, dan sebuah tempat parkir di garasi. Lalu kedua co-founder akan bisa menelusuri kota San Fransisco menggunakan aplikasi Uber di iPhone. Namun, begitu banyak hal telah berubah sejak saat itu.

Uber saat ini memiliki lima pilihan kendaraan: Taxi, Black (mobil sedan mewah), SUV, LUX (pilihan mobil paling mewah), dan UberX (layanan mobil dari sesama pengguna). Selain itu, Uber juga memiliki sejumlah produk yang masih dalam tahap testing seperti Essentials dan Rush. Essentials merupakan jasa pengiriman barang-barang esensial seperti snack, minuman ringan, dan perlengkapan medis. Dan Rush merupakan jasa kurir.Saat ini Uber beroperasi tidak hanya di San Fransisco, tapi di lebih dari 250 kota di 50 negara. Mereka memiliki rencana menciptakan satu juta pekerjaan pada tahun 2015, dan memiliki impian dimana pengendara tidak perlu lagi membeli sebuah mobil karena berkendara dengan Uber akan menjadi alternatif yang lebih murah nantinya.

Akibat arus globalisasi, Nadiem Makarim, Brian Cu and Michaelangelo Moran terilhami oleh perusahaan Uber di Amerika Serikat untuk mendirikian perusahaan serupa, namun bukan untuk taksi, melainkan ojek yang notabene adalah alat transportasi favorit masyarakat Indonesia. Sebelum mendirikan Gojek, mereka memang sudah bekerja di dunia teknologi dan internet. Mereka mendirikan perusahaan Gojek ini di tahun 2011 yang terus berkembang hingga menjadi sekarang ini sudah memiliki 200.000 driver.

Memang, kehadiran Gojek ini berhasil memberikan kemudahan bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat perkotaan yang sangat sibuk. Di samping aksesnya cepat, tarifnya juga lebih murah dari ojek konvensional. Tetapi, kita harus melihat dari sudut pandang lain. Alangkah egoisnya kita jika hanya melihat keuntungan dan kemudahan yang kita peroleh tanpa memikirkan bagaimana nasib para tukang ojek konvensional menjadi konflik layanan transportasi. Menurut kami, tukang ojek itu adalah orang-orang yang kreatif. Kebanyakan dari mereka awalnya adalah karyawan-karyawan di perusahaan yang kemudan terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) akibat resesi ekonomi, mereka adalah korban. Setelah kehilangan pekerjaan, mereka tidak lantas putus asa dan menyalahkan pemerintah. Membeli motor dengan cara kredit, kemudian mencari nafkah dengan motor itu menjadi tukang ojek, itu yang mereka lakukan. Mungkin inilah pilihan pekerjaan terakhir mereka demi mencari nafkah demi menghidupi anak dan istri. Kemudian datanglah Gojek, mengubah segalanya.

Banyak orang yang menilai bahwa para tukang ojek ini tidak mampu bersaing. Ya, memang benar mereka tidak mampu bersaing. Karena ini memang pilihan pekerjaan terakhir. Persaingan mereka hanya sebatas pada persaingan dengan tukang ojek lain. Sungguh malang nasib mereka, sudah menderita, kemudian mencoba bangkit, masih diganggu pula. Istilahnya sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Saat mencoba bangun, malah tertimpa bangunan. Tak heran kalau sering terjadi bentrok antara tukang ojek dengan Gojek, karena ini masalah makan tak makan. Para tukang ojek murni tujuannya untuk mencari makan sementara kebanyakan para supir Gojek hanya sekedar ingin mencari uang tambahan.

Pertanyaan yang muncul, di manakah hati nurani dan kesetiakawanan para supir Gojek sebagai sesama warga negara Indonesia? Sepertinya warga negara Indonesia terbentuk hanya kerana satu bangsa dan satu teritorial, tidak ada rasa simpati dan empati. Memang, menjadi supir Gojek untuk mencari uang tambahan tidak melanggar hukum. Tetapi, apakah semua hanya soal melanggar hukum atau tidak? Tentunya tidak. Kami pikir harus ada etika juga di sana konflik layanan transportasi. Kemudian ada yang menyalahkan para tukang ojek yang tidak mau mendaftar ke perusahaan Gojek. Memang, ada beberapa tukang ojek yang mau mendaftar tetapi sayangnya mereka tidak kebagian tempat karena digeser oleh para pencari uang tambahan ini.

Mengenai tarif, ojek konvensional menggunakan tarif hasil tawar-menawar saja yang harganya lebih tinggi dari tarif Gojek karena memang sesuai dengan beban bahan bakar dan tenaga yang dikeluarkan para tukang ojek, Sementara Gojek menawarkan tarif per kilometer yang lebih murah karena banyak promo yang mereka berikan. Tarif Gojek yang murah ini berasal dari subsidi perusahaan Gojek itu sendiri. Dari hal ini dapat diketahui bahwa Gojek memiliki agenda besar yaitu ingin memonopoli atau menguasai pasar ojek di Indonesia. Mereka rela rugi di awal dengan mengeluarkan banyak promo, setelah mereka mendapat pelanggan yang banyak dan masyarakat sudah nyaman menggunakan Gojek, konflik layanan transportasi mereka akan mengembalikan ke tarif aslinya dan mulai mendapat keuntungan besar dari pasar yang telah mereka kuasai. Polanya selalu sama dan berulang-ulang terjadinya. Seperti halnya warung-warung kecil yang banyak berkembang di Indonesia, datanglah kekuatan besar bernama minimarket dan supermarket menguasai pasar dan secara perlahan mematikan bisnis warung.

Respon pemerintah terhadap hal ini perlu dipertanyakan juga. Setelah kemarin perusahaan Gojek sempat dilarang, kemudian kurang dari 24 jam Presiden mencabut pelarangan tersebut. Padahal, pelarangan perusahaan Gojek itu cukup beralasan karena tidak adanya izin dan tidak adanya ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi sebagai sebuah perusahaan transportasi. Tetapi, Presiden memilih untuk mencabutnya dengan alasan kenyamanan rakyat. Sadarkah kita bahwa negara Indonesia adalah negara dunia ketiga? Mungkin belum saatnya kita untuk merasakan kenyamanan-kenyamanan seperti orang-orang Amerika sana yang merupakan negara adidaya. Pemerintah seharusnya juga memikirkan nasib para tukang ojek konvensional. Mereka juga rakyat yang butuh kenyamanan!

Baca Juga : LK. 3 Persilangan Monohibrid dan Dihibrid

Postingan Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*