Ciri-Ciri dan Perkembangan Kreativitas Belajar

Ciri-Ciri dan Perkembangan Kreativitas Belajar

Ciri-Ciri Kreativitas Belajar

Munandar (1992:51) Ciri-ciri kreativitas belajar seperti yang merupakan ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berfikir seseorang, dengan kemampuan berfikir kreatif. Makin kreatif seseorang ciri-ciri tersebut makin dimiliki dalam proses kreativitas belajar.

Ciri-ciri lain yang berkaitan dengan perkembangan afektif seseorang sama pentingnya agar bakat kreatif seseorang dapat terwujud. Ciri yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang disebut ciri-ciri afektif dari kreativitas. Motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, mengabdi atau mengikat diri terhadap suatu tugas termasuk ciri-ciri afektif kreativitas. Munandar (2004:71) menyebutkan ciri-ciri kreativitas yang meliputi:

1) Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam

2) Sering mengajukan pertanyaan yang baik

3) Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah

4) Bebas dalam menyatakan pendapat

5) Mempunyai rasa keindahan yang dalam

6) Menonjol dalam salah satu bidang seni

7) Mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi/sudut pandang

8) Mempunyai rasa humor yang luas

9) Mempunyai daya imajinasi

10) Orisinal dalam ungkapan gagasan dan dalam pemecahan masalah.

Perkembangan Kreativitas Belajar

Hawandi (2006:27-28) mengatakan kreativitas bisa tampil dini dalam kehidupan anak dan terlihat pada saat ia bermain. Suatu study menunjukkan bahwa puncak kreativitas dapat diraih pada usia 30 tahunan, akhirnya mendatar saja dan tahap demi tahap akan menurun. Beberapa faktor yang mempengaruhi kreativitas yaitu lingkungan, tekanan keuangan, dan kurangnya waktu bebas. Dan tidak ada bukti bahwa menurunnya kreativitas pada puncak perkembangan karena faktor hereditas. Yang pasti, pengaruh lingkungan lebih berpengaruh terhadap munculnya ekspresi kreativitas.

Ariety (1976) melaporkan beberapa periode kritis untuk perkembangan kreativitas selama masa anak dan dewasa sebagai berikut :

1) Usia 5-6 tahun

Sebelum seorang anak siap masuk sekolah, ia belajar untuk harus bisa menerima dan conform terhadap peraturan dan tata tertib orang-orang dewasa yang ada di rumah maupun di sekolahnya.

2) Usia 8-10 tahun

Keinginan untuk diterima sebagai anggota kelompok teman sebaya merupakan cirri dari periode ini. Kebanyakan anak merasa bahwa untuk diterima, mereka haruslah conform sedekat mungkin dengan pola-pola yang terbentuk dikelompok, dan setiap penyimpangan dari kelompok akan mengancam penerimaan kemampuannya.

3) Usia 13-15 tahun

Dalam upaya penerimaan kelompok, khususnya dari anggota-anggota yang berlawanan jenis membuat remaja mengendalikan pola perilaku mereka. Hal ini sama halnya dengan geang-age dimana siremaja menyesuaikan diri dengan tujuan agar bisa diterima oleh kelompoknya.

4) Usia 17-19 tahun

Pada usia ini, upaya untuk diterima sebaik mungkin dalam jurusan tertentu juga menghancurkan kreativitas. Jika penjurusan memerlukan konformnitas dalam pola yang baik serta harus diikuti oleh aturan dan tata tertib yang khusus, maka kreativitas tidak akan muncul.

Baca Juga : Pembinaan Karir Guru dan Pengembangan Profesi

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *