Karakteristik Penyandang Autis Pada Peserta Didik

Karakteristik Penyandang Autis Pada Peserta Didik
Karakteristik Penyandang Autis Pada Peserta Didik

Merujuk pada definisi autis, maka karakteristik penyandang autis memiliki hambatan dominant pada peserta didik autis adalah sebagai berikut:

1) Perilaku terbatas dan Perilaku mengulang

Hambatan tentang perilaku terbatas meliputi hambatan yang terjadi di beberapa area berikut ini antara lain: sangat meyukai perilaku yang diulangulang, misalnya flapping danmenata mobil mainan, mempunyai cara komunikasi yang tidak lazim/unik antara lain echolalia, monologues, jargon. Cenderung melakukan kegiatan yang sama atau rutin, cenderung memiliki ketertarikan yang dominan pada hal-hal yang spesifik (highly restricted, fixated special interests). Memiliki sensori yang terkadang sangat sensitive atau sebaliknya (Hyper-or hypo-reactivity to sensory input). Memiliki sensori terhadap lingkungan yang tidak lazim sepertibenda berputar, pembauan/penciuman, perabaan, dan sejenisnya itu merupakan karakteristik penyandang autis

2) Hambatan kumunikasi dan berinteraksi sosial

Hambatan komukasi sosial dan interaksi sosial meliputi hambatan yang terjadi dibeberapa area berikut ini antara lain: karakteristik penyandang autis  membuka dan melanjutkan percakapan, komunikasi secara non verbal, berbagi kesenangan atau hobi dengan orang lain, memahami emosi yang terjadi pada diri sendiri dan orang lain, berinisiatif untuk melakukan interaksi sosial, memelihara dan mengembangkan suatu hubungan dalam pergaulan, tidak tertarik untuk berteman, perilaku yang sulit beradaptasi terhadap suatu perubahan, hambatan dalam berbicara dan logika berpikir.

Bila dilihat dari penampilan luar secara fisik, maka peserta didik autis tidak berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya. Perbedaannya baru dapat dilihat apabila mereka melakukan aktivitas seperti : berkomunikasi, bermain dsb. Ronald (1992) mengatakan bahwa anak dengan gangguan autisme tidak akan merespon stimulus dari lingkungan sebagaimana mestinya, memperlihatkan kemiskinan kemampuan dan sering merespon lingkungan secara aneh.

Leo Kanner dalam Peeters (1994) dan Widyawati (2002) memberikan penjelasan mengenai karakteristik penyandang autis yang khusus anak-anak dengan autisme. Dengan memahami karakteristiknya ini kita dapat membedakan peserta didik autis dengan anak yang lain yang bukan karakteristik penyandang autisme. Karakteristik tersebut ditinjau dari interaksi sosial, komunikasi dan pola bermain,serta aktivitas dan minat.

Baca Juga : Contoh Renstra Pendidikan Bidang Kesehatan Lengkap

Karakteristik dari segi interaksi social

Anak dengan autisme dapat dikenali dengan memahami interaksi sosialnya yang ganjil dibandingkan anak pada umumnya.Seperti :

  1. Menolak bila ada yang mau memeluk
  2. Tidak mengangkat kedua lengannya bila diajak untuk digendong
  3. Ada gerakan pandangan yang abnormal
  4. Gagal menunjukkan suatu objek kepada orang lain
  5. Sebagian anak autistic tak acuh dan tak bereaksi terhadap pendekatan orangtuanya,tapi sebagian lainnya malahan merasa terlalu cemas bila berpisah dan melekat pada orangtuanya
  6. Gagal dalam mengembangkan permainan bersama teman-teman sebayanya, merekalebih suka menyendiri
  7. Keinginan untuk menyendiri sering tampak pada masa kanak-kanak dan akan makin berkurang sejalan dengan bertambah usianya
  8. Tidak mampu memahami aturan-aturan yang berlaku dalam interaksi sosial
  9. Tidak mampu untuk memahami ekspresi wajah orang, ataupun untuk mengekspresikan perasaannya baik dalm bentuk vocal ataupun dalam ekspresi wajah.

Walaupun mereka berminat untuk mengadakan hubungan dengan teman-teman, sering kali terdapat hambatan karena ketidak mampuan mereka memahami aturan-aturan yang berlaku dalam interaksi sosialtersebut.Kesadaran sosial yang kurang ini mungkin yang menyebabkan mereka tidak mampu untuk memahami ekspresi wajah orang, ataupun untuk mengekspresikan perasaannya baik dalam bentuk vocal ataupun dalam ekspresi wajah. Kondisi diatas menyebabkan anak dengan autisme tidak dapat berempati kepada oang lain.

Karakteristik dari segi komunikasi dan pola bermain

Sekitar 50% penyandang autisme mengalami keterlambatan dan abnormalis dalam berbahasa. Hal ini merupakan keluhan yang paling sering disampaikan oleh orang tua anak-anak dengan autisme dan karakteristik penyandang autis. Bergumam yang biasanya pada tahap perkembangan bicara yang normal muncul sebelum dapat mengucapkan kata-kata pada anak penyandang autisme hal ini mungkin tidak nampak. Dalam hal berbicara, bila ada orang berbicara terhadap anak penyandang autisme, sering mereka tidak mampu memahami ucapan yang ditujukan pada mereka.Bila tertarik pada sesuatu objek/benda, biasanya mereka tidak menunjuk atau memakai gerakan tubuh untuk menyampaikan keinginannya, tetapi dengan mengambil tangan orangtuanya untuk dipakai mengambil objek yang dimaksut. mereka juga mengalami kesukaran dalam memahami arti kata-kata serta penggunaan bahasa yang sesuai konteksnya.Seperti menggunakan kata ganti orang terbalik, “saya” dipakai sebagai kata ganti untuk orang lawn bicaranya, sedangkan menyebut dirinya sendiri dengan kata ganti “kamu”. Mereka sering terlihat senang mengulang kata-kata yag baru saja mereka dengar atau yang pernah ia dengar sebelumnya tanpa maksut digunakan untuk komunikasi, sering berbicara pada dirinya sendiri, dan mengulang-ulang potongan lagu atau iklan televise dan mengucapkan dalam suasana tidak sesuai.

Baca Juga :  Konsep Permainan Untuk Anak Usia Dini

Anak-anak ini juga mengalami kesukaran dalam berkomunikasi walaupun mereka dapat berbicara dengan baik. Misalnya karena ia tidak tahu kapan gilirannya bicara, bagaimana memilih topik pembicaraan. Mereka sering terus mungulang-ulang pertanyaan biarpun mereka telah mengerti jawabannya atau memperpanjang topik pembicaraan yang ia sukai tanpa mempedulikan lawan bicaranya.

Anak ini berbicara sering monoton, kaku dan menjemukan.mereka suka mengatur suara volume dan intonasi suaranya, tidak tahu kapan harus merendahkan volume suara., misalnya membicarakan hal yang pribadi dia tetap berbicara denga keras. Mereka mengalami kesukaran dalam mengekspresikan perasaan/emosi melalui suara. Dalam komunikasi non-verbal ia juga mengalami gangguan. Mereka sering tidak menggunakan gerakan tubuh dalam berkomunikasi untuk mengungkapkan prasaannya dan untuk merasakanperasaan orang lain seperti menggelengkan kepala, melambaikan tangan , mengangkat alis, dsb.

Karakteristik dari segi aktivitas dan minat

Pada aspek ativitas dan minat, anak penyandang autisme memperlihatkan abnormalitas dalam bermain, seperti stereotipi, diulangulang, dan tidak kreatif.Beberapa anak mungkin tidak menggunakan alat mainannya sesuai dengan yang seharusnya. Demikian juga kemampuan untuk menggantikan satu benda dengan benda lain yang sejenis sering tidak sesuai. Anak penyandang autisme menolak adanya perubahan lingkungan dan rutinitas baru. Misalnya; mereka akan mengalami kesukaran bila jalan yang biasa ia tempuh ke sekolah diubah atau piring yang biasa dipakainya untuk makan diganti. Mainan baru yang berminggu-minggu, kemudian baru ia bisa menerima. Contohnya; seorang anak penyandang autisme menangis bila waktu naik tangga ibunya tidak menggunakan kaki kanan terlebih dahulu.Mereka juga sering memaksakan orang tuanya untuk mengulang suatu kata atau potongan kata.

Dalam hal minat yang terbatas dan sering aneh. Misalnya mereka sering membuang waktu berjam-jam hanya untuk memainkan sakelar listrik, memutar-mutar botol, dsb.Mereka mungkin sulit dipisahkan dari suatu benda yang tidak lazim dibawa-bawa dan menolak meningglkan rumah tanpa bendabntersebut.Misalnya seorang anak laki-laki autism selalu membawa-bawa sebuah batu kemana saja dia pergi.Sehingga batu tersebut sudah menjadi sangat licin dan bersih.

Baca Juga : Pengertian Autis dan Derajat Autisme Dalam Pembelajaran

Postingan Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*