Identifikasi Serbuk Sari

Identifikasi Serbuk Sari
Identifikasi Serbuk Sari

Pada proses identifikasi serbuk sari dapat dilakukan dengan mikroskop cahaya dan pengamatan ultrastruktur dengan SEM, identifikasi berdasarkan karakteristik berupa ukuran, bentuk, apertura, dan permukaan eksin (Faegri et al. 1964; Smith 2000).

Ukuran. Ukuran dan volume serbuk sari bervariasi secara alamiah karena faktor genetik dan lingkungan yang berbeda. Ukuran dapat berubah dari bunga ke bunga atau dari anter ke anter pada bunga yang sama. Temperatur dan ketersediaan air juga dilaporkan mempengaruhi ukuran serbuk sari. (Smith 2000).

Bentuk. Bentuk serbuk sari ditentukan secara genetik dan lingkungan. Bentuk butir serbuk sari dapat dilihat dari pandangan polar dan equatorial, ditentukan berdasarkan perbandingan antar panjang aksis polar (P) dan diameter ekuatorial (E), diekspresikan dalam bentuk indeks polar/ekuatorial (P/E Index), yaitu rasio panjang dari kutub ke kutub dibandingkan lebar ekuatorial. Ekuator adalah zona berjarak sama (equidistant) di antara kutub-kutub (Kapp 1969). Serbuk sari dari spesies tumbuhan yang sama atau berkerabat dekat cenderung memiliki morfologi yang serupa. Faktor lingkungan internal dan eksternal juga turut berperan membentuk serbuk sari. Jika lingkungan internal tidak sama, bentuk serbuk sari dari spesies yang berkerabat dekat atau bahkan sama mungkin menghasilkan perbedaan nyata. Serupa dengan itu, jika faktor lingkungan eksternal tidak sama, serbuk sari akan sangat berbeda tanpa memandang kedekatan kekerabatannya. Kecenderungan kemiripan serbuk sari antar spesies yang berkerabat dapat ditekan oleh perkembangan karakter yang dicetuskan oleh pengaruh luar sehingga sedikit kemiripan yang dapat dikenali (Wodehouse 1965; Smith 2000).

 Apertura. Apertura atau bukaan adalah suatu area tipis pada eksin yang berhubungan dengan perkecambahan serbuk sari, berfungsi sebagai titik keluar tabung serbuk sari yang mengakomodasi perubahan volume di dalam serbuk sari ketika mengalami hidrasi atau pengeringan. Apertura melintas dari eksin ke intin, dan dibedakan menjadi dua tipe yang bermanfaat untuk mengidentifikasi, yaitu berupa celah memanjang disebut kolpi/kolpus (furrow) dan yang celah pendek atau berbentuk bulat disebut porus/pori (pore). Pada bagian tengah pori beberapa serbuk sari tampak suatu tudung sirkular (operkulum) yang merupakan sisa perkembangan dinding serbuk sari sebelumnya, dan seringkali gugur saat penyebaran serbuk sari yang telah matang. Pori pada serbuk sari dikelompokkan berdasarkan jumlahnya. Serbuk sari inapertura tidak mempunyai pori pada permukaannya. Serbuk sari yang mempunyai satu, dua, atau tiga pori-pori berturut-turut disebut monoporat, diporat, dan triporat. Serbuk sari lainnya mempunyai kolpus di permukaannya, dengan satu, dua, tiga, dan empat kolpi, berturut-turut disebut monokolpat, dikolpat, trikolpat, dan tetrakolpat (Faegri et al. 1964; Smith 2000).

Permukaan eksin. Serbuk sari juga mempunyai karakteristik permukaan berdasarkan tipe ornamentasi eksin yang menjadi alat mengidentifikasi. Tipe ornamentasi dapat dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, dan susunan ornamentasinya, yaitu: psilat, perforat, foveolat, skabrat, verukat, gernat, klavat, pilat, ekinat, rugulat, striat, dan retikulat. Permukaan psilat (Yunani: psilos-halus, rata) tidak menampakkan gambaran apa pun di permukaannya dan tampak halus rata, contohnya serbuk sari rumput. Di luar itu, ciri permukaan serbuk sari digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu yang tampak sebagai penekanan atau ridges pada eksin (retikulata, rugulata, dan striata), dan gambaran yang merupakan tonjolan dari eksin (bakulata, klavata, ekinata, gemata, skabrata, dan verukata). Permukaan retikulata (Latin: rete=jaring) adalah permukaan serbuk sari yang mirip jaring. Permukaan rugulata (Latin: ruga=keriput) mempunyai permukaan yang tidak teratur dengan garis-garis keriput yang tidak paralel. Permukaan striata (Latin: stria=garis) mempunyai permukaan bergaris halus yang tersusun hampir sejajar. Permukaan eksin bakulata (Latin: baculum=batang) adalah tonjolan berbentuk batang dengan diameter terbesar kurang dari tinggi tonjolan. Permukaan klavata (Latin: clava=gada) berbentuk tonjolan gada atau raket tenis yang apeks-nya lebih lebar dari dasarnya. Permukaan ekinata (Latin: echinatus-duri) adalah tonjolan berbentuk duri dan meruncing tajam dari dasar ke ujungnya. Permukaan gemata (Latin: gemma=tunas) adalah tonjolan berbentuk tombol pintu atau tonjolan bulat dengan dasar menyempit. Permukaan skabrata (Latin: scaber-bercak kecil) cenderung tampak sebagai permukaan kasar yang tersusun dari tonjolan-tonjolan sangat kecil berdiameter kurang dari satu mikron. Permukaan verukata (Latin: verucca-kutil) tampak tidak rata dengan tonjolan-tonjolan bulat yang tidak menyempit di dasarnya (Faegri et al. 1964; Smith 2000).

Baca Juga : LK.2 Pengamatan Serbuk Sari

 

Postingan Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*