Cara Mendidik Siswa Agar Siswa Tidak Gagal Fokus Belajar

Cara Mendidik Siswa

SILABUS.ORG Tugas seorang guru di sekolah tidak hanya mengajar dan menyampaikan materi pelajaran semata. Namun, tugas berat bagi seorang guru adalah bagaimana mendidik dan menumbuhkan karakter positif bagi pesertadidiknya. Karena di setiap kelas terdiri dari berbagai macam karakter dengan tingkat sosial yang berbeda-beda sehingga banyak karakter yang akan ditemukan di kelas, mulai dari siswa malas, siswa nakal, tidak semangat belajar, dan lain-lain. Di sinilah peran seorang guru dibutuhkan agar mampu mendidik para siswanya menjadi pribadi yang lebih baik.

 

“Having eyes, but not seeing beauty; having ears, but not hearing music; having minds, but not perceiving truth; having hearts that are never moved and therefore never set on fire. These are the things to fear, said the headmaster.”    

 

 Terjemahan dari kutipan di atas :

” Memiliki mata, tetapi tidak melihat keindahan; memiliki telinga, tetapi tidak mendengar musik; memiliki pikiran, tetapi tidak mengetahui kebenaran; memiliki hati yang tidak pernah pindah dan karena itu tidak pernah dibakar. Ini adalah hal yang takut, kata kepala sekolah . ” ( Terjemahan : google translate)

 

Apa Bapak/Ibu ada yang sudah pernah membaca buku Totto Chan, Gadis Kecil di Jendela? Buku ini sudah banyak dijadikan rekomendasi di berbagai sekolah. Dengan gaya penulisan yang ringan, sang penulis, Tetsuko Kuroyanagi menceritakan memori masa kecilnya saat menempuh sekolah dasar di Tomoe Gakuen. Kobayashi

Nah, tapi di sini kami tidak akan membahas bukunya, melainkan salah satu tokoh inspiratif dalam buku. Beliau adalah pendiri, kepala sekolah, sekaligus guru di Tomoe Gakuen, Sosaku Kobayashi. Beliau dikenal sebagai sosok yang cerdas, hangat, dan juga berwibawa.

Menurut pandangannya, yang terpenting dalam sebuah sekolah bukanlah fasilitasnya. Cara mengajar untuk memicu semangat belajar anak-anak adalah modal pentingnya. Mr. Kobayashi mencoba keluar dari tradisi umum masyarakat dengan menerapkan metode mendidik yang tidak lazim. Namun, cara-cara tersebut justru memberi kesan dan pelajaran mendalam bagi siswanya.

 

Berikut adalah 15 hal yang dilakukan Mr. Kobayashi dalam mendidik siswa Tomoe:

1. Membangun sekolah dengan jerih payahnya sendiri.

Bangunan Tomoe Gakuen sangat unik karena menggunakan gerbong kereta bekas lengkap dengan relnya sebagai kelas.

2. Sebelum menjadi siswa di Tomoe, setiap anak ‘diwawancara’ terlebih dulu.

Wawancara di sini bukan untuk menentukan diterima atau tidak, melainkan untuk mengenal karakter setiap siswa. Selain itu, juga memancing agar siswa berani bebicara mengenai kejadian yang pernah dialaminya.

3. Menerima semua siswa tanpa pandang bulu.

Ada yang cacat fisik, kretinisme, hingga badannya berhenti bertumbuh.

4. Siswa dibebaskan untuk memilih mata pelajaran sendiri.

Ini dimaksudkan agar siswa dapat berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing.

5. Mengajak siswa ke perpustakaan.

Cara menumbuhkan minat baca pada siswa adalah dengan mengajak ke perpustakaan. Setelah itu, siswa diminta untuk menceritakan buku apa yang dibacanya.
kobayashi

6. Memberikan kepercayaan dan tanggung jawab penuh pada semua siswanya.

Contohnya, ketika Totto Chan kehilangan dompetnya, ia mencari di septic tank dan membuat halaman jadi kotor. Lalu Mr. Kobayashi mengatakan, “Kamu akan mengembalikan semua ke tempatnya semula, kan?”. Ini membuat siswa merasa harus lebih bertanggung jawab atas apa pun yang dilakukan.

7. Sering meminta siswa untuk berpidato singkat.

Para siswa bisa membahas hal apa saja yang diinginkan oleh mereka. Hal ini memacu keberanian siswa untuk berbicara.
kobayashi

8. Selalu menanamkan kata-kata positif pada siswa.

Misalnya kalimat, “Kamu benar-benar anak baik. Kamu tahu itu, kan?” yang selalu ia katakan pada Totto Chan.

9. Selalu menjadi pendengar yang baik sekaligus pemberi solusi.

Guru harus mampu menjadi sahabat bagi siswa-siswinya agar siswa lebih terbuka akan masalah yang dialaminya dan memberikan solusi yang terbaik bagi siswa. Karena setiap siswa memiliki latar belakang sosial yang berbeda-beda.

10. Memberikan penringatan kepada siswa yang melanggar tanpa hukuman.

Jika ada siswa yang berulah, beliau tidak memarahinya, namun memberikan penjelasan agar siswa tersebut mengerti akan kesalahannya. Ia percaya semua anak pada dasarnya baik, tidak perlu diberi hukuman atas ulahnya.

11. Setiap aktivitas belajar melibatkan daya pikir, emosi, psikomotorik, sains, dan biologi.

Menyerahkan siswa sepenuhnya pada alam. Misalnya, mengundang petani untuk hadir dan mengajarkan berocok tanam hingga panen.

Untuk perbekalan makan siang, Mr. Kobayashi selalu menyebut “sesuatu dari laut dan sesuatu dari gunung”. Ia juga mengajarkan siswa Tomoe untuk menciptakan lagu sederhana sehingga suasana makan siang mereka lebih ceria.

12. Menumbuhkan rasa percaya diri kepada siswa yang memiliki keterbatasan.

Untuk menumbuhkan rasa percaya diri, ia meminta Akira Takahashi, siswa laki-laki yang memiliki lengan dan tungkai kaki pendek (tubuhnya tidak dapat tumbuh lagi) untuk ikut lomba. Akira awalnya meragukan dirinya untuk dapat menang dalam lomba tersebut. Namun, Mr. Kobayashi sengaja mengatur agar Akiralah pemenangnya. Sejak saat itu, Akira tidak lagi ‘minder’ akan tubuhnya. Selain itu, saat kegiatan berenang di sekolah, seluruh siswa diminta untuk melepas seluruh busananya. Ini dilakukan agar semua merasa percaya diri akan tubuhnya sendiri.

13. Siswa bebas berkreasi.

Dikarenakan anak-anak cenderung suka mencoreti, ia menyediakan lantai khusus untuk hal tersebut. Dengan fasilitas itu, siswa bisa dengan leluasa mengekspresikan dirinya, tapi tetap tahu aturan.
kobayashi

14. Di Jepang, kedudukan laki-laki di atas anak perempuan.

Namun di Tomoe hal ini tidak terjadi. Setiap anak laki-laki akan tetap ditegur jika mengusili anak perempuan. Siswa dibiasakan untuk mengatakan “maaf” jika salah, menyertakan “tolong” jika butuh bantuan, dan “terima kasih”.

15. Beliau mengajarkan pelajaran musik khusus bernama Euritmik.

Euritmik adalah pendidikan tentang ritme/irama yang diciptakan oleh Emile Jaques Dalcroze, seorang guru musik berkebangsaan Perancis. Pelajaran ini banyak sekali manfaatnya, baik untuk tubuh maupun otak. Dengan mempraktikkan euritmik membuat kepribadian siswa menjadi kuat, indah, selaras dengan alam, dan taat hukum seperti ritmik.

Nah, itulah Cara Mendidik Siswa yang Baik ala Mr. Kobayashi, semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk Bapak/Ibu guru sebagai bahan referensi untuk meningkatkan kompetensi Anda dalam mendidik dan mengajar siswa di sekolah.

Bagi para Bapak/Ibu guru, mari coba cara inspiratif di atas agar cara mengajar jadi semakin variatif. Selamat mencoba!

Sumber : ruangguru[.]com

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *