Begini Pada Anak Yang Sering Berkata Kasar

Begini Jika Anak Berkata Kasar

Jika anak sudah sering berkata kasar atau mengeluarkan makian, cara menghentikannya, orang tua harus bijak dan sabar memberi perhatian terhadap hal tersebut.

Kemudian, beri perhatian pada anak bahwa seorang anak yang baik tidak mengatakan hal tersebut. ”Yang paling penting adalah orang tua bersikap konsisten serta konsekuen untuk tidak memberi contoh memaki saat sedang marah,” jelas Psikolog Reni Kusumowardhani, M.Psi.

Reni mengakui, untuk menghentikan kebiasaan tersebut tidaklah mudah. Hingga tak jarang orang tua menjadi kesal saat menghadapi anaknya yang suka menyerapah.

Sebisa mungkin tidak melakukan hukuman fisik. Jika akan menerapkan hukuman, sebaiknya sudah ada perjanjian sebelumnya, sehingga anak paham alasan dia dihukum.

Berikut cara yang bisa dilakukan orang tua untuk menghentikan umpatan atau makian si kecil :

1. Biasakan untuk untuk tidak menggunakan kata-kata kasar dalam kehidupan sehari-hari. Ada baiknya sebagai orang tua selalu menjaga perkataan dalam percakapan sehari-hari, baik saat tenang maupun saat emosi. Selalu ingat, anak batita adalah peniru ulung.

2. Jika anak mendengar kata-kata kasar dari TV atau orang lain, jelaskan pada anak jika hal tersebut tidak baik, jadi anak yang baik juga tidak akan melakukannya. Ada baiknya dampingi anak ketika nonton televisi.

3. Jika orang tua terlepas bicara kasar atau memaki lalu anak mendengarkan kata-kata tersebut, segera minta maaf pada anak dan jelaskan bahwa yang dikatakannya tadi tidak baik.

4. Alihkan atau ganti dengan kata-kata yang lebih baik. Jika anak senang mengulang-ulang makian dan sumpah serapahnya, kita bisa mencoba ‘menawarkan’ kata-kata lain yang menarik untuk diulang.

Misalnya, kata-kata kasar yang biasa diucapkan anak, ‘puuussshh-ampussshh’, bisa dialihkan menjadi ‘puuusss, puusss, meooongg!’

Misalnya anak mengucapkan kalimat, ‘jelek kayak bebek’, bisa dinetralkan menjadi ‘bebek.. kwek-kwek’.

Jika anak suka mengulang kata-kata tertentu saat marah atau kesal, kita dapat mengajarkan kata-kata baru yang sekaligus mengenalkan nama emosi, misalnya ‘kesssaalll’ atau ‘seebbaaall’.

”Jangan lupa memuji jika si kecil telah mengucapkan kata-kata yang baik,” tegas Reni.

5. Jika anak terlanjur terbiasa memaki, buatlah perjanjian dengan anak dengan perangsang. Misalnya, jika ia bisa tidak memaki sampai waktu yang disepakati, maka akan ada sesuatu yang menyenangkan bagi anak, seperti diajak jalan-jalan atau dibuatkan makanan kesukaannya.

Sebaliknya, jika anak tetap memaki, buat kesepakatan mengenai konsekuensi yang harus dihadapi. Satu hal penting, jangan berikan sesuatu yang menyenangkan anak pada saat perilakunya buruk (memaki). Hal tersebut dapat melatih anak bahwa jika ia memaki ia tidak akan mendapatkan hal yang dia inginkan.

Hindari memberikan hukuman fisik, tapi menggantinya dengan hukuman seperti tidak boleh nonton acara TV kesukaannya atau tidak boleh bermain video game selama satu minggu.

6. Latih anak untuk mengekspresikan perasaan tidak nyaman dengan cara-cara yang lebih positif, misalnya membiasakan komunikasi dan mengajak anak untuk mau terlibat dalam aktivitas hobby yang positif.

Hargai perasaan anak, dengarkanlah jika ia senang curhat. Usahakan tidak saling menyalahkan namun mencari solusi bersama-sama. Hal tersebut dapat melatih anak untuk memiliki keterampilan problem solving yang baik. (Bunga Kusuma Dewi)

Baca Juga : RPL Bimbingan dan Konseling Kerjasama Antar Umat Beragama

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *