Ika Damayanti Lulusan Madrasah Kuliah Kedokteran di Jerman

Ika Damayanti Lulusan Madrasah Kuliah Kedokteran di Jerman
Ika Damayanti Lulusan Madrasah Kuliah Kedokteran di Jerman

Sambil menimba ilmu kedokteran di Universitas Leipzig Jerman, Ika Damayanti menyelesaikan hafalan Al-Qur’an yang sudah dimulainya saat masih berada di MAN Insan Cendekia Gorontalo. Aktifitas belajarnya yang padat di Jerman tidak menghalanginya untuk menambah hafalan ayat demi ayat. Al-Qur’an sudah menjadi sahabatnya sehari-hari.

Ia belajar Al-Qur’an di Masjid Al-Rahman Leipzig yang dibimbing  oleh beberapa temannya asal Suriah di akhir pekan. Ia juga melakukan muroja’ah; menyetorkan hafalannya di grup WhatsApp, MEMORIZING QURAN: Menghafal Quran 1 Hari 1 Ayat.

Nama lengkapnya Ika Damayanti Puasa. Ia dipanggil Ika, terkadang orang terdekat memanggilnya lebih singkat lagi “Ka”. Ika dari bahasa Sanskerta Eka artinya satu. Ia anak ke-1 dari tiga bersaudara. Damayanti terinspirasi dari Damai. Orangtuanya mengharapkan anak pertamanya menjadi jalan damai bagi agama, bangsa dan negara. Sedangkan Puasa adalah marga dari ayahnya Sumitro Puasa.

Setelah lulus SMP, awalnya ia memutuskan untuk melanjutkan belajar ke SMA dengan tetap membawa nilai-nilai Islam. Namun beberapa hari setelah Ujian Nasional, salah satu temannya memberikan brosur MAN Insan Cendekia Gorontalo, disingkat MAN ICG. Ia bersyukur akhirnya berhasil lolos tes seleksi yang cukup ketat.

Komitmen MAN ICG menjadi lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak generasi cerdas tetapi juga memiliki pengetahuan agama yang luas dibuktikan dengan sejumah prestasi yang didapatkan para siswanya di ajang Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ).

Pada MTQ Tingkat Kabupaten Bone Bolango yang diselenggarakanpada awal tahun 2012, kontingen MAN ICG yang mewakili kecamatan Tilongkabila kembali mengukir prestasi tertinggi dengan membawa pulang gelar juara di hampir seluruh kategori yang dilombakan dalam kegiatan tersebut.

Ika Damayanti Puasa waktu itu meraih Juara I pada cabang Hifdzil Qur’an atau menghafal Al-Qur’an untuk kelompok 10 Juz putri. Ia melengkapi daftar siswa ICG lainnya yang memperoleh juara untuk cabang Hifdzil Qur’an. Juara lainnya diperoleh ICG untuk cabang Tilawah, Fahmil Quran, Khottil Quran, dan Syarhil Qur’an.

Namun ada peristiwa yang tidak akan terlupakan saat Ika mengikuti lomba MTQ. Saat itu tepat tanggal 31 Maret 2012 pagi, ayahnya berpulang ke Hadirat Allah SWT.

“Saya masuk ke rumah pagi itu dengan rasa campur aduk, sudah lama saya tidak berbicara dengan ayah langsung maupun lewat telepon, dan ayah sekarat sambil memanggil manggil nama saya dan adik-adik saya tanpa meninggalkan pesan sebelum meninggal,” kata Ika.

Dari kecil Ika mengaku sudah banyak mendengar dan melihat proses belajar mengajar di luar negeri, khususnya saat saya les bahasa Inggris. Ia tertarik dengan budaya dan bahasa yang baru, serta jaringan komunikasi yang luas. Keinginan itu dipertemukan dengan presentasi dari beberapa duta mengenai pendidikan di Jerman. Saya pun mulai mencari info mengenai kuliah di Jerman.

“Jerman merupakan negara yang sangat menghargai para student, fasilitas dan kemudahan di Jerman bagi mahasiswa terbukti dengan dihapusnya biaya kuliah di hampir semua negara bagian. Kemajuan kesehatan di Jerman yang didukung dengan banyak research baru dan fasilitas berteknologi tinggi, menggolongkan Jerman sebagai negara dengan pelayanan medis terbaik. Setiap orang memiliki hak yang sama terhadap pelayanan medis, hal ini didukung juga oleh asuransi kesehatan yang wajib bagi setiap warganya,’ katanya

“Dengan banyak info yang saya dapat, saya akhirnya meminta jawaban dari Allah, jika keinginan saya kuliah kedokteran di Jerman memang sesuai dengan kehendak Allah maka semoga Allah memudahkan langkah saya untuk kesana,” kata Ika.

Walaupun ia sudah diterima di jurusan kedokteran Universitas Hasanuddin, hatinya tergerak untuk tetap merealisasikan mimpinya belajar di Jerman.

“Ahamdulillah atas izin Allah segala proses bisa saya lewati mulai dari belajar bahasa hingga diterima di Universitas tertua kedua di Jerman, Universität Leipzig (Universitas Leipzig).

Ika menimba ilmu Kedokteran di Universitas Leipzig, Jerman. Pendidikan kedokteran terdiri dari 12 semester, 6 tahun 3 bulan yang setara dengan master degree secara internasional. Ika berencana setelah lulus akan melanjutkan spesialisasi di Jerman juga 6 tahun dan siap kembali untuk membangun tingkat kesehatan masyarakat Indonesia.

Proses belajar di Jerman secara umum hampir sama dengan di Indonesia. Para civitas akademis sangat menghargai dan mendukung penuh orang dengan usaha dan kerjanya yang keras. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan, tidak ada perbedaan usia dalam proses pendidikan di Jerman.

Ika Damayanti mulai menghafal Quran secara intensif saat masuk MAN ICG. Tahfidzul Quran adalah program setiap harinya, 30 menit sebelum proses belajar mengajar pagi hari dimulai dan 30 menit sebelum sholat Isya. Dalam program ini para santri dan santriwati mendapat buku hafalan, dimana setiap setoran hafalan atau murojaah tercatat di dalam buku itu.

“Fastabiqul khoirot, ya berlomba-lomba dalam kebaikan, beberapa teman-teman saya sudah hafidz sebelum beranjak ke MAN ICG, sehingga mereka menyetorkan hafalannya dengan penuh semangat, saya juga dengan semangat berusaha untuk memanfaatkan waktu itu dengan baik, hingga setoran saya telah melebihi target hafalan yang harus dicapai selama 3 tahun di MAN ICG,” kata Ika.

Pada 2012 saat diadakan kegiatan MTQ, saat itu Ika berumur 16. Ia mengikuti lomba tahfidz 10 Juz. “Saat itu hafalan saya 5 Juz, berarti saya harus mengejar 5 Juz dalam waktu singkat untuk mewakili MAN ICG,” katanya. Didukung oleh para hafidz hafidzah teman-temannya alhamdulillahIka bisa meraih juara 1 untuk bidang tahfidz atau hafalan Al-Qur’an.

Aktifitas menghadal Al-Qur’an masih dilanjutkan oleh Ika saat ini ketika berada di Jerman. Ia belajar Quran di masjid Al-Rahman Leipzig yang dibimbing  oleh beberapa temannya asal Siria di akhir pekan.

Secara intensif ia juga menghadiri pengajian muslimah Leipzig yang diadakan 2 minggu sekali, mengaji Al-Quran dan juga membahas Hadits. Selain itu, untuk murojaah saya menyetorkan hafalan saya di grup WhatsApp, MEMORIZING QURAN: Menghafal Quran 1 Hari 1 Ayat.

“Saya berencana menyelesaikan hafalan Quran saya dan bisa memperkenalkannya dalam terjemahan bahasa Jerman, khususnya di bidang kesehatan. Saya juga mendaftarkan diri di sebuah lembaga beasiswa Avicenna khusus untuk mahasiswa muslim, dalam rangka menjadi kader dan cendekiawan muslim yang berkarya dengan ilmu pengetahuan,” katanya. (*)

Ingin Kuliah di Jerman Seperti Ika Damayanti Puasa ini dia Tipsnya

1.Apa keunggulan kuliah di Jerman?

Ada beberapa alasan mengapa kuliah di Jerman sangat ideal:

a.Kualitas Perguruan Tinggi diJerman sangat tinggi. Para Profesor pengajarnya juga para ahli di bidangnya. Disamping itu link and match antara Perguruan Tinggi dan Indistri di Jermansangat terjalin bagus, sehingga ilmu yang ada di dunia kampus selalu berada diupdate terbaru. Semua sarana di kompleks kampus selalu lengkap memenuhikebutuhan mahasiswa, baik itu lab Komputer, lab jurusan, Perpustakaan(Bibliothek), Kantin (Mensa), dan Gedung Olahraga (Sporthalle)

b.Secara geografis, Jerman terletak di sentral Eropa. Berbatasan langsung dengan 9 negara Eropa lainnya.Ini sangat memudahkan mahasiswa untuk mobile dan mengadakan perjalanan diEropa, baik untuk keperluan perkuliahannya, maupun menambah wawasan danpengalaman.

c.Jerman adalah salah satu negarayang menjadi parameter kemajuan Eropa, baik di bidang Teknologi, Pendidikan,Ekonomi, Sosial maupun Pertahanan. Saat ini Jerman menduduki ranking ekonomi ke4 dunia, dan sudah sekitar 250 perusahaan Jerman ada di Indonesia.

d.Pemerintah Jerman mensubsidipenuh Perguruan Tinggi Negeri di Jerman. 90% Perguruan Tinggi di Jerman adalahPerguruan Tinggi Negeri. Hal ini memungkinkan system Pendidikan Tinggi tanpaadanya biaya kuliah yang harus ditanggung mahasiswa. Dan ini berlaku sama, baikbuat mahasiswa Jerman maupun dari luar Jerman.

e.Sistem Pendidikan TInggi Jermanyang sejak 2008 menganut system Internasional (Bachelor, Master, Doktor), sehinggalulusannya tidak mengalami masalah di dunia kerja internasional.

f.Mahasiswa di Jerman, baik warganegara Jerman maupun luar Jerman, mempunyai hak secara legal untuk bekerjasebagai mahasiswa, baik part time di waktu semester berjalan, maupun penuh di masaliburan. Hal ini tentunya akan menjadi pengalaman yang mahal bagi mereka,karena dapat merasakan bekerja bersama sebuah tim perusahaan Jerman, mengenalsystem kerja mereka, etos kerja mereka. Di samping juga mendapat tambahanpenghasilan yang cukup besar, karena liburan musim dingin sekitar satu bulan,dan musim panas sekitar dua bulan.

g.Persaingan memasuki PerguruanTinggi Negeri di Jerman tidak terlalu tinggi jika disbanding rasio persainganmemasuki Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Bahkan beberapa jurusan beberapaPerguruan TInggi di Jerman mempunyai daya tampung lebih besar dari pelamar.

2.Ada berapa banyak Universitas dan jurusan S1 yang ada di Jerman?

Jerman memiliki sekitar 421 Perguruan Tingggi, dan sekitar 90% darijumlah itu adalah Perguruan Tinggi Negeri, yang berarti bebas biaya kuliah(subsidi dari Pemerintah Jerman). Untuk jenjang S1 (Bachelor) ada sekitar 350program studi, sementara untuk jenjang S2 hampir mencapai 1000 program studi.

3.Bagaimana Sistem Pendidikan Tinggi di Jerman?

Ada beberapa jenis Perguruan Tinggi di Jerman. Yang paling banyakadalah Universitaet dan Hochschule. Perbedaan keduanya adalah Universitaetberorientasi mencetak lulusan yang kelak menjadi tenaga professional sepertipeneliti, dosen, pakar hokum dll. Sementara Hochschule lebih berorientasimencetak lulusan yang siap terjun dan menggeluti dunia industri atau duniakerja. Sehingga di Hochschule tidak akan ditemui perkuliahan untuk jurusanKedokteran, Hukum, Psikologi dan sejenisnya.

Disamping kedua jenis Perguruan Tinggi tersebut, masih adaBerufakademie, Sekolah Tinggi Musik, Sekolah Tinggi perfilman dan lain-lain.

4.Jika saya ingin kuliah di Jerman apa saja yang perlu saya siapkan?Dan apa saja syaratnya?

Syarat awal adalah Nilai UN Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA, MA)yang tidak boleh di bawah 6. Untuk jurusan Kedokteran yang merupakan jurusanyang banyak peminatnya, disarankan nilai minimal 7.

Selain itu adalah syarat bahasa, yakni minimal level B1, lebih baikB2.

Pemerintah Jerman juga mensyaratkan adanya biaya hidup selama satutahun yang harus sudah ada sebelum siswa berangkat ke Jerman.

Syarat lain yang sebenarnya bukan syarat formil, namun seringkalimenjadi factor yang penting dalam kesuksesan studi di Jerman adalah motivasidan mental, ini pun harus disiapkan agar siswa siap terjun di lingkungan barudi Jerman.

5.Apakah semua lulusan SMA, SMK dan sekolah internasional dapat melanjutkan kuliah di Jerman?

Lulusan SMA (Sekolah Menengah Atas) dan MA (Madrasah Aliyah) yangmempunyai ijazah UN dan memenuhi syarat bisa menempuh kuliah di Jerman. Jugalulusan SMK yang berdurasi 4 tahun, dengan mengambil jurusan yang sesuai dengansaat SMK.

Lulusan Internasional yang diakui adalah A-Level.

Postingan Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*