Kalangan Pendidik Kudu Ngerti Apa itu Bullying

Mengenal Apa Itu Bullying di pakalangan Pelajar

Akhir-akhir ini banyak beredar berita mengenai kekerasan di kalangan pelajar, dan mengenal apa itu bullying. Hal ini tentu membuat kita merasa was-was. Sehingga ketika si kecil mengatakan bahwa ada temannya yang membuatnya menangis, kita segera merasa marah dan tidak terima. Lalu dengan segera mengangkat telpon, melapor pada guru atau orangtua lain. Atau langsung melabrak si teman.

Sebenarnya, sebelum bertindak karena menganggap si kecil dibully, kita harus mengetahui benar apakah benar telah terjadi bullying atau hanyak sekedar berkonflik dengan temannya atau bullying.

Perlu kita ketahui bahwa konflik merupakan hal yang biasa terjadi dalam kehidupan sosial, termasuk pada anak-anak. Oleh karena itu dibutuhkan sikap kritis orangtua dalam menghadapi laporan si kecil, cari tahu cerita yang sebenarnya, apakah telah terjadi bullying atau perselisihan biasa.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui orangtua untuk memastikan telah terjadi tindakan bullying, yaitu:

  • Bullying merupakan suatu perilaku agresif yang dilakukan seseorang, di mana terjadi ketidakseimbangan power. Dari seseorang yang ‘powerful’Bullying Pada Pelajar terhadap seseorang yang ‘powerless’. Misalnya jika ada anak diejek oleh anak lain, lalu anak yang diejek itu membalas, maka hal tersebut bukan bullying. Akan tetapi jika anak yang diejek itu takut dan minder, maka dapat dikatakan dia telah mengalami bullying.
  • Bullying dilakukan berulang-ulang. Jika saat itu ada anak yang marah pada temannya karena suatu hal, maka hal itu bukan bullying. Akan tetapi jika seorang anak terus menerus marah pada satu anak lain, dapat dikatakan hal itu merupakan indikasi tindakan bullying.
  • Bullying dilakukan dengan suatu tujuan atau intensi, yaitu membuat si korban terluka baik fisik maupun mental.

Ketiga hal tersebut (ketidakseimbangan power, berulang dan intensi) merupakan syarat terjadinya bullying. Oleh karena itu orangtua harus mengetahui batasan-batasannya agar tidak bertindak berlebihan menanggapi perselisihan si kecil dengan temannya. Dengan membiarkan si kecil menyelesaikan masalah dengan temannya, kita telah membantu mengasah kemampuan mereka dalam bersosialisasi, terutama problem solving, sehingga kecerdasan emosinya semakin cemerlang

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *